Yunarto Sebut AHY Diuntungkan Situasi Pemerintahan Jokowi dan Prabowo, Peluang 2029 Terbuka
Jaisy Rahman Tohir March 25, 2026 11:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai peluang Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang juga Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam kontestasi Pilpres 2029 terbuka, seiring dinamika kepemimpinan nasional dalam satu dekade terakhir.

Menurut Yunarto, gaya kepemimpinan dalam era Presiden ke-7 RI Jokowi hingga dilanjutkan Presiden Prabowo Subianto, menghadirkan dinamika yang cukup fluktuatif.

Ia menyebut kondisi tersebut layaknya “roller coaster”, dengan kebijakan yang kerap menghadirkan kejutan di tengah masyarakat.

Pada era Jokowi, gelombang protes masyarakat sempat ramai di antaranya saat menolak Undang-Undang Cipta Kerja hingga revisi Undang-Undang KPK.

Sementara, pada setahun lebih kepemimpinan Presiden Prabowo, sejumlah kebijakan memantik polemik, seperti pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kebijakan luar negeri terkait Agreement on Reciprocal Trade  dengan Amerika Serikat.

“Dalam 10 tahun Jokowi dan satu tahun Prabowo ini ada dinamika yang terasa naik turun,” ujar Yunarto.

Situasi tersebut, lanjut dia, memunculkan kecenderungan sebagian publik yang mulai merindukan model kepemimpinan yang lebih stabil dan berbasis sistem.

Dalam konteks ini, Yunarto melihat adanya memori kolektif terhadap era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap lebih tenang, meski kerap dikritik lamban.

“Sebagian orang mulai mencari pemimpin yang ‘proper’, yang bekerja by system, tidak banyak membuat kejutan,” katanya.

Menurut Yunarto, kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi AHY yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar SBY, ayahnya.

Ia menilai, asosiasi publik terhadap stabilitas di era SBY berpotensi menjadi modal elektoral bagi AHY ke depan.

“Pada titik itu, nama AHY tentu diuntungkan dalam situasi seperti ini,” jelasnya.

Namun demikian, Yunarto mengingatkan bahwa peluang tersebut sangat bergantung pada langkah politik yang diambil Partai Demokrat.

Ia menilai, gaya politik SBY selama ini cenderung berhati-hati dan memilih posisi aman dalam membaca peta kekuatan.

“SBY biasanya baru mengambil posisi berbeda kalau situasinya sudah benar-benar aman,” ujarnya.

Karena itu, dalam jangka pendek, Yunarto melihat opsi realistis bagi AHY adalah tetap berada di lingkar kekuasaan, termasuk peluang sebagai calon wakil presiden.

“Selama Prabowo masih kuat dan tingkat kepuasan publiknya tinggi, kemungkinan besar posisi yang realistis itu di cawapres,” pungkasnya.

Meski begitu, Yunarto menegaskan bahwa dinamika politik menuju 2029 masih sangat cair dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

2 Skenario AHY di Pilpres 2029

Sementara itu, pengamat politik Adi Prayitno membaca, setidaknya ada dua skenario besar yang bisa terjadi bagi AHY di Pilpres 2029.

Pertama, AHY tetap berada dalam orbit kekuasaan dengan mendampingi Prabowo Subianto sebagai cawapres.

Menurut Adi, skenario ini cukup realistis mengingat Partai Demokrat saat ini masih berada dalam lingkaran koalisi pemerintahan.

“Harapan paling minimal tentu AHY atau kader Demokrat bisa didorong sebagai cawapres jika Prabowo kembali maju,” katanya.

Jika peluang mendampingi Prabowo tertutup, AHY dinilai bisa mengambil langkah alternatif dengan membangun poros baru bersama Anies Baswedan.

“Kalau tidak bisa bersama Prabowo, bukan tidak mungkin ada opsi lain, termasuk berpasangan dengan Anies,” jelas Adi.

Ia menilai, duet Anies-AHY yang sempat ramai dijodohkan pada Pilpres 2024 lalu, bisa jadi skenario tertunda yang akhirnya terwujud di 2029.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu juga menekankan bahwa kehadiran Anies sebagai figur dengan elektabilitas yang masih diperhitungkan menjadi faktor penting dalam kalkulasi politik ke depan.

“Anies itu punya magnet politik yang masih kuat. Itu yang membuat skenario duet dengan AHY tetap relevan,” ujarnya.

Meski begitu, Adi mengingatkan semua kemungkinan tersebut masih sangat cair dan bergantung pada dinamika politik mendekati 2029.

“Pada akhirnya, ini soal momentum dan kesepakatan politik. Tapi yang jelas, semua kemungkinan itu terbuka,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.