Sosok Darsono, 32 Tahun Bergelut dengan Spion di Pasar Tunggorono Jombang
Titis Jati Permata March 26, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, JOMBANG - Darsono, sosok berusia 65 tahun di Pasar Tunggorono, Jombang, Jawa Timur, tetap setia menekuni aktivitasnya memperbaiki kaca spion kendaraan. 

Sejak pasar berdiri pada 1994, ia menjadi andalan pengendara yang ingin hemat biaya dengan memperbaiki kaca rusak tanpa harus mengganti seluruh unit. 

Ketelatenannya membuat lapak sederhana itu tetap dicari meski bengkel modern semakin menjamur.

Di tangan Darsono, kaca yang retak atau hilang bisa kembali berfungsi hanya dalam hitungan menit.

Ia cukup mengganti bagian kaca yang rusak, menyesuaikannya dengan rangka lama, lalu memasangnya kembali dengan presisi.

"Biasanya yang datang itu karena spion pecah. Di sini cukup ganti kacanya saja, jadi lebih hemat," ucap Darsono kepada SURYA.co.id di sela-sela aktivitasnya memperbaiki spion pecah, Kamis (26/3/2026).

Keahlian yang Tak Didapat Secara Instan

Keahlian tersebut bukan didapat secara instan. Ia pernah bekerja di pabrik sebelum akhirnya memutuskan keluar. 

Titik balik terjadi ketika seorang temannya, yang memiliki kemampuan serupa, datang dan mengajaknya berjualan di pasar. 

Dari situlah Darsono belajar hingga akhirnya membuka lapak sendiri.

Peralatan yang digunakan pun terbilang sederhana, mulai pemotong kaca, tang, serta stok kaca berbagai jenis, dari datar hingga cembung. 

Namun dari tangan terlatih nya, alat-alat itu mampu 'menghidupkan kembali' spion kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.

Tarif Terjangkau

Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk sepeda motor, biaya berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp 50 ribu. 

Sementara untuk kendaraan roda empat atau lebih, harganya bisa menembus Rp 100 ribu, tergantung jenis dan tingkat kesulitan.

Dalam sehari, sekitar empat hingga tujuh pelanggan datang silih berganti. 

Meski tidak seramai masa awal pasar berdiri, pendapatan tersebut masih cukup menopang kebutuhan keluarga. 

Istrinya pun turut membantu ekonomi rumah tangga dengan berjualan makanan dan kopi di dekat tempat tinggal mereka.

Tergerus Maraknya Belanja Daring

Namun, perubahan zaman tak bisa dihindari. Darsono merasakan penurunan omzet sejak maraknya belanja daring. 

Banyak orang kini lebih memilih membeli suku cadang secara online, meski tak selalu sesuai harapan.

"Kalau di sini bisa lihat langsung barangnya. Kalau online kadang tidak sesuai," ujarnya melanjutkan. 

Layanan Servis ke Rumah

Meski begitu, ia tak tinggal diam. Untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas, Darsono menyediakan layanan servis ke rumah. 

Sebuah nomor telepon terpampang di lapaknya, menjadi jembatan bagi pelanggan yang tak sempat datang langsung.

Menariknya, keahlian yang telah ia tekuni selama 32 tahun itu belum diwariskan kepada keluarga. 

Tak satu pun anak atau kerabatnya yang mengikuti jejaknya. 

Meski demikian, Darsono tidak menutup diri. Ia justru membuka peluang bagi siapa saja yang ingin belajar.

Di balik kesederhanaannya, terselip harapan besar. Ia ingin tetap sehat agar bisa terus membantu pengendara mendapatkan spion yang layak dengan biaya terjangkau sebuah hal kecil yang berdampak besar pada keselamatan di jalan.

Berharap Pasar Tunggorono Kembali Bergeliat

Lebih dari itu, ia juga berharap Pasar Tunggorono bisa kembali bergeliat.

Sebagai salah satu sentra barang loak di Jombang, pasar ini pernah menjadi denyut ekonomi warga kecil.

Di tengah perubahan zaman dan persaingan modern, Darsono memilih bertahan dengan cara yang sederhana memperbaiki, bukan mengganti. Sebuah prinsip yang tak hanya berlaku pada kaca spion, tetapi juga pada semangat hidupnya.

"Semoga pasar ini bisa ramai lagi, dan pedagang kecil tetap bisa bertahan," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.