TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Petugas gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan lainnya menertibkan para penyapu koin yang biasa mangkal di jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.
Kali ini, petugas terlihat tidak hanya menertibkan, tetapi turut menyita sapu lidi yang digunakan para penyapu koin.
Sapu-sapu ini biasanya digunakan untuk mengambil uang yang dilemparkan pengendara saat melintasi jembatan Sewo.
Bahkan, gang-gang sempit di sekitar jembatan Sewo juga turut disisir untuk mencari penyapu koin yang berusaha kabur atau bersembunyi dari petugas gabungan yang melaksanakan penertiban.
Tanpa basa-basi, petugas pun langsung menyita sapu dari sejumlah penyapu koin yang kedapatan bersembunyi di gang-gang kecil sekitar jembatan Sewo dalam penertiban tersebut.
Camat Sukra, Sigit Widiyanto, mengatakan, langkah tegas itu diambil jajaran TNI, Polri, pemerintah daerah, dan lainnya, menyikapi adanya penyapu koin di jembatan Sewo yang tertabrak mobil belum lama ini.
Menurut dia, kecelakaan tersebut juga menjadi bukti nyata betapa bahayanya aktivitas penyapu koin di jembatan Sewo, khususnya saat volume kendaraan meningkat pada momen arus balik seperti sekarang.
"Penertiban ini untuk mencegah penyapu koin turun ke jalan, karena membahayakan pengendara maupun penyapu koin itu sendiri," kata Sigit Widiyanto saat ditemui usai penertiban di jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Kamis (26/3/2026).
Ia mengatakan, insiden penyapu koin di jembatan Sewo yang tertabrak mobil belum lama ini juga membuktikan area tersebut sangat rawan kecelakaan, sehingga diminta untuk menghentikan aktivitas itu.
Sementara Kapolsek Sukra, Iptu Andi Supriyatna, mengatakan jajarannya rutin menertibkan hingga mengedukasi para penyapu koin untuk tidak turun ke jalan sebelum masa mudik Lebaran.
Namun, mereka terkesan kucing-kucingan dengan petugas, sehingga aktivitas tersebut seperti tak kunjung berhenti meski petugas berkali-kali menertibkan penyapu koin di jembatan Sewo.
Pihaknya mengakui, para penyapu koin itu pun seperti hilang ditelan bumi saat petugas bersiaga di sekitar jembatan Sewo, dan tiba-tiba bermunculan ketika petugas beranjak dari lokasi.
"Kami mengimbau para penyapu koin untuk tidak beraktivitas pada momen arus balik Lebaran kali ini, karena membahayakan bagi mereka sendiri maupun pengendara," ujar Andi Supriyatna.
Kompensasi KDM
Fenomena penyapu koin di jalur Pantura sebelumnya juga menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan kompensasi kepada 105 penyapu koin di Jembatan Sewo.
Masing-masing menerima Rp600 ribu sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya persuasif agar mereka menghentikan aktivitas tersebut selama masa mudik dan arus balik.
Kapolsek Sukra menyebut bantuan itu diberikan untuk menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di kawasan perbatasan Indramayu dan Subang.
"Terdapat 105 penyapu koin yang terdata mendapatkan bantuan kompensasi ini," kata Andi Supriyatna saat ditemui usai mengamankan penyaluran kompensasi di Kantor Kepala Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Kamis (19/3/2026).
Meski demikian, praktik menyapu koin belum sepenuhnya berhenti. Sehari setelah penertiban yang dipimpin langsung oleh Dedi Mulyadi pada Rabu (18/3/2026), sejumlah warga kembali terlihat turun ke jalan.
Di tengah padatnya arus pemudik, aktivitas tersebut tetap berlangsung. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi karena dilakukan di badan jalan dan dapat memicu kecelakaan sekaligus menghambat arus lalu lintas.
Sutinah (55), salah satu penyapu koin, mengaku kembali ke jalan karena melihat warga lain masih melakukan hal serupa. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp100 ribu saat kondisi ramai.
"Kalau lagi banyak yang ngasih bisa sampai Rp100 ribu, tapi engga tentu. Kadang juga sedikit," katanya.
Dalam momen mudik dan balik Lebaran, ia bisa mengumpulkan hingga Rp500 ribu. Di luar periode tersebut, Sutinah bekerja serabutan di sawah dengan upah sekitar Rp65 ribu untuk setengah hari kerja.
Hal serupa disampaikan Warto (47), warga setempat yang turut terlibat dalam aktivitas itu. Ia menilai kebiasaan pengendara yang melempar uang menjadi pemicu utama praktik tersebut terus terjadi.
"Kalau orang mudik engga ngasih uang, ya enggak bakal ada yang nyapu. Orang nyapu karena lihat duit," ujarnya.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi menjanjikan kompensasi Rp50 ribu per hari selama 12 hari, dengan total Rp600 ribu, bagi warga yang bersedia menghentikan aktivitas menyapu koin hingga 28 Maret 2026.