Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Maluku, Jais Ely, membuat langkah tak biasa dengan berkantor langsung di Pasar Mardika, Kota Ambon.
Keputusan ini diambil setelah mencuatnya kasus pencurian yang viral di media sosial, sekaligus menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pasar terbesar di Maluku itu.
“Mulai hari ini beta (saya) berkantor di Pasar Mardika. Ini instruksi langsung dari Gubernur supaya melihat sendiri kondisi di lapangan, tidak hanya terima laporan,” tegas Jais saat dihubungi TribunAmbon.com, Rabu (25/3/2026).
Baca juga: Barang Dagangan Dicuri, Jais Ely Sebut Pedagang Ilegal: Tanpa Izin dan Tak Bayar Sewa Lapak
Baca juga: Libur Nyepi dan Idulfitri 2026, Kantah Kabupaten Jombang Tetap Buka Layanan
Jais mengaku, sejak dilantik, dirinya belum melakukan penertiban pedagang secara besar-besaran.
Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Menurutnya, kebijakan penertiban di masa sensitif seperti bulan puasa berpotensi menimbulkan gejolak.
“Menjelang lebaran kita tidak bisa ambil kebijakan yang tidak populer. Benturannya bisa besar. Jadi penertiban akan dilakukan pasca lebaran,” jelasnya.
Selama ini, fokus utama Perindag adalah menjaga kebersihan Pasar Mardika agar tetap nyaman bagi pengunjung.
Kasus pencurian yang dialami seorang pedagang yang viral di media sosial justru membuka persoalan baru akan banyaknya pedagang ilegal di Pasar Mardika.
Jais mengungkap, pedagang yang mengaku kehilangan barang tersebut ternyata tidak terdaftar secara resmi dan tidak pernah membayar sewa kios.
“Ibu itu jual di kios orang lain, tidak terdaftar, tidak pernah bayar. Tapi kalau terjadi pencurian, pemerintah yang disalahkan,” tegasnya.
Ia menyebut praktik peminjaman kios tanpa izin pengelola menjadi salah satu sumber kekacauan administrasi di pasar.
Hasil pengecekan menunjukkan sistem CCTV di Pasar Mardika sebenarnya masih berfungsi dengan baik.
Namun, kelemahan justru ada pada sumber daya manusia (SDM) yang mengoperasikannya.
“Masalahnya bukan alat, tapi orangnya. Ruang CCTV kosong saat dicek. Ini tidak boleh terjadi,” kata Jais.
Ia menilai perlu adanya petugas yang siaga 24 jam dan mampu merespons laporan secara real-time.
Selain keamanan, Jais juga menyoroti akses masuk pasar yang saat ini banyak tertutup oleh pedagang.
Menurutnya, kondisi ini menghambat pengunjung untuk masuk ke lantai atas.
“Bagaimana orang mau belanja di lantai dua, tiga, empat kalau pintu masuk saja sudah tertutup pedagang,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengelolaan, Perindag juga tengah menyiapkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Mardika agar lebih mandiri dan profesional.
Jais menargetkan dalam satu hingga dua bulan ke depan, kondisi pasar sudah jauh lebih tertib.(*)