Natanz Iran Diserang: Bagaimana Situs Nuklir yang Rusak Dapat Menimbulkan Risiko Radiasi
Wahyu Gilang Putranto March 24, 2026 03:18 AM


TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat dan Israel telah menyerang situs nuklir utama Iran, Natanz, pada Sabtu (21/3/2026).

Pejabat Iran menyatakan tidak ada pelepasan material radioaktif dan tidak ada bahaya bagi masyarakat.

Situs tersebut terletak sekitar 220 km dari ibu kota Teheran.

Ini bukan serangan pertama terhadap Natanz.

Lokasi ini juga menjadi sasaran selama perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.

Iran diyakini memiliki sekitar 400 kg uranium yang sangat diperkaya, yang menurut negara-negara Barat berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.

NATANZ DAN KERAMANASHAH. – Kolase Tribunnews.com, Senin (16/6/2025). Citra satelit Maxar, 14 Juni 2025 (kiri), Fasilitas nuklir Natanz di Iran tampak mengalami kerusakan berat, termasuk gardu listrik dan bangunan pengayaan bahan bakar yang hancur akibat serangan udara. – Citra satelit Planet Labs, 7 dan 14 Juni 2025. (kanan), Perbandingan sebelum dan sesudah serangan menunjukkan bekas luka bakar luas di pangkalan rudal Kermanshah, Iran, yang menjadi target serangan militer.
NATANZ DAN KERAMANASHAH – Kolase Tribunnews.com, Senin (16/6/2025). Citra satelit Maxar, 14 Juni 2025 (kiri), Fasilitas nuklir Natanz di Iran tampak mengalami kerusakan berat, termasuk gardu listrik dan bangunan pengayaan bahan bakar yang hancur akibat serangan udara. (Kolase Tribunnews.com/Maxar/Planet Labs)

Bahayanya Radiasi Nuklir

Mengutip NDTV, penghancuran situs tersebut dapat bertindak seperti “bom kotor”, yakni menyebarkan material radioaktif ke area yang luas dan mengancam kehidupan serta kesehatan manusia.

Namun, serangan terbaru AS dan Israel menunjukkan bahwa skenario terburuk sejauh ini berhasil dihindari.

Bahaya paling serius berasal dari kerusakan pada reaktor nuklir.

Saat reaktor beroperasi, fisi nuklir menghasilkan produk sampingan yang sangat radioaktif seperti Caesium-137, Strontium-90, dan Iodin-131.

Jika terlepas ke lingkungan, zat-zat ini dapat menyebar luas.

Iodin-131 sangat berbahaya.

Baca juga: Iran Umumkan AS-Israel Serang Fasilitas Nuklir Natanz, Tak Ada Kebocoran Bahan Radioaktif

Jika terhirup atau tertelan, zat ini dapat menumpuk di kelenjar tiroid dan secara signifikan meningkatkan risiko kanker, terutama pada anak-anak.

Uranium, terutama dalam tingkat pengayaan tinggi, juga memancarkan radiasi, termasuk sinar gamma yang dapat menembus tubuh manusia dan merusak DNA.

Selain itu, uranium merupakan logam berat beracun yang dapat merusak organ seperti ginjal, bahkan tanpa paparan radiasi dalam jumlah besar, menurut laporan NYT.

Di lokasi pengayaan nuklir seperti Natanz, uranium dinilai kurang berbahaya secara langsung dibandingkan produk sampingan dari reaktor.

“Serangan terhadap lokasi pengayaan di Iran tidak menimbulkan bahaya yang sama seperti kecelakaan pada reaktor nuklir yang berfungsi,” kata Simon Middleburgh, profesor teknik nuklir di Institut Masa Depan Nuklir, Universitas Bangor, Inggris, kepada Majalah Time.

Paddy Regan, profesor fisika nuklir di Universitas Surrey, Inggris, menambahkan, “Uranium itu sendiri tidak terlalu radioaktif.”

Namun demikian, risiko tetap ada.

Uranium yang sangat diperkaya memancarkan radiasi alfa, beta, dan gamma.

Uranium juga merupakan logam berat beracun, mirip dengan timbal.

Jika tertelan, zat ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gagal ginjal.

Debu uranium yang terhirup dapat mengendap di paru-paru dan memicu penyakit jangka panjang seperti fibrosis.

Para ahli juga memperingatkan bahaya kimia. Proses pengolahan uranium dapat menghasilkan gas beracun seperti uranium heksafluorida dan hidrogen fluorida.

“Saya ingin memperjelas sepenuhnya,” kata Rafael Mariano Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Hantaman langsung dapat mengakibatkan pelepasan radioaktivitas yang sangat tinggi ke lingkungan,” ujarnya, merujuk pada lokasi reaktor.

Mengenal Kemampuan Nuklir Iran dan Fasilitas Utamanya

Dilansir Business Standard, program nuklir Iran dimulai sejak 1950-an ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi meluncurkannya dengan dukungan Amerika Serikat melalui inisiatif “Atom untuk Perdamaian”.

Perjanjian kerja sama nuklir sipil ditandatangani pada 1957.

Pada 1967 Iran mendirikan Pusat Penelitian Nuklir Teheran dengan reaktor penelitian yang dipasok AS.

Namun, AS menarik dukungannya setelah Revolusi Islam 1979 yang membawa rezim teokratis berkuasa.

Penyelidikan selama satu dekade oleh IAEA menemukan bahwa Iran melakukan berbagai aktivitas terkait pengembangan perangkat peledak nuklir dalam Proyek Amad antara 1989 hingga 2003.

Beberapa aktivitas disebut berlanjut hingga 2009, tetapi kemudian tidak ditemukan indikasi kredibel mengenai program senjata aktif setelah periode tersebut.

Dalam kesepakatan nuklir 2015 yang dinegosiasikan pada masa pemerintahan Barack Obama, Iran diizinkan memperkaya uranium hingga 3,67 persen, jumlah yang cukup untuk keperluan sipil, tetapi jauh di bawah 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Namun, setelah AS menarik diri dari kesepakatan tersebut pada masa Donald Trump, proses diplomasi kembali terhambat.

Pada Juni tahun lalu, IAEA melaporkan bahwa Iran telah menimbun uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen, mendekati level senjata nuklir.

Badan tersebut juga menyebut Iran memiliki cukup material untuk secara teoritis membuat beberapa bom nuklir, jika memutuskan untuk melakukannya.

Iran selama ini membantah memiliki ambisi senjata nuklir dan menyatakan programnya bertujuan damai.

Situs-situs Nuklir Utama Iran

  • Fasilitas Pengayaan Natanz

Terletak sekitar 220 km di tenggara Teheran, Natanz merupakan pusat pengayaan uranium utama Iran.

Fasilitas ini mencakup Pabrik Pengayaan Bahan Bakar (FEP) bawah tanah dan Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Percontohan (PFEP) di atas tanah.

FEP dirancang untuk skala besar dan mampu menampung hingga 50.000 sentrifugal.

Sekitar 16.000 unit telah terpasang, dengan 13.000 di antaranya beroperasi, memperkaya uranium hingga sekitar 5 persen.

Fasilitas ini berada jauh di bawah tanah, sehingga relatif sulit dihancurkan, meskipun pernah mengalami sabotase, termasuk ledakan dan pemadaman listrik pada 2021 yang dituduhkan Iran kepada Israel.

PFEP yang lebih kecil digunakan untuk pengayaan tingkat tinggi hingga 60 persen.

  • Fasilitas Pengayaan Fordo

Fordo terletak sekitar 100 km barat daya Teheran dan dibangun di dalam gunung dekat Qom, sehingga sangat terlindungi dari serangan udara.

Iran sebelumnya tidak diizinkan memperkaya uranium di lokasi ini berdasarkan kesepakatan 2015, namun kini mengoperasikan sekitar 2.000 sentrifugal, termasuk model canggih, dengan sebagian memperkaya hingga 60 persen.

Lokasi ini diungkap secara publik oleh AS, Inggris, dan Prancis pada 2009.

  • PLTN Bushehr

Bushehr, di pesisir Teluk Persia, merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi.

Pembangunannya dimulai pada 1970-an dan diselesaikan oleh Rusia.

Bahan bakar dipasok Rusia dan dikembalikan setelah digunakan, sehingga mengurangi risiko proliferasi.

  • Pusat Teknologi Nuklir Isfahan

Fasilitas ini terletak sekitar 350 km di tenggara Teheran dan mencakup reaktor penelitian, laboratorium, serta unit pengolahan uranium.

Di lokasi ini, uranium dapat diubah menjadi uranium heksafluorida untuk proses pengayaan.

  • Khondab (Proyek Arak)

Khondab merupakan reaktor air berat yang sempat dihentikan pembangunannya berdasarkan kesepakatan 2015.

Iran menyatakan akan mengaktifkan kembali reaktor yang telah didesain ulang pada 2026 dengan pengamanan tertentu.

  • Reaktor Penelitian Teheran

Reaktor ini dipasok AS pada 1967 dan awalnya menggunakan uranium yang sangat diperkaya, sebelum kemudian dimodifikasi menjadi bahan bakar berpengayaan rendah.

Serangan terhadap Situs Nuklir 2025

Pada Juni 2025, Israel meluncurkan Operasi Rising Lion yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran, termasuk Natanz.

Tak lama kemudian, AS melakukan serangan dalam Operasi Midnight Hammer, menghantam Natanz, Fordo, dan Isfahan menggunakan bom penghancur bunker serta rudal jelajah.

IAEA mengonfirmasi bahwa ketiga lokasi tersebut terdampak serangan.

Serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan peralatan.

Di Fordo, sistem sensitif dilaporkan rusak berat, meskipun struktur utama tetap utuh.

Di Natanz, fasilitas di atas tanah dan sistem listrik mengalami kerusakan parah, sementara bagian bawah tanah sebagian besar tetap bertahan.

Menurut Pentagon, serangan tersebut kemungkinan menunda program nuklir Iran selama satu hingga dua tahun, namun tidak menghentikannya sepenuhnya.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.