TRIBUNNEWS.COM - Setelah sempat tegang karena insiden Selat Hormuz, kini hubungan bilateral antara Iran dan Thailand bisa dikatakan mulai kembali dibangun secara perlahan.
Hal ini terjadi menyusul diizinkannya kapal tanker minyak milik perusahaan energi Thailand, Bangchak Corp, untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Selasa (24/3/2026).
Menariknya lagi, kapal milik Bangchak Corp tersebut melewati Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya apa pun oleh otoritas Iran.
Dikutip dari Bangkok Post, Kamis (26/3/2026), keberhasilan transit kapal Bangchak Corp ini merupakan hasil dari koordinasi diplomatik tingkat tinggi antara pemerintah Thailand, Iran, dan Oman.
Seperti yang dikabarkan sebelumnya, hubungan antara Iran dan Thailand sempat memanas setelah terjadinya insiden yang menimpa kapal kargo curah Mayuree Naree.
Kapal berbendera Thailand tersebut diserang oleh proyektil Iran di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026 yang memicu kebakaran hebat dan memaksa seluruh kru untuk dievakuasi.
Kini, dua minggu setelah insiden tersebut, kapal berbendera Thailand kini bisa beraktivitas kembali di Selat Hormuz dengan koridor izin dari otoritas pemerintah Iran.
Adapun kesepakatan antara kedua negara dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.
Sihasak mengonfirmasi bahwa jalur aman tersebut diamankan setelah adanya pembicaraan intensif dengan Duta Besar Iran untuk Thailand.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Thailand sempat memanggil Duta Besar Iran untuk meminta klarifikasi sehari setelah serangan terhadap kapal Mayuree Naree.
Baca juga: Berapa Jauh Jangkauan Rudal Balistik Iran? Dugaan Serangan ke Diego Garcia Pakai Senjata Modifikasi
Di dalam keterangannya kepada pers pada Selasa malam, Menlu Sihasak menjelaskan langkah-langkah yang diambil pemerintah
“Saya meminta kepada perwakilan Pemerintah Iran, jika kapal-kapal Thailand perlu melewati selat tersebut, saya meminta mereka untuk membantu memastikan lintasan yang dilalui aman,” ungkap Sihasak.
Sihasak pun mengklaim permintaan darinya ini direspons secara kooperatif oleh pihak Iran.
“Pihak Iran mengatakan bahwa mereka akan menanganinya (izin melewati Selat Hormuz) dan meminta kami untuk memberikan nama-nama kapal yang akan transit,” pungkas Sihasak.
Sementara itu, pihak Bangchak Corp juga membenarkan informasi bahwa mereka tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun kepada Iran untuk menghindari blokade di wilayah perairan strategis tersebut.
Selain jalur diplomatik antara Bangkok dan Teheran, otoritas Oman ternyata juga ikut membantu negosiasi antara kedua negara guna memastikan keamanan kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Hal ini dikonfirmasi oleh pihak Kedutaan Besar Thailand di Muscat yang selama ini bekerja sama erat dengan otoritas pemerintahan Oman untuk mengatasi masalah tersebut.
Upaya kolektif ini dilakukan di tengah ketegangan geopolitik yang telah mengganggu distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia yang melewati jalur tersebut.
Selain kapal milik Bangchak, satu unit kapal lain milik SCG Chemicals pada Rabu ini (25/3/2026) dikabarkan tengah menunggu izin serupa untuk melintasi selat tersebut.
Baca juga: Iran Tegaskan Pertahankan Kendali Selat Hormuz, AS Kirim Rencana 15 Poin Akhiri Perang Timur Tengah
Keberhasilan transit tanker Bangchak ini menjadi kabar positif setelah insiden tragis dua minggu lalu yang menimpa kapal Mayuree Naree.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, Kapal jenis bulk carrier milik perusahaan SET-listed Precious Shipping Plc tersebut dihantam proyektil pada hari 11 Maret 2026 saat melintasi Selat Hormuz tanpa muatan.
Ledakan yang mengenai bagian buritan kapal memicu kebakaran hebat di ruang mesin.
Dikutip dari Thairath, total 23 awak kapal, 20 orang berhasil dievakuasi oleh Angkatan Laut Oman menggunakan sekoci.
(Tribunnews.com/Bobby)