Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Suasana arus balik pasca lebaran mulai terasa di Terminal Rajabasa, Bandar Lampung pada H+1 Lebaran, Minggu (22/3/2026). Sejumlah pemudik mulai meninggalkan Bumi Ruwa Jurai untuk kembali ke perantauan.
Namun bagi Tri Rahayu, perjalanannya menuju kampung halaman justru baru dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri berlalu.
Membawa Koper dan kardus khas pemudik, Tri tampak baru saja menginjakkan kaki di Terminal Rajabasa, Bandar Lampung, setelah menempuh perjalanan jauh dari Solo, Jawa Tengah.
Setibanya di Terminal Rajabasa, Tri dijemput sang ibunda dan adik tercinta yang sudah menanti kedatangannya sejak sebelum bus yang ditumpangi tiba.
Rasa lelah Tri selama perjalanan dari Jawa Tengah seolah sirna saat menyadari sebentar lagi ia akan berkumpul dengan orang-orang tercinta di daerah Kemiling, Bandar Lampung.
Baca juga: Arus Balik H+1, Penumpang Sepeda Motor Mulai Berdatangan di Pelabuhan Bakauheni
Berbeda dengan pemudik umumnya yang berebut pulang sebelum hari-H Lebaran, Tri menceritakan alasan ia baru bisa menyapa keluarga di kampung halaman.
Tuntutan pekerjaan membuat Tri harus bersabar menahan rindu hingga hari kemenangan tiba.
"Kebetulan memang liburnya pas tanggal 21 Maret kemarin (hari-H), makanya belum bisa pulang," ujar Tri ditemui di Terminal Rajabasa.
Perempuan yang sudah tiga tahun mengadu nasib di Solo ini menceritakan bahwa ia baru bisa memulai perjalanan pada sore hari setelah melaksanakan salat Idul Fitri.
Meski kehilangan momen salat Id bersama keluarga besar, Tri mengaku menemukan sisi positif dari keputusannya ini.
Mudik di saat orang lain sudah sampai di tujuan memberikan pengalaman perjalanan yang jauh lebih nyaman.
"Seru sih. Enaknya itu sepi, lancar jalannya, di kapal juga enggak terlalu ramai, jadi enggak antre, lancar jalannya jadi cepat," ungkapnya dengan raut wajah lega.
Baginya, perjalanan yang bebas macet dan bebas antrean kapal sandar di pelabuhan menjadi balasan yang setimpal setelah setahun bekerja keras di perantauan.
Tak mau menyia-nyiakan waktu, Tri berencana menghabiskan waktu selama 9 hari di rumah sebelum akhirnya harus kembali lagi ke Solo.
"Senang banget, apalagi mau ketemu keluarga kan. Udah setahun sekali doang mudiknya, jadi bahagia bisa ketemu keluarga," tutupnya.
Kisah Tri Rahayu menjadi potret bahwa esensi mudik tak melulu soal tepat waktu di hari lebaran, melainkan tentang kualitas waktu bersama keluarga.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)