Efisiensi Besar-besaran Terhadap MBG, Menkeu Purbaya: Bisa Hemat Rp40 T
Firmauli Sihaloho March 26, 2026 04:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan dengan mempertimbangkan efisiensi anggaran.

Di sisi lain, muncul berbagai desakan agar program tersebut dihentikan sementara, menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Konflik di Timur Tengah itu dikhawatirkan akan memperburuk tekanan terhadap anggaran negara, terutama akibat potensi kenaikan harga energi yang harus ditanggung pemerintah.

Adapun, anggaran MBG dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 senilai Rp335 triliun dengan target penerima 82,9 juta. Nilai anggaran ini naik dibanding 2025 sebesar Rp71 triliun dengan target 17,9 juta penerima.

Terkait efisiensi dana MBG ini, Purbaya pun menjelaskan bahwa Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyatakan bahwa program MBG juga akan melakukan sejumlah efisiensi.

Efisiensi tersebut berupa pemangkasan jumlah hari operasional, dari yang awalnya enam hari menjadi hanya lima hari saja.

Sehingga dari efisiensi tersebut bisa menghemat sampai Rp40 triliun, bahkan lebih.

"MBG juga akan melakukan beberapa efisien kalau enggak salah, kan Sabtu diberhentiin kalau enggak salah, kan biasa seminggu 6 hari, akan 5 hari," ungkap Purbaya di Kantor Kemenkeu, dikutip dari YouTube Kompas TV, Kamis (26/3/2026).

Baca juga: JPU Beberkan Gratifikasi yang Melibatkan Abdul Wahid, Arief Setiawan dan Dani Nursalam

Baca juga: Amerika Ajukan 15 Poin Untuk Akhiri Perang, Iran Juga Ajukan 5 Poin Tuntutan, Ini Isinya

Purbaya menegaskan bahwa efisiensi yang dilakukan oleh MBG ini bukan karena dirinya memotong anggaran program unggulan pemerintah tersebut.

Melainkan, dari Kepala BGN sendiri yang menyatakan hal demikian. Namun, pengurangan hari operasional MBG itu saat ini masih bersifat usulan dari BGN.

Oleh karena itu, Purbaya menegaskan bahwa di tengah situasi sekarang ini program MBG tidak menutup mata.

"Jadi ada efisiensi juga di MBG, ada pengurangan cukup banyak tuh, yang dia bilang aja (bisa hemat) Rp40 T, hitungan pertama kasar, tapi bisa lebih." 

"Bukan saya motong ya, memang dia (BGN) melakukan sendiri karena dia bilang masih bisa ada efisiensi dengan keadaan yang seperti sekarang ini. Jadi jangan dibilang MBG tutup mata, enggak, dia (MBG) juga efisiensi," tegas Purbaya.

"Waktu rapat, kepala MBG bilang seperti itu. Saya enggak ngerti hitungannya, tapi dia bilang kira-kira seperti itu, saya bisa ini, ini, ini," tambahnya.

Menurut Purbaya, hal yang paling penting adalah ada efisiensi dan anak sekolah masih bisa makan cukup dari MBG tersebut.

"Dia (Kepala BGN) sepertinya mau lapor ke presiden, tapi potensi itu ada (efisiensi). Kalau kepepet ya itu dijalankan, kan dapat Rp40 T sendiri kata dia ya, Rp40 T selama setahun," jelas Purbaya.

Prabowo Ingin MBG Tetap Jalan

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa MBG akan tetap berjalan seperti biasanya meski tengah terjadi konflik di Timur Tengah.

Prabowo lebih memilih cara lain untuk berhemat daripada menghentikan MBG, karena program ini berdampak besar bagi masyarakat Indonesia, salah satunya karena masih banyak anak Indonesia yang stunting.

Sebab, program MBG ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya dalam menekan angka stunting dan memperkuat fondasi pembangunan generasi mendatang.

“Saya akan bertahan sedapat mungkin, daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan," tegas Prabowo, dalam diskusi bersama jurnalis dan pakar, dikutip dari rilis Badan Komunikasi (Bakom) RI pada Minggu (22/3/2026).

Prabowo lantas menjelaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari hasil penyerapan aspirasi masyarakat selama masa kampanye.

"Anda enggak lihat anak-anak yang stunting? Saya lihat. Saya kampanye sekian kali, saya di desa-desa, saya lihat, umurmu berapa? 11 tahun, badannya anak 4 tahun. Saya, aku yakin, saya berada di jalan yang benar, uang kita ada,” ujar Prabowo.

Selain itu, Prabowo juga memandang  program MBG memiliki dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor, mulai dari dapur produksi hingga rantai pasok pangan. 

“MBG nanti di puncaknya kita akan punya 31.000 dapur. Katakanlah, untuk gampang, hitungnya 30.000 dapur. Tiap dapur mempekerjakan 50 orang, itu sudah 1,5 juta kerja," ujar dia. 

Prabowo kemudian merinci setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dapat menciptakan 5–10 vendor pemasok bahan pangan di tiap dapur.

"Yang jual telur, yang jual wortel, yang jual sayur, tiap vendor ini empiris mempekerjakan sekitar 5 petani. Jadi itu sudah berapa? Sudah 50 lagi, another 1,5 juta orang kerja,” ujar Prabowo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.