Sumarsono Perajin Kulit Justru Melarat saat Hari Lebaran, Dulu H+7 Ramai Kini Tinggal Kenangan
Ignatia Andra March 22, 2026 05:14 PM

Di tengah suasana lebaran, Sabtu (21/3/2026), Jalan Sawo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur -kawasan yang terkenal dengan produk sandal dan sepatu kulit belum juga ramai dikunjungi pembeli.

Jalan yang dahulu menjadi simpul ekonomi Megetan, kini terasa lengang, menyisakan suara alat produksi dari dalam ruang-ruang sempit.

TRIBUNJATIM.COM - Kondisi keuangan para perajin karya kulit baik sandal sepatu jaket hingga barang lainnya tampak makin menurun di masa saat ini.

Di tengah suasana lebaran, Sabtu (21/3/2026), Jalan Sawo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur -kawasan yang terkenal dengan produk sandal dan sepatu kulit belum juga ramai dikunjungi pembeli.

Deretan kios memang terbuka, sandal dan sepatu kulit tertata rapi di etalase, namun pembeli belum juga datang.

Jalan yang dahulu menjadi simpul ekonomi Megetan, kini terasa lengang, menyisakan suara alat produksi dari dalam ruang-ruang sempit.

Perjuangan para perajin

Para perajin tetap bekerja, seolah menolak berhenti, meski pasar belum sepenuhnya kembali.

Darmanto, perajin sandal yang telah menekuni usaha ini selama dua dekade, memilih bertahan dengan caranya sendiri.

Ia memulai usaha bukan dari warisan, melainkan dari inisiatif pribadi.

“Saya sudah sekitar 20 tahun. Ini bukan dari orangtua, saya mulai sendiri,” ujar dia.

Sudah sadar berubah

Di bengkelnya, sekitar 10 pekerja masih setia merakit sandal kulit.

Ia memahami betul ritme pasar yang berubah.

“Biasanya ramai itu lebaran kedua sampai seminggu setelahnya. Orang cari oleh-oleh,” kata dia.

Dengan harga Rp 25.000 untuk anak-anak dan Rp 45.000 untuk dewasa, ia menjaga produknya tetap terjangkau, sekaligus mempertahankan kualitas kulit asli Magetan yang menjadi ciri khas.

Namun, di balik upaya bertahan itu, tekanan terhadap perajin semakin terasa.

 Lihat Foto Kawasan produk kulit Jl Sawo Kabupaten Magetan semakin sepi pembeli. Minimnya sentuhan inovasi produk dan peningkatan sumbe daya manusia menjadi produk kulit terbaik dari Kabupaten Magetan semkain kalah bersaing dengan produsen dari tanggulangain dan kerajinankulit dari kota lainnya. Di era Presiden Soehrto dan SBY pendapatan pertoko di Jl Sawo sempat mencapai Rp 1 miliar pertahun. Saat ini pembeli semkain menurun setiap tahun.

Baca juga: Remisi Lebaran, Ratusan Warga Binaan Lapas Tuban Dapat Pengurangan Hukuman, 5 Langsung Bebas

Sumarsono, pemilik Toko Amanah, melihat penurunan ini sebagai proses panjang yang belum menemukan titik balik.

“Dulu H-7 sampai H+7 Lebaran itu ramai terus. Sekarang tidak seperti itu lagi, terutama sejak Covid,” ujar dia.

Ia mencatat, daya beli masyarakat yang melemah dan perputaran ekonomi daerah yang menurun menjadi faktor utama.

Bahkan, jenis usaha tertentu seperti jaket kulit hampir hilang.

“Sekarang tinggal satu dua perajin saja,” kata dia.

Lebih jauh, persoalan tidak hanya berhenti pada pasar.

Struktur produksi menjadi titik lemah yang terus membayangi.

Baca juga: Bola Terpopuler: 11 Pemain Incaran AC Milan Hingga Skuad yang Dicoret Pelatih Timnas Indonesia

Sumarsono menyoroti ketergantungan perajin pada bahan baku dan teknologi luar.

“Sol sepatu kita tidak bikin sendiri, harus beli dari pabrik dan jumlahnya besar. Itu berat di modal,” ujar dia.

Ketika model berubah cepat, perajin kesulitan mengikuti karena keterbatasan stok dan biaya.

Tempat lain lebih baik

Di sisi lain, daerah lain seperti Tanggulangin atau Mojokerto sudah lebih maju dengan teknologi produksi yang lebih efisien dan terintegrasi.

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya organisasi antarperajin. Tanpa asosiasi yang kuat, setiap pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri.

“Di sini tidak ada standar harga, tidak ada pembagian pesanan. Semua jalan sendiri,” kata Sumarsono.

Akibatnya, daya saing menjadi lemah, terutama ketika harus berhadapan dengan produk luar daerah hingga impor yang lebih murah dan variatif.

Meski demikian, ia tetap melihat peluang.

“Kekuatan kita itu kulit asli, kuat, dan relatif murah. Itu yang harus dijaga dan dikembangkan,” ujar dia.

Di tengah keterbatasan, para perajin mulai meraba perubahan, termasuk melalui pemasaran digital meski masih sederhana.

Perajin lain dijual di luar negeri

Darmanto, misalnya, mencoba menghidupkan kembali merek lama “Lili” dengan sentuhan desain baru agar tetap relevan.

Ia juga memperluas pasar hingga luar daerah bahkan luar negeri. Namun langkah-langkah ini masih berjalan sporadis, belum menjadi gerakan bersama yang terarah.

Jalan Sawo hari ini seperti berdiri di persimpangan—antara mempertahankan tradisi dan mengejar perubahan yang belum sepenuhnya terjangkau.

Momen lebaran ini mungkin belum membawa lonjakan pembeli, tetapi bagi para perajin, harapan belum benar-benar padam.

Mereka tetap bekerja, menjaga kualitas, sambil berharap ada momentum yang tepat.

Di balik kesunyian Jalan Sawo, ada ketekunan yang terus hidup—sebuah upaya panjang untuk memastikan bahwa kerajinan kulit Magetan tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.