TRIBUNPEKANBARU.COM - Filipina dilaporkan mengalami krisis minyak akibat perang Iran vs Amerika-Israel.
Presiden Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. secara resmi mengumumkan status darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026).
Krisis energi global memukul telak Filipina karena penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Pada hari Selasa, harga bensin dan solar melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan level sebelum perang di bulan Februari.
Di tengah krisis minyak dunia akibat perang di Asia Barat, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari mengklaim Indonesia tidak mengalami krisis minyak.
Dia menyebut situasi di Indonesia berbeda dengan Filipina, negara pertama di dunia yang mengumumkan status darurat energi nasional selama satu tahun. Qodari pun merinci penyebabnya.
“Pertama, impor minyak Filipina sampai 85 persen dari kebutuhan. Jadi, produksi mereka hanya sekitar 15 persen. Kalau Indonesia, hampir 40 persen bisa diproduksi dari dalam negeri,” ucap Qodari dalam program The Prime Show di iNews, Rabu (25/3/2026).
Kedua, ketergantungan Filipina pada Selat Hormuz di Iran sangat besar. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dunia dari Asia Barat. Qodari berujar 80 persen minyak Filipina datang dari selat itu.
Di sisi lain, menurut Qodari, kebutuhan minyak Indonesia dari Selat Hormuz hanya sekitar 20 persen. Lalu, dia mengklaim minyak pengganti sudah dicarikan.
“Di Indonesia tidak terjadi krisis energi seperti di Filipina,” klaim dia.
Baca juga: Mohammed bin Salman Kabarnya Dorong Presiden AS Lanjutkan Perang Lawan Iran, Benarkah?
Qodari mengklaim kondisi cadangan minyak di Indonesia sangat bagus. Dia mengungkapkan beberapa alasannya.
“Pertama, kita punya kilang-kilang minyak yang bisa menampung dalam waktu sekitar katakanlah 25-30 hari. Ini akan ditingkatkan kapasitasnya oleh Presiden menjadi beberapa puluh hari,” kata dia.
Yang kedua, Indonesia memiliki pasokan (supply) minyak yang terus berlanjut meski cadangannya lebih sedikit daripada Filipina.
“Storage Filipina mungkin lebih banyak daripada Indonesia, bisa sampai 50 hari, tetapi kalau tidak ada pasokan yang continue karena (1) impornya sangat besar, (2) tergantung pada Selat Hormuz, maka angka 50 hari itu tidak ada artinya."
Meskipun cadangan minyak Indonesia hanya 30 hari, Indonesia lebih bisa bertahan karena pasokannya datang terus dan sangat kecil yang berasal dari Selat Hormuz.
Qodari berujar tindakan yang dilakukan Indonesia itu lebih kepada bagaimana bersiap menghadapi situasi yang lebih buruk.
Dia menyebut Indonesia punya keleluasaan yang tidak dimiliki oleh Filipina. Lalu, Qodari mengklaim Indonesia beruntung dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto yang punya visi kemandirian energi dan pangan.
“Pak Prabowo sudah mencanangkan agar sumber energi Indonesia beragam. Salah satunya dari biosolar atau dari minyak kelapa sawit.”
Menurut Qodari, Prabowo sudah punya rencana menaikkan bahan bakar diesel dari B40 (40 persen campuran minyak nabati) menjadi B60 (60 persen minyak nabati).
Wacana penerapan WFH
Sebelumnya, Presiden Prabowo telah meminta anak buahnya mengkaji skenario penerapan work from home (WFH) dan pengurangan hari kerja guna menekan konsumsi BBM.
"Kita bersyukur, kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita," ujar Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat, (13/3/2026).
Prabowo mengatakan skenario itu perlu dikaji sebagai antisipasi jika krisis ekonomi terjadi imbas perang di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak. Lonjakan harga bahan baku energi akan berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga pangan.
Dia mewanti-wanti semua pihak untuk tidak merasa terlalu aman tanpa kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.
"Tapi, tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif," tuturnya.
Prabowo kemudian mencontohkan bagaimana pemerintah Pakistan telah memandang situasi saat ini sudah kritis.
Dia menjelaskan skenario yang diterapkan Pakistan meliputi pengurangan gaji pejabat negara dan DPR, mengurangi konsumsi BBM dan penggunaan mobil kementerian, sampai menerapkan WFH dan mengurangi hari kerja.
Menurut Prabowo, Indonesia juga pernah berhasil melewati masa krisis, yakni saat Pandemi Covid-19 yang memicu krisis ekonomi dan kesehatan di seluruh dunia.
"Dulu kita atasi Covid, dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien. Artinya, kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar," ucapnya.
( Tribunpekanbaru.com )