Mana yang Harus Didahulukan, Puasa Syawal atau Bayar Utang Puasa Kata Ustaz Abdul Somad?
Maudy Asri Gita Utami March 25, 2026 12:24 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah telah usai, dan umat Islam di berbagai penjuru dunia kini tengah merayakan hari kemenangan, yakni Hari Raya Idul Fitri 1447 H. 

Meskipun Ramadan telah berlalu, semangat beribadah sejatinya tidak berhenti begitu saja. 

Justru, momen setelah Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menjaga konsistensi dalam melakukan berbagai amalan kebaikan yang telah dibiasakan selama bulan penuh berkah tersebut.

Salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan oleh umat Muslim setelah Idul Fitri adalah puasa Syawal. 

Ibadah ini dilakukan sebagai bentuk penyempurna dari puasa Ramadan sekaligus upaya mempertahankan kualitas ibadah. 

Puasa Syawal dikenal memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, maka pahalanya setara dengan berpuasa sepanjang tahun.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari puasa di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Muslim No. 1164).

• Waspada Hiperglikemia! Ini Daftar Makanan yang Harus Dihindari saat Gula Darah Tinggi

Dalam praktiknya, puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, yang dapat dikerjakan secara berurutan maupun terpisah sesuai kemampuan. 

Pelaksanaannya dimulai sejak tanggal 2 Syawal, atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Namun demikian, muncul pertanyaan yang kerap dibahas di tengah masyarakat, khususnya bagi mereka yang memiliki kewajiban mengganti puasa Ramadan. 

Pertanyaan tersebut adalah, mana yang lebih utama didahulukan: puasa Syawal atau membayar utang puasa (qadha)?

Menanggapi hal ini, Ustaz Abdul Somad dalam salah satu ceramahnya menjelaskan bahwa puasa qadha merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan. 

Bagi seseorang yang memiliki utang puasa, misalnya karena sakit, perjalanan jauh, atau uzur syar’i lainnya, maka yang didahulukan adalah mengganti puasa tersebut hingga selesai.

Setelah kewajiban qadha terpenuhi, barulah seseorang dianjurkan untuk melaksanakan puasa Syawal selama enam hari. 

Namun, dalam kondisi tertentu jika tidak memungkinkan untuk mengerjakan keduanya secara terpisah, sebagian ulama berpendapat bahwa mengerjakan puasa qadha tetap memberikan keutamaan, bahkan bisa mendapatkan pahala seperti puasa Syawal.

Dengan demikian, penting bagi setiap Muslim untuk memahami prioritas dalam beribadah, yaitu mendahulukan yang wajib sebelum melaksanakan yang sunnah. 

Meski begitu, keduanya tetap memiliki nilai ibadah yang besar jika dikerjakan dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat.

"Namun jika tidak bisa, ibu bisa puasa Qadha saja. Siapa yang puasa Qadha 6 hari di bulan Syawal, otomatis dapat pahala sunnah Syawal," imbuhnya.

• Berat Badan Naik Usai Lebaran? Ini Deretan Minuman Sehat yang Bantu Menurunkannya

Waktu Puasa Syawal

Melansir Serambinews.com, Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Shidiq, M.Ag mengatakan bahwa puasa syawal dilakukan enam hari di bulan Syawal, yaitu hari kedua Syawal (sehari setelah hari raya Idul Fitri) dan seterusnya. 

Puasa Syawal dimulai di hari kedua karena pada hari pertama Syawal merupakan Hari Raya Idul Fitri, maka diharamkan untuk berpuasa.

Akan lebih baik jika dilakukan secara berturut selama enam hari mulai hari kedua Syawal. Kendati demikian, jika merasa kesulitan, maka diperbolehkan tidak berurutan, asalkan berpuasa sebanyak enam hari dan masih di bulan Syawal.

Berikut ini niat untuk puasa sunnah di bulan Syawal :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ." Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT.” (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.