Aksi Heroik Irwan Husna, Warga Huangobotu Gorontalo Selamatkan Ibu dari Kebakaran Rumah
Fadri Kidjab March 24, 2026 04:57 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana sore yang tenang di Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, mendadak berubah menjadi mencekam pada Senin (23/3/2026).

Langit yang cerah seketika tertutup oleh gumpalan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari salah satu pemukiman padat penduduk.

Kepulan asap itu menjadi pertanda awal bencana besar yang sedang mengintai keluarga Irwan Husna (41).

Belum sempat warga menyadari apa yang terjadi, api sudah mulai menjalar dengan sangat cepat, melahap material bangunan yang mudah terbakar.

Irwan Husna saat itu sedang berada di bengkel las tempatnya mencari nafkah, yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari kediamannya. Ia awalnya tidak menyangka bahwa sumber asap yang dilihatnya berasal dari rumah tempat ibu dan anak bungsunya berada.

Nalurinya sebagai seorang anak dan ayah langsung bergejolak ketika seseorang berteriak bahwa api muncul dari arah rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Irwan meletakkan peralatan lasnya dan berlari sekencang mungkin menuju titik api.

Langkah kakinya terasa berat namun dipacu oleh rasa takut yang luar biasa akan keselamatan orang-orang tercinta di dalam rumah. Setiap meter yang ditempuhnya terasa begitu lama, sementara di kejauhan, api tampak semakin membesar dan beringas.

Menerobos "Dinding" Asap Hitam

Irwan Husna menatap puing-puing rumahnya
KEBAKARAN RUMAH -- Irwan Husna menatap puing-puing rumahnya di Huangobotu Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo, Selasa (24/3/2026). (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)

Sesampainya di depan rumah, pemandangan yang menyambutnya sungguh mengerikan; api sudah mulai menguasai bagian atap dan asap hitam tebal keluar dari sela-sela ventilasi. "Sampai di sini, api sudah besar, asap hitam penuh," kenang Irwan dengan tatapan kosong saat menceritakan kembali momen tersebut.

Kondisi pintu depan yang terkunci rapat sempat menghambat upaya penyelamatan yang dilakukan oleh warga sekitar. Namun, kepanikan tidak membuat Irwan menyerah; ia bersama tetangga dan kerabat berusaha mendobrak pintu kayu tersebut dengan tenaga seadanya.

Begitu pintu berhasil terbuka, gelombang panas dan asap hitam langsung menerjang keluar, membuat siapa pun yang berdiri di depan pintu terbatuk-batuk. Namun, bagi Irwan, tidak ada waktu untuk ragu atau sekadar mencari perlindungan untuk pernapasannya.

Ia segera menerobos masuk ke dalam kegelapan yang disebabkan oleh asap pekat yang menyelimuti seluruh ruangan. Di dalam rumah, jarak pandang hampir nol, dan suara retakan kayu yang terbakar mulai terdengar dari langit-langit rumah.

Menyelamatkan Ibu di Tengah Salat

Pikirannya langsung tertuju pada ibunya, Asma Musa (60), yang ia ketahui sedang berada di dalam rumah saat ia berangkat bekerja tadi. Irwan terus memanggil nama ibunya di tengah kebisingan api, namun tidak ada jawaban yang terdengar di awal pencariannya.

Dengan keberanian yang luar biasa, ia merayap dan meraba dinding untuk mencapai kamar kedua, tempat yang paling mungkin menjadi lokasi sang ibu berada.

Panas yang menyengat mulai membakar kulitnya, namun tekadnya untuk menyelamatkan orang tuanya jauh lebih besar dari rasa sakit itu.

Ternyata, di dalam kamar tersebut, sang ibu sedang menunaikan ibadah salat ashar, sehingga tidak menyadari bahwa api sudah mengepung rumah mereka.

Keadaan sang ibu yang sedang khusyuk membuat Irwan harus bertindak cepat agar mereka berdua tidak terjebak lebih lama di dalam kepungan api.

“Orang tua saya di kamar kedua, lagi salat. Pintu kamar tertutup. Saya masuk itu sudah tidak pikir apa-apa lagi,” katanya.

Irwan segera merangkul ibunya dan membimbingnya keluar menembus kabut asap yang semakin menyesakkan dada. Langkah mereka terhuyung-huyung, namun Irwan memastikan tubuh ibunya terlindungi dari puing-puing bangunan yang mulai berjatuhan dari atap.

Baca juga: Korban Kebakaran Rumah di Hungabotu Gorontalo Butuh Bantuan Pakaian

Setelah berhasil membawa ibunya ke halaman rumah yang lebih aman, Irwan tidak lantas merasa lega sepenuhnya. Detak jantungnya kembali berpacu kencang saat ia menyadari bahwa anak bungsunya belum terlihat di antara kerumunan warga.

Ia mencoba menuju ke arah dapur dan bagian belakang rumah, tempat anaknya biasa bermain di sore hari. Namun, kondisi rumah saat itu sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa menit sebelumnya saat ia menyelamatkan ibunya.

Api sudah merambat ke seluruh sudut rumah, menciptakan dinding panas yang hampir mustahil untuk ditembus manusia biasa. Asap hitam yang masuk ke paru-parunya mulai membuatnya pusing, dan tenaganya perlahan mulai terkuras habis oleh suhu ekstrem.

"Saya sudah tidak bisa. Panas sekali. Saya terpaksa keluar," ucapnya.

Ia terpaksa mundur dengan tangan hampa, meninggalkan rumah yang kini sudah menyerupai bola api raksasa.

Kepanikan Irwan memuncak hingga ia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri, terus menanyakan keberadaan anaknya pada setiap warga yang lewat.

Warga dan kerabat yang melihat kondisinya berusaha menenangkan, sambil terus membantu mencari informasi keberadaan sang anak.

Satu jam berikutnya adalah waktu yang paling menyiksa bagi Irwan, di mana ia hanya bisa menyaksikan rumahnya runtuh perlahan sambil membayangkan nasib anaknya. Harapan seolah menipis seiring dengan semakin besarnya api yang melahap satu rumah tetangga di sebelahnya.

KORBAN -- Tampak korban kebakaran rumah di Huangobotu, Gorontalo, terpukul menyaksikan rumah, tempat mereka tinggal, ludes terbakar.
KEBAKARAN RUMAH -- Tampak korban kebakaran rumah di Huangobotu, Gorontalo, terpukul menyaksikan rumah, tempat mereka tinggal, ludes terbakar. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Baca juga: 5 Fakta Kebakaran Rumah di Huangobotu Gorontalo, Korban Nyaris Terobos Api

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah kabar datang bagaikan keajaiban yang membawa kembali semangat hidupnya. Seseorang berteriak dari arah belakang pemukiman bahwa anak Irwan ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat bersama teman-temannya.

Ternyata, sebelum api membesar di bagian depan, sang anak sudah lebih dulu keluar melalui pintu belakang untuk menyusul kawan-kawannya bermain. Kabar tersebut membuat Irwan terduduk lemas, air mata syukur tak terbendung lagi membasahi wajahnya yang penuh jelaga hitam.

Meski nyawa keluarga berhasil diselamatkan, kenyataan pahit tetap harus dihadapi saat api akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Rumah yang ia bangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun kini telah rata dengan tanah, hanya menyisakan dinding-dinding yang menghitam.

Irwan kini harus rela tinggal sementara di rumah kerabatnya karena tidak ada bagian dari rumahnya yang masih layak untuk dihuni.

Ia hanya memiliki pakaian yang melekat di badan, sementara bantuan pakaian layak pakai mulai berdatangan dari para tetangga yang peduli.

Kini, Irwan hanya berharap ada uluran tangan dari pemerintah setempat atau pihak dermawan untuk membantunya membangun kembali tempat berteduh. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.