Kondisi Terkini Cak Nun, Noe Letto: Bapak Sudah Waktunya Istirahat, Jangan Diganggu
Azis Husein Hasibuan March 26, 2026 08:53 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Akhirnya diungkap putranya, Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto, setelah sosoknya lama tak terlihat di berbagai forum Maiyah, kondisi terkini budayawan dan tokoh Maiyah, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

Noe menyampaikan bahwa ayahnya saat ini masih dalam masa pemulihan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat total usai bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat dalam program Q&A Metro TV yang tayang pada Senin (23/3/2026).

“Bapak sudah waktunya istirahat, jangan diganggu,” kata Noe saat menjawab pertanyaan soal kondisi Cak Nun.

Selama ini Cak Nun telah “mewakafkan” hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan sosial, kebudayaan, dan kebangsaan di Indonesia, Noe menegaskan.

“Beliau sudah mewakafkan seumur hidupnya sampai umur segini untuk Indonesia, sekarang lagi recovery, jangan diganggu,” ujarnya.

Cak Nun Kolase
Cak Nun Kolase (Ist)

Pernyataan tersebut menjadi jawaban atas pertanyaan banyak jamaah dan publik yang selama beberapa waktu terakhir menyoroti absennya Cak Nun dari sejumlah kegiatan Maiyah, forum yang selama puluhan tahun identik dengan kehadiran dan gagasan-gagasannya.

Dalam pernyataannya, Noe tak hanya membahas kondisi kesehatan sang ayah, tetapi juga menyinggung soal estafet perjuangan nilai-nilai yang selama ini dibawa Cak Nun.

Ia menyebut, dirinya kini merasa berada pada fase untuk melanjutkan perjuangan itu, meski dengan cara, medan, dan konteks zaman yang berbeda.

“Menurut saya, Bapak sudah mewakafkan hidupnya untuk sebuah perjuangan. Dan saya sekarang waktunya pick up perjuangan itu pada situasi yang berbeda, pada lapangan yang berbeda,” kata Noe.

Noe juga menegaskan bahwa dirinya tidak bergeser dari cita-cita besar yang selama ini diperjuangkan ayahnya.

“Saya berani memastikan bahwa saya tidak bergeser dari cita-cita yang Bapak impikan, Bapak bayangkan, pada fase dan cara yang berbeda tentu saja,” lanjutnya.

Pernyataan itu dibaca sebagai sinyal bahwa nilai-nilai yang selama ini menjadi ruh Maiyah tetap ingin dijaga, meski tidak lagi selalu bertumpu pada kehadiran langsung Cak Nun di ruang-ruang publik.

Noe juga menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada generasi muda dan para pengikut gagasan ayahnya.

Ia mengajak publik untuk tidak hanya terus-menerus bertanya tentang kondisi Cak Nun, tetapi mulai mengambil bagian nyata dalam perubahan sosial.

“Kamu kalau pemuda pengen membuat perubahan, do something. Ayo kita gandengan,” ucapnya.

Menurut Noe, perubahan tidak harus selalu menunggu figur besar atau tokoh lama tampil kembali di depan publik.

“Mungkin kita bukan orang kuat, tetapi kalau kita do something bareng-bareng, we can make change probably, daripada nggak ngapa-ngapain,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa absennya Cak Nun dari panggung Maiyah bukan semata soal fisik, tetapi juga menjadi momentum refleksi bahwa gagasan dan semangat yang selama ini ia tanamkan semestinya bisa dilanjutkan bersama.

Cak Nun sendiri selama puluhan tahun dikenal sebagai figur sentral dalam berbagai forum Maiyah, mulai dari Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, hingga sejumlah simpul Maiyah di berbagai daerah.

Dalam penjelasan di situs resminya, Maiyah memang dipahami bukan sekadar forum yang harus selalu bergantung pada kehadiran langsung Cak Nun, melainkan juga sebagai ruang “sinau bareng” yang telah tumbuh menjadi jejaring komunitas di banyak kota.

Meski demikian, bagi banyak jamaah, ketidakhadiran Cak Nun dalam waktu yang cukup panjang tetap memunculkan tanda tanya, terutama terkait kondisi kesehatannya.

Kini, lewat penjelasan langsung dari Noe Letto, publik mendapat gambaran bahwa Cak Nun sedang fokus menjalani masa pemulihan dan memang memerlukan ketenangan untuk beristirahat.

Di tengah kondisi ayahnya yang masih menjalani recovery, Noe belakangan memang semakin sering tampil di ruang publik dengan kapasitas yang lebih luas, tidak hanya sebagai musisi tetapi juga sebagai pemikir dan figur publik.

Awal 2026, Noe bahkan dilantik sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional, yang semakin menegaskan pergeseran peran publiknya ke ruang pengabdian yang lebih strategis.

Kehadiran Noe di ruang publik itu seolah menandai fase baru, ketika sebagian nilai dan semangat perjuangan yang selama ini lekat pada Cak Nun mulai diterjemahkan oleh generasi berikutnya dengan pendekatan yang berbeda.

Keterlibatan Noe

Noe Letto, menegaskan keterlibatannya sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN), bukanlah sebuah langkah politik praktis. 

Alih-alih mengejar karier birokrasi, Noe menyebut posisi ini sebagai sebuah "eksperimen intelektual".

Dalam penjelasannya melalui kanal YouTube Sabrang MDP Official, putra budayawan Cak Nun ini mengungkapkan ambisinya untuk merumuskan ulang pola interaksi antara pejabat negara dan masyarakat yang selama ini dianggap masih belum ideal.

Noe melihat jabatannya di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan sebagai ruang laboratorium untuk menguji sebuah framework komunikasi publik. 

Ia merasa terpanggil untuk terjun langsung karena selama ini jarang ada pihak yang mau melakukan pendekatan saintifik dalam tata kelola interaksi tersebut.

“Ada satu eksperimen dengan pejabat untuk membuat framework bagaimana seharusnya pejabat berinteraksi dengan masyarakat. Karena tidak ada yang mau melakukan, ya wis yo tak mangkat (ya sudah saya berangkat) eksperimen,” ujar Noe, dikutip Jumat (23/1/2026).

Salah satu poin revolusioner yang diusung Noe adalah pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam merumuskan rekomendasi kebijakan. 

Baginya, data harus menjadi panglima agar keputusan strategis nasional tidak didominasi oleh bias emosional atau kepentingan kelompok tertentu.

“Yang mengolah data itu AI, sehingga ‘jembatan’ pengambilan keputusan bisa dibersihkan dari emosional,” ucapnya. 

Dengan cara ini, ia berharap rekomendasi yang diberikan kepada negara benar-benar objektif dan berbasis realitas lapangan.

Ogah 'Manut' Partai, Pilih Jalur Independen Noe secara terbuka menyatakan alasannya menghindari jalur partai politik untuk masuk ke pemerintahan. Ia menilai kursi Tenaga Ahli (TA) memberikan ruang independensi yang jauh lebih luas dan bebas dari intervensi kepentingan politik elektoral.

“Kenapa posisi TA tepat? Itu jauh lebih enak daripada posisi masuk lewat partai, karena nanti kamu patuh sama partai,” tegas Noe.

Meski baru dilantik oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 15 Januari 2026 lalu, Noe tidak memiliki beban untuk meninggalkan jabatan tersebut. 

Ia menegaskan tidak akan bertahan jika kehadirannya hanya bersifat simbolik atau jika rekomendasi berbasis datanya hanya berakhir di laci meja.

“Kalau ternyata saya lama di sana ngasih rekomendasi dan enggak kepakai juga, ya tinggal keluar, tinggal resign. Kita lihat setahun aja,” tandasnya.

Noe Letto merupakan satu dari 12 tenaga ahli yang direkrut DPN berdasarkan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor KEP/3/KH/X/2025.

 Tugasnya mencakup pemberian masukan strategis terkait ancaman non-militer, termasuk perang narasi, budaya, dan penguatan ideologi nasional.

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.