TRIBUNNEWSMAKER.COM - Perbedaan waktu pelaksanaan puasa Syawal kerap memunculkan kebingungan di tengah umat Islam. Ada yang memilih langsung memulai setelah Lebaran, ada pula yang menundanya beberapa hari. Ternyata, perbedaan ini memang memiliki dasar dari pandangan para ulama.
Yahya Zainul Ma'arif atau yang dikenal sebagai Buya Yahya pernah menjelaskan hal tersebut dalam sebuah kajian. Ia menyoroti adanya perbedaan pandangan antar mazhab terkait waktu terbaik menjalankan puasa sunnah Syawal.
Penjelasan Buya Yahya
Menurut Buya Yahya, dalam pandangan mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi'i, puasa Syawal memiliki anjuran kuat untuk segera dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya mulai tanggal 2 Syawal dan dilakukan secara berurutan selama enam hari.
"Penjelasan dari Faatbaahu Sittan, puasa 6 Syawal itu disunnahkan, menurut Imam Syafi'i disunnahkan di atas sunnah sangat dikukuhkan, jika ditanggal ke-2 berurutan sampai tanggal ke-6. Itu dalam mazhab Imam Syafi'i radhiallahu 'anhu," kata Buya Yahya.
Namun, tidak semua ulama memiliki pandangan yang sama. Buya Yahya menjelaskan bahwa mazhab lain, seperti yang dipelopori Malik ibn Anas, justru tidak menganjurkan untuk langsung memulai puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal.
Dalam pandangan ini, memulai puasa tepat setelah Idulfitri dianggap makruh karena dikhawatirkan akan menimbulkan anggapan bahwa puasa tersebut bersifat wajib.
"Jadi kalau Anda kenal yang Mazhab Maliki, tidak langsung (puasa) hari ke-2, 3, 4 nanti," lanjut Buya Yahya.
Meski demikian, Buya Yahya menegaskan bahwa bagi pengikut mazhab Syafi’i, pelaksanaan puasa Syawal tetap fleksibel. Tidak harus dimulai pada tanggal 2 Syawal, selama masih berada dalam bulan Syawal, puasa tersebut tetap sah dan bernilai sunnah.
Baca juga: Sebelum Puasa Syawal Apakah Harus Bayar Utang Puasa Ramadan Dulu? Simak Menurut Ulama
"Menurut apa yang saya ketahui, menurut Imam Syafi'i dijelaskan, setelah hari raya, lebaran sehari, kemudian puasa lagi," terangnya.
"Kalaupun kita orang Mazhab Imam Syafi'i, pengen puasanya nanti setelah tanggal 7 saja deh, boleh ga masalah dan tidak dikatakan tidak sunnah dalam Mazhab Syafi'i," pungkasnya.
Dengan demikian, perbedaan waktu pelaksanaan puasa Syawal bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Yang terpenting adalah menjalankannya dengan niat yang tulus selama masih berada dalam bulan Syawal.
Setara dengan Pahala Puasa Satu Tahun Penuh
Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan disetarakan dengan puasa sepanjang tahun. Hal ini ditegaskan dalam hadis berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh." (HR Muslim).
Karena hanya bisa dilakukan setahun sekali, amalan ini menjadi kesempatan berharga yang sayang untuk dilewatkan.
Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
Selain pahala besar, puasa Syawal juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini memiliki kedudukan istimewa sebagaimana dijelaskan dalam hadis Qudsi berikut:
“Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu).” Kemudian, Rasulullah melanjutkan, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi.” (HR. Muslim)
Pahala yang Berlipat Ganda
Puasa Syawal juga memberikan ganjaran berlipat, terutama jika dilakukan selama enam hari. Keutamaannya dijelaskan dalam hadis berikut:
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. (Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal).” (HR. Ibnu Majah)
Dibersihkan dari Segala Dosa
Dengan niat yang tulus, puasa Syawal juga diyakini dapat menjadi jalan penghapus dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu menyambungnya dengan enam hari puasa bulan Syawal, maka ia dianggap bersih dari dosanya (dibersihkan dari segala doanya) seperti anak yang baru lahir (dilahirkan) ibunya.” (H.R. Muslim)
Dengan berbagai keutamaan tersebut, puasa Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi juga kesempatan untuk menjaga konsistensi iman sekaligus meraih pahala besar setelah Ramadan. (TribunNewsmaker/TribunSumsel)