Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan mendukung rencana Mossad untuk memicu pemberontakan di Iran di awal perang.
Namun, Netanyahu kini disebut merasa frustasi karena rencana tersebut belum menunjukkan hasil.
Netanyahu disebut membahas rencana ini saat meyakinkan Presiden AS, Donald Trump, untuk terlibat dalam perang melawan Iran.
Pejabat intelijen AS dan Israel kini meragukan peluang keberhasilan strategi tersebut.
Mereka menilai kondisi di Iran belum siap untuk pemberontakan rakyat.
Kekhawatiran muncul akibat potensi penindakan keras terhadap demonstran.
Selain itu, serangan militer justru dinilai memperkecil peluang protes.
Kepala Mossad, David Barnea, sebelumnya memprediksi oposisi Iran bisa digerakkan.
Ia menyebut kerusuhan massal dapat dipicu melalui operasi intelijen.
Rencana itu bertujuan menjatuhkan rezim dan mengakhiri perang dengan cepat.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah Iran dilaporkan semakin memperkuat posisinya.
Sementara peluang perubahan menuju pemerintahan demokratis dinilai sangat kecil.