TRIBUNNEWSMAKER.COM - Krisis energi global kini bukan lagi sekadar ancaman jauh, melainkan realitas yang mulai terlihat di depan mata seiring memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran serius karena kawasan konflik berada di sekitar jalur vital distribusi energi dunia, termasuk Selat Hormuz yang menjadi urat nadi pasokan minyak global.
Setiap sinyal eskalasi langsung mengguncang pasar, mendorong harga minyak naik tajam dalam waktu singkat akibat ketidakpastian pasokan.
Ancaman saling serang dan potensi gangguan jalur pelayaran membuat negara-negara pengimpor energi bersiap menghadapi lonjakan biaya yang tak terhindarkan.
Para pelaku pasar mulai berspekulasi bahwa harga minyak bisa melonjak drastis jika konflik berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Kenaikan harga energi ini berisiko memicu efek domino, mulai dari inflasi tinggi hingga kenaikan harga kebutuhan pokok di berbagai negara.
Tidak hanya itu, sektor industri dan transportasi juga akan terdampak besar akibat membengkaknya biaya operasional.
Jika ketegangan terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, dunia berpotensi memasuki babak baru krisis energi yang lebih dalam dan luas dampaknya.
Baca juga: Analis Sebut Hanya Paus Leo yang Didengar Trump, Bisa Jadi Penentu Berakhirnya Perang AS vs Iran
Sepewrti dikerahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau menghadapi ancaman serangan terhadap fasilitas pembangkit listriknya.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (23/3/2026), peringatan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu (21/3/2026), saat konflik memasuki pekan keempat tanpa tanda mereda.
Trump menuntut Iran membuka jalur pelayaran vital tersebut “sepenuhnya tanpa ancaman”, di tengah tekanan untuk menurunkan lonjakan harga minyak global.
Iran merespons keras ultimatum tersebut. Televisi pemerintah Iran melaporkan, jika fasilitas energinya diserang, Teheran akan menutup Selat Hormuz “secara total”.
Jalur strategis ini pada praktiknya sudah terganggu sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, meski sebagian kapal dari negara tertentu masih bisa melintas.
Militer Iran juga memperingatkan akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS dan Israel di kawasan.
Ketua parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf bahkan menyebut kantor pusat dan aset lembaga keuangan pembeli obligasi pemerintah AS sebagai “target sah”.
Retorika keras kedua pihak menunjukkan tidak ada yang siap mundur, sementara konflik telah memicu krisis pasokan minyak dan gas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Serangan terhadap infrastruktur energi dalam sepekan terakhir juga memperbesar risiko dampak jangka panjang terhadap ekonomi global.
Di dalam negeri AS, eskalasi konflik ini mulai memicu kekhawatiran, termasuk di kalangan Partai Republik.
Senator Alaska Lisa Murkowski menilai serangan terhadap target energi berpotensi meningkatkan konflik ke level lebih berbahaya, apalagi jika melibatkan pengerahan pasukan darat.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan serangan terhadap Iran bertujuan melumpuhkan pertahanan di sekitar Selat Hormuz.
Ia menegaskan Trump akan mengambil langkah apa pun, termasuk menghancurkan angkatan udara dan laut Iran serta mencegah negara itu memiliki senjata nuklir.
Gangguan pasokan energi diperkirakan tidak akan pulih cepat, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka.
Banyak fasilitas produksi mengalami kerusakan, sementara hambatan distribusi juga memicu kelangkaan pupuk dan nutrisi tanaman yang berpotensi mengganggu produksi pangan.
Pada Minggu (22/3/2026), AS dan Israel kembali menyerang sejumlah titik di Iran, termasuk wilayah sekitar Teheran. Sebaliknya, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk Arab.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan target militernya adalah menghancurkan program nuklir dan rudal Iran sepenuhnya.
Ia juga menyebut Israel ingin menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menggulingkan kepemimpinan mereka.
Namun, pejabat Barat menilai rezim Iran belum berada di ambang kejatuhan. Intelijen Barat menyebut para pejabat Iran justru semakin solid mendukung kepemimpinan yang ada.
Sejauh ini, lebih dari 4.000 orang dilaporkan tewas di kawasan akibat konflik, dengan lebih dari tiga perempat korban berada di Iran. Di Lebanon, korban tewas telah melampaui 1.000 orang, sementara puluhan korban juga tercatat di Israel dan negara-negara Arab.
Presiden Lebanon Joseph Aoun memperingatkan serangan Israel terhadap infrastruktur di selatan Lebanon bisa menjadi awal invasi darat.
Di sisi lain, serangan rudal Iran ke Israel meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu, sekitar 115 orang terluka di kota Arad dan Dimona, yang dikenal sebagai lokasi fasilitas riset nuklir Israel.
Media Iran menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan ke fasilitas nuklir Natanz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sejak konflik memanas, lalu lintas di jalur ini praktis terhenti.
Harga minyak Brent melonjak di atas 112 dollar AS per barel, level tertinggi dalam hampir empat tahun. Kenaikan harga juga terjadi pada bensin di AS, pupuk, dan berbagai logam yang distribusinya bergantung pada jalur tersebut.
Meski demikian, beberapa negara masih menemukan cara untuk melintas. Angkatan Laut Iran dilaporkan mengawal kapal tanker LPG asal India melewati selat tersebut setelah adanya pendekatan diplomatik.
Sejauh ini, AS dan Israel relatif menghindari serangan langsung ke pembangkit listrik dan fasilitas air Iran. Namun, Israel sempat menyerang depot bahan bakar di Teheran dua pekan lalu, memicu hujan asam dan kritik terselubung dari AS.
Iran memiliki sekitar 100 pembangkit listrik berbasis gas yang beroperasi, termasuk fasilitas besar di Damavand dekat Teheran, Ramin di Ahvaz, dan Kerman di tenggara.
Ketegangan semakin meluas ke sektor energi regional. Israel menyerang ladang gas South Pars, sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas LNG terbesar dunia di Qatar.
Sejak konflik dimulai, harga minyak global telah melonjak lebih dari 50 persen, memicu kekhawatiran inflasi global. Lonjakan harga energi, terutama bensin, juga menjadi risiko politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)