TRIBUNMANADO.CO.ID- Bagi umat Kristen, Alkitab adalah panduan kehidupan.
Sehingga wajib dibaca dan renungan setiap hari.
Berikut renungan harian Kristen berjudul kemurnian dan kebenaran.
Baca juga: Renungan Malam Matius 26:58, Jangan Menjauh dari Tuhan
Ditulis oleh RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd dalam moment of inspiration LPMI.
Firman Tuhan diambil dalam 1 Korintus 5: 1-13.
Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. (1 Korintus 5: 8)
Emas ditambang, dimurnikan dengan proses kimiawi dan fisika dibakar untuk mendapatkan kadar emas murni.
Saat membeli ataupun menjual emas, harus jelas berapa kadar kemurniannya, mungkin 18, 22, atau 24 karat.
Tingkat kemurnian itu menentukan price and performance logam mulia tersebut.
Jemaat di Korintus secara kualitas mengecewakan dengan adanya dosa-dosa moral yang ekstrim bahkan diluar jemaatpun tidak ada (incest) dan kesombongan (ay 1-5).
Tentunya jemaat yang berdosa ini harus dibenahi dan dimurnikan.
Karena itu Paulus menggunakan metafora Paskah untuk mengajarkan 2 hal.
Kualitas pribadi melalui analogi kemurnian roti tanpa ragi (ay 6-8).
Kemurnian di ayat kita (Yun: Eilikrineia - secara harfiah berarti "diuji oleh sinar matahari") menunjukkan otentisitas ada tidaknya polutan atau kontaminan yang merusak/ mengotori.
Sedangkan kebenaran (Yun: Alētheia - bukan sekadar informasi yang benar, tetapi realitas yang sesuai dengan kenyataan Tuhan).
Paulus menekankan perlunya meninggalkan semua dosa yaitu ragi lama, dan berpesta dengan "roti tidak beragi" berarti merayakan iman kita dengan gaya hidup yang tulus transparan, jujur, serta tanpa topeng dihadapan manusia dan Allah.
Kewaspadaan dan komitmen (ay 9-13). Peka dan berani untuk memisahkan diri/ tidak bersahabat dengan orang–orang yang jelas hidup dalam dosa, amoralitas, kepalsuan, dll.
Saat ini kita juga harus memperjuangkan hidup dalam kemurnian (motivasi) dan kebenaran (integritas).
Ibarat emas tadi, tentu Tuhan mengijinkan proses pemurnian sehingga nilai kita makin tinggi.
Hal itu tidak mudah karena kita hidup di tengah dunia yang penuh kepalsuan, pencitraan, manipulasi, gratifikasi dll.
Persaingan hidup yang tidak sehatpun juga kian marak bahkan kejam.
Apakah tidak ada peluang? Tentu ada.
Kita harus yakin bahwa bersama dengan Roh Kudus kita pasti dimampukan dan dilindungi untuk membangun transparansi, selaras antara pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan dalam kuasa-Nya.
Inspirasi: Tuhan lebih menghargai kemurnian hati dalam kebenaran dari pada kesempurnaan penampilan dalam kepalsuan.