Opini: Kemenangan yang Melangit, Syukur yang Membumi- Rekonstruksi Makna Hari Raya
Dion DB Putra March 25, 2026 08:19 PM

Oleh: H. Muhammad G. Arifoeddin, S.Pd, M.M
Ketua Umum MUI Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Hari Raya Idulfitri sering kali disalahpahami dalam nalar publik sebagai sebuah "garis finis" dari perlombaan spiritual panjang selama Ramadan. 

Kita cenderung merasa telah "lulus," lalu merayakannya dengan sebuah ledakan emosional dan konsumerisme yang terkadang melampaui batas kewajaran. 

Kegembiraan memang dianjurkan, namun ada risiko besar yang mengintai: kehilangan substansi di balik keriuhan.

Kita terjebak dalam jebakan visual dan angka. Kita sibuk menghitung berapa jenis kue kering di meja, membandingkan kemewahan pakaian, hingga mengukur kesuksesan hari raya dari banyaknya tamu yang datang. 

Baca juga: Edistasius Endi Apresiasi Perayaan Idulfitri 2026 di Manggarai Barat

Padahal, esensi Idulfitri bukanlah tentang kuantitas fisik yang tersaji, melainkan kualitas rasa syukur yang terpatri di relung hati. 

Sebagaimana firman Allah SWT: “...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa takbir yang kita kumandangkan adalah untuk mengagungkan Sang Pemilik Petunjuk, bukan untuk memamerkan atribut duniawi. 

Idulfitri seharusnya menjadi titik start untuk membuktikan apakah madrasah Ramadan benar-benar mengubah karakter kita menjadi lebih peduli atau sekadar menunda nafsu sesaat.

Filosofi Hidangan dan Jejak Keringat yang Terlupakan

Di balik kelezatan rendang yang empuk, ketupat yang legit, dan opor yang gurih, terdapat rantai panjang perjuangan manusia yang jarang sekali kita tengok. 

Sepiring makanan di hari raya adalah muara dari ribuan tetes keringat petani yang membungkuk di bawah terik matahari, menjaga bulir padi dari hama, dan berharap pada semesta.

Ketika kita menyisakan makanan dan membuangnya ke tempat sampah di hari Lebaran, kita sebenarnya sedang melakukan penghinaan terhadap proses panjang tersebut. Lebih jauh lagi, tindakan mubazir adalah bentuk "kebutaan" sosial. 

Di saat kita kebingungan memilih hidangan, ada jutaan orang yang merayakan kemenangan dengan perut yang masih merintih lapar. 

Menyadari jejak keringat ini adalah langkah awal untuk merayakan kemenangan dengan kerendahan hati yang tulus

Manifestasi Iman dalam Setiap Suapan

Pesan "Nikmati Secukupnya" bukan sekadar imbauan kesehatan, melainkan pernyataan iman yang mendalam. 

Keberkahan makanan tidak terletak pada kemewahannya, melainkan pada bagaimana makanan tersebut memberikan energi bagi jiwa untuk tetap taat.

Menghargai Butir Nasi sebagai Amanah: Setiap butir makanan adalah rezeki yang telah "tertulis" alamatnya. 

Mengambil hanya apa yang mampu dihabiskan menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang berdaulat atas nafsu kita sendiri—sebuah nilai inti dari puasa.

Peringatan atas Perilaku Boros: Allah SWT memberikan peringatan tajam tentang bahaya perilaku mubazir yang sering muncul saat Lebaran:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)

Menjadi "saudara setan" di hari kemenangan adalah tragedi spiritual. Syukur yang sejati tercermin dari cara kita memperlakukan nikmat di atas piring kita sendiri.

Berbagi sebagai Solusi Ketimpangan Sosial

Jika di rumah kita terdapat kelebihan hidangan, itu bukanlah isyarat untuk bersikap boros, melainkan "undangan" dari Tuhan untuk mempraktikkan ilmu berbagi. 

"Berbagi Lebih Baik" adalah mekanisme sosial yang diajarkan Islam untuk menyeimbangkan ketimpangan.

Menata makanan berlebih dengan rapi, membungkusnya dengan cinta, dan memberikannya kepada mereka yang membutuhkan adalah bentuk "pesta" yang sesungguhnya di mata Sang Pencipta. 

Hal ini mengubah potensi dosa (mubazir) menjadi pahala jariyah. Kita harus ingat bahwa dalam setiap kelebihan rezeki yang kita nikmati, ada hak orang lain yang dititipkan di sana. Allah SWT menjanjikan keberkahan bagi mereka yang mau berbagi:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir...” (QS. Al-Baqarah: 261)

Menjaga Api Spiritual Tetap Menyala

Sangat ironis ketika masjid-masjid yang selama tiga puluh hari penuh sesak, tiba-tiba menjadi sunyi tepat saat Idulfitri tiba. Idulfitri sering kali menjadi titik perpisahan prematur bagi banyak orang dengan rumah Allah. 

Padahal, masjid adalah markas besar kemenangan kita. Gema takbir yang merdu seharusnya menarik kita lebih dekat, bukan membuat kita terlena dalam reuni keluarga yang melupakan waktu shalat.

Kesetiaan kita diuji saat Ramadan usai. Jika kita mampu berdiri berjam-jam untuk Tarawih, sangatlah memilukan jika di hari kemenangan kita justru abai terhadap shalat lima waktu hanya karena alasan menjamu tamu. 

Menjaga keterpautan hati dengan masjid adalah bukti bahwa ibadah kita bukanlah rutinitas musiman, melainkan transformasi permanen. Allah SWT berfirman:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman...” (QS. At-Taubah: 18)

Langkah Menuju Cahaya di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia

Istiqomah adalah puncak dari segala pencapaian spiritual. Di tengah hiruk-pikuk kunjungan keluarga, keberanian untuk pamit sejenak memenuhi panggilan shalat adalah derajat ketaatan yang tinggi. 

Masjid tidak boleh menjadi tempat yang asing setelah 1 Syawal berlalu. Justru, di hari kemenangan inilah kita seharusnya menyambut waktu shalat dengan hati yang lebih lapang.

Kita datang ke masjid bukan lagi karena kewajiban formal, tapi karena rasa syukur yang tak terhingga karena telah diberi kesempatan untuk kembali fitrah. Tetaplah pada jalan yang benar meski suasana Ramadan telah hilang.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu...” (QS. Hud: 112)

Idulfitri sebagai Refleksi Kemanusiaan dan Ketuhanan

Pada akhirnya, Idulfitri yang paripurna adalah perayaan tentang kesadaran. Kesadaran akan nikmat, kesadaran akan penderitaan sesama, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap detik kehidupan kita. 

Kemenangan sejati tidak ditemukan di dalam kemewahan lahiriah, melainkan di dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur untuk berbagi.

Mari kita pastikan bahwa ketika perayaan ini usai, yang tersisa di rumah kita bukanlah tumpukan sampah makanan yang mubazir, melainkan timbunan pahala dan karakter mulia yang terus kita bawa hingga Ramadan berikutnya menjemput. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.