TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah menunggu jawaban dari Iran terkait pembicaraan damai yang digagas bersama mediator regional.
Rencananya, pertemuan tingkat tinggi ini bakal digelar paling cepat Kamis pekan ini di Pakistan.
Dikutip dari laporan Axios, Presiden AS, Donald Trump disebut-sebut sangat berambisi untuk segera mengakhiri konflik tersebut.
Namun, ambisi ini menemui jalan terjal lantaran posisi tawar Iran yang kuat di Selat Hormuz — jalur urat nadi energi dunia yang hingga kini masih dalam cengkeraman pasukan Teheran.
Laporan internal menyebutkan bahwa dua orang kepercayaan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sudah bersiap terbang ke Pakistan untuk menemui delegasi Iran.
Bahkan, ada rumor kuat yang menyebut Wakil Presiden AS, J.D. Vance akan turun langsung dalam negosiasi panas ini.
Meski demikian, pihak Gedung Putih masih irit bicara.
"Jangan berspekulasi, tunggu pengumuman resmi," tegas Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, justru menunjukkan sikap waspada.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memberikan sinyal bahwa dirinya tidak akan berhenti melakukan serangan militer meski ada wacana damai di meja perundingan.
Bagi Israel, keamanan nasional adalah harga mati.
Baca juga: Trump Ingin Damai dengan Iran tapi Teheran Pasang Syarat Berat, Israel Yakin Tak Tercapai
Netanyahu menegaskan bahwa target-target Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon akan tetap menjadi sasaran empuk militer Israel jika dianggap mengancam kedaulatan mereka.
Trump secara resmi menunda rencana serangan militer terhadap situs-situs energi dan pembangkit listrik di Iran selama lima hari ke depan.
Keputusan ini diambil usai Trump mengeklaim adanya pembicaraan yang "sangat produktif" dengan pihak Teheran melalui platform media sosialnya, Truth Social.
"Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik selama dua hari terakhir mengenai resolusi total atas permusuhan kami di Timur Tengah," tulis Trump, mengutip The Times of Israel.
Tak hanya menunda aksi militer AS, Trump juga mengaku telah menghubungi Netanyahu.
Ia meminta sang sekutu untuk tidak lagi menggempur fasilitas minyak dan gas Iran, menyusul serangan Israel sebelumnya di wilayah South Pars yang sempat memicu ketegangan regional.
"Saya katakan padanya (Netanyahu), 'Jangan lakukan itu,' dan dia setuju. Koordinasi kami sangat hebat," ujar Trump.
Sementara itu, sejumlah pejabat senior Israel mengungkapkan keraguan mereka terhadap prospek perundingan tersebut.
Menurut mereka, sangat kecil kemungkinan Teheran mau tunduk pada syarat-syarat yang diajukan oleh Washington.
"Sangat diragukan Iran akan menyetujui tuntutan Amerika dalam negosiasi baru ini," ujar salah satu pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya.
Baca juga: Kebohongan Trump Soal Perundingan dengan Iran Cuma Siasat Turunkan Harga Minyak
Netanyahu, mengonfirmasi bahwa Trump memang melihat ada celah untuk bernegosiasi.
Strateginya adalah dengan memanfaatkan tekanan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan militer AS yang selama ini telah mencapai hasil signifikan di medan tempur.
"Trump percaya kita bisa memanfaatkan pencapaian besar militer untuk mencapai tujuan perang lewat jalur diplomasi, demi menjaga kepentingan vital kita," kata Netanyahu.
(Tribunnews.com/Whiesa)