TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Banjir melanda permukiman warga di Kampung Jati, Ciracas, Jakarta Timur, pada hari kedua Lebaran 2026, Minggu (22/3/2026). Kondisi ini membuat aktivitas silaturahmi warga terganggu di momen Hari Raya Idulfitri.
Ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga mencapai 150 sentimeter. Air dilaporkan mulai naik ke permukiman sejak Sabtu (21/3/2026).
Sejumlah warga tampak sibuk membersihkan rumah dari sisa genangan. Mereka terlihat mengepel lantai hingga menjemur barang-barang agar tidak rusak akibat banjir.
Di lokasi, petugas dari Koramil 03/Pasar Rebo turut bersiaga membantu warga. Mereka menyiapkan perahu karet untuk membantu mobilitas warga yang terjebak genangan.
Banjir yang terjadi sejak Sabtu malam membuat sejumlah warga terjebak di rumah masing-masing. Akibatnya, rencana berkumpul dengan keluarga saat Lebaran pun terpaksa dibatalkan.
Hal ini dirasakan Jaelani (62), warga RT 013/03 Kelurahan Rambutan, Ciracas. Ia mengaku batal mengunjungi anaknya di Cileungsi pada hari kedua Lebaran.
“Jadi memang sebetulnya kan hari kedua lebaran, kami punya rencana untuk pergi ke saudara, ke anak khususnya di daerah Cileungsi,” kata Jaelani.
Ia menyebut rencana tersebut sudah disiapkan sejak sore hari, bahkan ia berniat menginap. Namun hujan deras yang memicu banjir membuat rencana itu gagal.
“Bahkan kemarin sore sudah punya rencana untuk menginap juga di sana, tapi karena hujan deras kemudian sudah air naik, ya nggak jadi,” ujarnya.
Jaelani mengatakan, banjir membuat dirinya tidak bisa beraktivitas ke luar rumah. Ia harus fokus membersihkan rumah yang masih tergenang air.
“Ya karena terjadi banjir ini kami nggak bisa ke mana-mana,” ucapnya.
Jaelani mengungkapkan, banjir kali ini menjadi yang terparah sepanjang 2026. Padahal, ia mengaku sudah dua kali merasakan banjir dalam beberapa bulan terakhir.
“Ini juga kayak termasuk yang terparah juga, ini kan sudah yang kedua kali untuk tahun ini,” katanya.
Menurutnya, banjir mulai terjadi usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu malam. Air kemudian terus meningkat hingga mencapai sekitar satu meter di beberapa titik.
“Hampir mencapai satu meter di gang sini, lebih, satu meter lebih,” ujarnya.
Ia menyebut air bahkan sempat masuk ke dalam rumahnya hingga setinggi 50 sentimeter. Meski begitu, barang-barang berharga berhasil diamankan lebih awal.
“Ketika sudah air naik, kami siap-siapkan untuk menaikkan barang-barang terutama barang elektronik,” katanya.
Jaelani juga menyampaikan harapan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait penanganan banjir. Ia meminta adanya perbaikan infrastruktur, khususnya normalisasi kali.
“Untuk pemerintah DKI Jakarta mungkin diperbaiki infrastrukturnya terutama kali-kali yang sudah dangkal untuk diadakan pengerukan,” ucapnya.
Selain itu, ia menyoroti perlunya penataan lingkungan di bantaran kali. Menurutnya, bangunan di sekitar aliran sungai turut memperparah banjir.
“Kemudian pembenahan lingkungan warga di sekitar bantaran kali agar tidak menggunakan tanah sungai untuk diuruk,” ujarnya.
Jaelani menilai, langkah tersebut perlu dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia mengingatkan agar warga tidak membuang sampah sembarangan.
“Untuk warga seluruhnya agar membuang sampah itu harus tertib, karena saat air besar datang sampah banyak yang hanyut,” ucapnya.
Ia berharap, jika penanganan dilakukan secara menyeluruh, dampak banjir di wilayahnya tidak akan separah yang terjadi saat ini.