TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- SMP Katolik (SMPK) Sanctissima Trinitas Hokeng di Flores Timur, NTT, bukan sekadar institusi pendidikan bagi para alumninya.
Sekolah yang berdiri sejak 1958 ini dinilai menjadi fondasi kuat dalam pembentukan karakter, terutama dalam hal kemandirian dan pengelolaan emosi.
Hal ini terungkap dalam bincang-bincang Flores Bicara yang menghadirkan dua alumni berprestasi, yakni praktisi psikologi sekaligus Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Andriani Elay, dan Pendamping Perhutanan Sosial di Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Franciscus Robson.
Baca juga: Kisah Terakhir Siswa dan Guru SMPK Sanctissima Trinitas Hokeng saat Hari Guru, Ada Air Mata dan Maaf
Pentingnya Regulasi Emosi sejak Dini
Andriani Elay, yang telah menjadi praktisi psikologi selama 20 tahun, mengenang masa remajanya di asrama Sanctissima sebagai fase krusial dalam belajar beradaptasi. Menurutnya, pengalaman jauh dari orang tua melatihnya untuk mengelola rasa rindu dan kesepian.
Ia juga menyoroti fenomena kesehatan mental di NTT yang sering kali berakar dari pola asuh keluarga. Andriani menyebutkan bahwa masyarakat cenderung mengabaikan keadaan emosional anak.
"Salah satu contoh sederhana, ketika anak menangis, orang tua sering merespons dengan meminta anak diam. Padahal, menangis adalah cara mengekspresikan apa yang ada dalam diri, bukan hal negatif," ujar Andriani dalam podcast Tribun Flores, dikutip Senin (23/3/2026).
Menurutnya, keterampilan regulasi emosi harus dilatih sejak lahir. Jika lingkungan hanya memenuhi kebutuhan fisik namun mengabaikan kebutuhan psikis, anak akan kesulitan memecahkan masalah saat dewasa.
Baca juga: Suster Lidwin Maria Sedih SMPK Sanctissima Hokeng di Kaki Lewotobi Ditutup Permanen
Relasi Guru dan Murid sebagai Sahabat
Senada dengan Andriani, Franciscus Robson yang merupakan alumni tahun 2004, merasakan dampak positif dari pola pendekatan guru di Sanctissima. Ia menyebut para pengajar tidak hanya memosisikan diri sebagai otoritas, tetapi juga sebagai teman dan sahabat.
"Pola pendekatan mereka membuat kami nyaman. Kami tidak merasa ada jarak dengan guru, sehingga setiap persoalan bisa dibicarakan secara terbuka," kenang Robson yang kini aktif mendampingi kelompok tani di Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura.
Pengalaman dididik dengan karakter yang kuat di sekolah tersebut kini ia implementasikan dalam pekerjaannya. Robson saat ini fokus memfasilitasi masyarakat untuk meningkatkan ekonomi melalui pengelolaan hasil hutan, seperti pengolahan mete menjadi produk bernilai tambah seperti sirup dan abon.
Harapan Pascaerupsi
Mengingat SMPK Sanctissima Trinitas Hokeng merupakan salah satu sekolah yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada 2024 lalu, para alumni berharap sekolah ini dapat segera bangkit.
"Sekolah ini harus berdiri kembali. Ini mimpi besar kami sebagai alumni agar sekolah ini tetap bisa melahirkan putra-putri daerah yang berprestasi seperti puluhan tahun sebelumnya," pungkas Robson.