GridOto.com - Fabio Quartararo nampaknya berhasil menaklukkan mesin Yamaha V4 terbarunya dengan meraih posisi keenam pada Sprint MotoGP Brasil, Sabtu.
Namun berbeda dengan dua rider Pramac Racing, Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller yang justru terpuruk di posisi belakang.
Secara teori, perbedaan performa ini dipengaruhi pilihan ban.
Duo Pramac menggunakan ban belakang medium, sedang Quartararo dan mayoritas pebalap lain memilih ban soft.
Namun, Razgatlioglu dan Miller ternyata juga kesulitan dengan ban depan hard yang dipakai seluruh pembalap.
Masalah Razgatlioglu bertambah saat start.
Meski memulai balapan dari posisi ke-12 usai lolos langsung ke Q2, ia langsung merosot hingga posisi ke-21.
“Hari ini sangat sulit dan cukup membuat frustrasi, karena beberapa masalah yang kami alami tidak mudah dipahami,” ujar Razgatlioglu menukil Crash.net.
Ia menjelaskan, saat start dirinya mengalami kendala mirip seperti di Thailand, bahkan lebih parah.
Tenaga motor terasa hilang saat melepas kopling, sehingga start menjadi buruk dan langsung tertinggal jauh.
Setelah itu, ia mencoba mengejar posisi, namun kesulitan karena grip ban kurang.
Bahkan di lintasan lurus, bagian depan motor terasa tidak stabil sehingga sulit berkendara dengan percaya diri.
“Dibanding kemarin, ketika feeling motor lebih baik, hari ini justru terasa mundur. Ini yang harus kami analisis,” tambahnya.
Sementara itu, Miller yang start dari posisi ke-18 sempat berada di depan Razgatlioglu di awal lomba. Namun ia mengalami masalah serupa dan akhirnya disalip rekan setimnya di akhir balapan.
Keduanya kemudian kembali disalip Franco Morbidelli dan Enea Bastianini, hingga harus finis di posisi terakhir. Mereka tertinggal 23 detik dari pemenang balapan Marc Marquez, serta 15 detik dari Quartararo.
Miller mengakui balapan berjalan sulit sejak awal.
“Masalah utamanya adalah understeer yang cukup parah, dan keseimbangan motor belum sesuai harapan,” ujarnya.
Ia juga mengeluhkan kurangnya rasa percaya diri pada ban depan, yang terasa mudah mengunci saat dipaksa lebih kencang.
Menatap balapan utama hari Minggu, Miller berharap kondisi hujan bisa membantu.
“Kalau hujan, mungkin bisa sedikit membantu. Tapi target kami tetap tampil kompetitif di segala kondisi, terutama saat kering,” katanya.
Direktur tim Pramac, Gino Borsoi, menilai balapan ini memang sangat sulit bagi timnya.
Ia menyebut masalah utama ada pada kurangnya grip, baik di ban belakang maupun depan.
Menurutnya, penggunaan ban medium sebenarnya disiapkan untuk balapan utama, namun ternyata kurang cocok untuk kondisi sprint.
“Kalau pakai ban soft mungkin sedikit lebih baik, tapi tidak akan banyak mengubah hasil secara keseluruhan,” jelasnya.
Meski begitu, tim tetap melihat sisi positif dari data yang didapat untuk evaluasi ke depan.
Di sisi lain, motor Yamaha V4 juga masih mengalami kendala pada kecepatan puncak.
Razgatlioglu mencatat top speed terendah, yakni 337,5 km/jam, jauh di bawah Ducati milik Marc Marquez yang mencapai 348,3 km/jam.