WARTAKOTALIVE.COM -- Di tengah eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, sekitar 20.000 pelaut kini terjebak dalam ketidakpastian di Selat Hormuz.
Meski Iran telah mengumumkan tawaran "jalur aman" bagi kapal non-hostil, situasi di lapangan tetap mencekam dan penuh risiko bagi keselamatan perdagangan global.
Hal itu dikatakan Kapten Samanth Baktavatsalam, seorang veteran laut dengan pengalaman 27 tahun, yang menceritakan kengerian yang ia alami selama tiga minggu terdampar di Teluk Oman, dilansir dari CNN, Kamis (26/3/2026).
Baca juga: Kim Jong Un: Perang Iran Bukti Korut Benar Miliki Senjata Nuklir, Agar Teroris AS Tak Berani Serang
Samanth Baktavatsalam mengungkapkan setiap saat berada di sana, nyawanya dan ribuan pelaut lain terancan.
"Ini sangat intens. Kami melihat langsung proyektil melintas dan aksi kekuatan udara serta angkatan laut. Yang semuanya bisa saja mengancam kami," ungkapnya.
Selama masa kritis tersebut, menurut Samant kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan sinyal GPS total (jamming).
Baca juga: Gedung Putih Klaim Rezim Iran Runtuh, Trump Beri Kesempatan Terakhir: Pilih Damai Atau Neraka
Hal itu menurutnya memaksa kru untuk kembali ke metode navigasi tradisional yang berisiko.
Selain ancaman fisik, krisis logistik mulai menghantui ribuan pelaut lainnya.
Sementara kapal Baktavatsalam akhirnya berhasil keluar berkat bantuan pengawalan militer regional.
Namun menurutnya saat ini masih banyak rekan sejawatnya yang kini terpaksa melakukan penjatahan air minum secara ekstrem.
Ia memastikan krisis kemanusiaan saat ini menghantui sedikitnya 20.000 pelaut yang terjebak di sekitaran Selat Hormuz,.
Diplomasi Abu-Abu
Sementara tawaran Iran untuk membuka akses lewat koordinasi otoritas lokal dianggap belum memberikan jaminan penuh.
Baktavatsalam menekankan bahwa kondisi "aman" di wilayah tersebut bergantung pada terlalu banyak pihak yang bertikai
Hal itu membuat masa depan ribuan kru kapal tanker di sana tetap berada di ujung tanduk.
Sementara itu Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa Iran sangat ingin membuat kesepakatan tetapi mereka takut mengatakannya karena takut dibunuh.
“Tidak ada yang pernah melihat hal seperti yang kita lakukan di Timur Tengah dengan Iran, dan mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya karena mereka mengira akan dibunuh oleh orang-orang mereka sendiri. Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita,” kata Trump pada makan malam penggalangan dana untuk sayap kampanye Partai Republik DPR di Washington.
Sedangkan Gedung Putih mengatakan pada Rabu pagi bahwa pembicaraan dengan Iran belum menemui jalan buntu meskipun Teheran tidak segera menerima rencana 15 poin untuk mengakhiri perang.
AS sedang berupaya mengatur pertemuan di Pakistan untuk membahas jalan keluar, kata dua pejabat pemerintah kepada CNN.
Meskipun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui bahwa pesan telah dipertukarkan dengan AS melalui mediator, ia menekankan bahwa komunikasi tersebut bukanlah negosiasi.