Utang Puasa Ramadan atau Puasa Syawal Dulu? Ini Penjelasan Ulama yang Perlu Diketahui
Amirullah March 23, 2026 02:03 PM

SERAMBINEWS.COM – Setelah momen Idulfitri berlalu, sebagian umat Islam justru dihadapkan pada dilema yang cukup sering muncul tiap tahun: mendahulukan puasa Syawal atau menyelesaikan utang puasa Ramadan.

Di tengah suasana ibadah yang masih terasa hangat, pertanyaan ini jadi penting.

Sebab, salah langkah dalam menentukan prioritas bisa membuat amalan yang dijalankan kurang tepat.

Para ulama sepakat bahwa kewajiban tetap harus didahulukan.

Artinya, bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan, penyelesaiannya tidak bisa ditunda demi mengejar amalan sunnah.

Hal ini karena puasa Ramadan belum dianggap sempurna jika masih ada hari yang belum diganti.

Abdul Somad menegaskan bahwa utang puasa harus dibayar terlebih dahulu.

Setelah kewajiban tersebut ditunaikan, barulah puasa Syawal bisa dijalankan untuk meraih keutamaannya.

Baca juga: Mutilasi di Samarinda, Suimih Dihabisi Suami 5 Jam Jelang Salat Id, Dipotong Jadi 7 Bagian

Meski begitu, dalam kondisi tertentu misalnya karena keterbatasan waktu atau kemampuan ada kelonggaran bagi umat untuk tetap berpuasa dengan niat qadha sambil berharap mendapatkan pahala tambahan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ammi Nur Baits, yang menekankan bahwa seseorang belum sepenuhnya menyelesaikan Ramadan jika masih memiliki utang puasa.

Karena itu, puasa Syawal sebaiknya dilakukan setelah kewajiban tersebut rampung.

Pendapat ini diperkuat oleh Muhammad ibn Salih al-Uthaymeen yang menyatakan bahwa keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal hanya berlaku bagi mereka yang telah menyempurnakan puasa Ramadan secara utuh, termasuk mengganti hari yang terlewat.

Sementara itu, untuk puasa sunnah lain yang tidak berkaitan langsung dengan Ramadan, masih diperbolehkan dikerjakan selama waktu qadha masih cukup panjang.

Namun jika waktu semakin sempit, maka kewajiban qadha tetap menjadi prioritas utama yang harus didahulukan.

Baca juga: Stok BBM Indonesia di Tengah Ancaman Krisis Energi, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 200 Dolar AS

Berikut niat yang dapat diamalkan:

Niat Puasa Syawal:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Jika dilakukan di siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.”

Niat Qadha Puasa Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat mengqadha puasa Ramadan esok hari karena Allah SWT.”

Saat berbuka, dianjurkan membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”

Dengan demikian, setelah Idul Fitri 2026, umat Islam dianjurkan untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban qadha sebelum melaksanakan puasa Syawal agar ibadah lebih sempurna dan sesuai tuntunan.

(Serambinews.com/TribunNewsmaker/SriwijayaPost)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.