Balapan MotoGP Brasil 2026 di Sirkuit Goiania meninggalkan kesan tak menyenangkan bagi sejumlah pembalap.
Alex Rins hingga Marquez bersaudara, Alex dan Marc turut terkena efek buruknya lintasan Sirkuit Goiania yang berimbas dengan hasil balapan MotoGP Brasil yang tak maksimal.
Balapan MotoGP Brasil di Sirkuit Goiania ini sejatinya cukup dinanti-nanti mengingat ini adalah yang pertama sejak lebih dari dua dekade.
Namun balapan GP Brasil ini justru diwarnai kekacauan yang memicu kekhawatiran serius soal keselamatan pembalap.
Sirkuit Goiania mengalami berbagai masalah sejak awal pekan, mulai dari banjir akibat hujan deras hingga munculnya lubang besar (sinkhole) di lintasan utama yang memaksa penundaan sesi sprint.
Masalah tak berhenti di situ. Pada hari balapan utama, penyelenggara secara mendadak memangkas jarak lomba dari 31 lap menjadi 23 lap hanya lima menit sebelum start.
Keputusan ini diambil karena kondisi lintasan yang disebut mengalami “track degradation”, terutama di tikungan 11 dan 12.
Pemasok ban Michelin bahkan mengonfirmasi bahwa permukaan aspal mulai “hancur dan terkelupas” setelah digunakan dalam balapan Moto2 dan Moto3.
Situasi ini langsung berdampak ke para pembalap MotoGP ketika membalap di lintasan sepanjang 3,835 kilometer.
Alex Rins mengungkapkan bahwa dirinya terkena serpihan aspal yang terlempar saat lap pembuka. Ia bahkan mengalami cedera di jarinya akibat insiden tersebut.
"Apa yang saya rasakan adalah grip yang sangat rendah. Dan memang ada potongan aspal yang mengenai jari saya," ujar Rins, dikutip dari laman Motorsports.
"Tanyakan saja jari saya bagaimana rasanya batu-batu itu terbang di tikungan 11 dan 12. Itu terjadi di awal balapan. Tidak menghentikan saya, tapi cukup mengganggu karena saya mengerem dengan jari itu," kata dia.
Keluhan serupa juga datang dari Alex Marquez yang menyebut kondisi lintasan "tidak bisa diterima".
Pembalap Gresini itu menggambarkan bagaimana aspal di beberapa titik benar-benar terkelupas dan berubah menjadi kerikil.
"Antara tikungan 10 dan 11, aspal benar-benar terlepas, penuh batu. Jujur, ini kondisi yang cukup tidak bisa diterima," kata Alex Marquez.
Ia bahkan menyebut sensasinya seperti balapan motocross, alih-alih balapan di lintasan beraspal.
"Kalau ada pembalap di depan, mereka melempar batu ke arahmu. Rasanya lebih seperti motocross daripada balapan kecepatan," katanya.
Alex juga mengungkap bahwa dirinya sempat meminta penundaan start kepada Direktur olahraga Gresini Michele Masini agar ada waktu untuk menyesuaikan setelan motor dan ban.
Namun, permintaan itu tidak dikabulkan meski perubahan jumlah lap dilakukan mendadak.
"Ada empat menit tersisa sebelum lap pemanasan, dan saat itulah mereka memberi tahu saya tentang perubahan. Kami tidak memiliki informasi apa pun," kenangnya.
"Saya memberi tahu Michele Masini untuk meminta start yang tertunda sehingga kami dapat memeriksa elektronik dan ban, tetapi mereka memutuskan itu tidak sepadan," ujar Alex.
Tak hanya itu, juara dunia bertahan Marc Marquez juga terkena dampaknya. Ia kehilangan peluang podium setelah melakukan kesalahan di area lintasan yang rusak.
"Di balapan tadi, sebenarnya saya bisa naik podium. Tapi saya membuat kesalahan di tikungan di mana aspalnya mulai terlepas," ujar Marc.
Ia menambahkan bahwa dirinya hampir terjatuh karena kehilangan grip di bagian tersebut.
Insiden tersebut terjadi saat Marquez baru saja menyalip Fabio Di Giannantonio untuk posisi ketiga.
Namun di lap berikutnya, ia melebar di tikungan 11/12—area yang paling terdampak kerusakan lintasan—dan kehilangan posisi podium.
"Di tempat di mana aspal terkelupas hari ini, tampaknya ada lebih banyak kerikil di setiap putaran. Di situlah saya kehilangan podium saya."
Masalah lintasan ini menjadi akumulasi dari berbagai persoalan sepanjang akhir pekan.
Meski balapan tetap berjalan hingga finis, kritik keras dari para pembalap menjadi sinyal serius bagi penyelenggara dan FIM.
Evaluasi besar tampaknya wajib dilakukan jika Brasil ingin tetap menjadi bagian dari kalender MotoGP di masa depan.