Grid.ID – Motif pembunuhan cucu komedian Mpok Nori, Dwinta Anggary, akhirnya terungkap. Polisi menyebut aksi tersebut dipicu rasa cemburu dari suami siri korban, FTJ, yang merupakan warga negara Irak.
Panit 2 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKP Fechy J Ataupah, mengatakan pelaku gelap mata setelah melihat korban bersama pria lain.
"Berdasarkan pemeriksaan yang kami lakukan kepada pelaku, dugaan karena rasa cemburu," tegas AKP Fechy di Polda Metro Jaya, Senin (23/3/2026).
Peristiwa bermula saat pelaku melihat korban berjalan dengan pria lain di bazar Ramadan. Rasa cemburu semakin membara ketika pelaku mendapati korban berduaan dengan pria lain di kamar kosnya.
"Sekitar pukul 22.00 malam, pelaku datang lagi ke kosnya korban, dan didapati bahwa di dalam kos korban lagi berduaan dengan pria yang tadi ditemui di bazar," jelasnya.
Pelaku sempat mengamuk dan diusir oleh korban, lalu pulang ke kosnya. Namun emosinya tidak reda dan justru semakin memuncak.
"Di kosnya dia merenung, emosinya sudah tidak tertahan, dia kembali lagi ke kos korban," lanjut AKP Fechy.
Saat pelaku kembali ke kosan korban, pria tersebut sudah tidak ada. Pertengkaran kembali terjadi hingga berujung kekerasan yang berakibat fatal.
"Cekcok, cekcok, terus sama dia dicekik. Dicekik, dipiting ya. Karena korban melawan, dia panik, dia takut, diambil pisau terus disayat lehernya," ungkapnya.
Setelah itu, pelaku juga membawa ponsel korban. Tujuannya karena dalam ponsel tersebut terdapat bukti perselingkuhan korban.
"Jadi alasan pelaku membawa ponsel korban karena menurut dia di situ ada bukti perselingkuhan si korban," tutup AKP Fechy.
Diketahui, Dwinta ditemukan tewas di kamar kontrakannya di Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu (21/3/2026) dini hari. Ia dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, berdampingan dengan makam Mpok Nori.
Dari rekaman CCTV, pelaku terlihat datang sekitar pukul 00.03 WIB, lalu keluar beberapa menit kemudian sambil membawa karpet dan meninggalkan lokasi.
Kurang dari 24 jam setelah tragedi berdarah tersebut, pelaku berhasil ditangkap polisi di rest area Tol Tangerang–Merak saat hendak kabur ke Sumatera.