TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA — Jumlah kecelakaan lalu lintas selama Operasi Ketupat Telabang 2026 di Kalimantan Tengah menurun dibanding tahun lalu.
Namun di balik penurunan itu, angka korban meninggal dunia justru meningkat.
Baca juga: Jelang Idul Fitri 2026, Operasi Ketupat Telabang Polda Kalteng Siap 53 Pos Pengamanan
Selama 13 hari operasi pengamanan Lebaran, tercatat 28 kecelakaan lalu lintas terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Tengah.
Angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencatat 29 kejadian.
Meski selisih kasus hanya satu kejadian, dampak fatal yang ditimbulkan tahun ini lebih besar.
Direktur Lalu Lintas Polda Kalimantan Tengah, Kombes Pol Yusep Dwi Prastiya menyebut, jumlah korban meninggal dunia selama operasi mencapai 14 orang, naik dari 9 korban jiwa pada tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan tahun 2025 secara kuantitatif jumlah kecelakaan mengalami penurunan. Pada 2025 tercatat 29 kasus, sedangkan tahun 2026 tercatat 28 kasus kecelakaan. Namun secara kualitas atau fatalitas korban justru mengalami kenaikan hampir 52 persen,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Kasus dengan dampak paling berat terjadi di Barito Timur, ketika satu kecelakaan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Satu korban meninggal di lokasi kejadian, sementara dua lainnya meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Peristiwa itu menjadi salah satu penyumbang tingginya angka fatalitas selama masa operasi Lebaran tahun ini.
Menurut Yusep, sebagian besar kecelakaan yang terjadi bukan dipicu pelanggaran berat, melainkan karena kelalaian pengendara saat berada di jalan.
Pengemudi disebut banyak lengah saat melintas di ruas jalan lurus dengan kondisi lalu lintas relatif sepi.
Kurangnya jarak aman dan faktor kelelahan juga dinilai masih menjadi penyebab dominan.
“Faktor utama lebih kepada kurang menjaga jarak, kondisi jalan yang lurus dan sepi sehingga pengendara kurang berhati-hati, serta faktor kelelahan,” katanya.
Situasi ini dinilai menunjukkan bahwa risiko kecelakaan tetap tinggi meski volume kendaraan tidak selalu padat.
Dalam sejumlah kasus, pengendara diduga tetap memaksakan perjalanan jarak jauh tanpa cukup waktu istirahat.
Padahal selama masa operasi, pos pelayanan telah disiapkan di berbagai titik untuk tempat transit maupun pemeriksaan kesehatan.
“Kemungkinan pengendara kurang beristirahat saat menempuh perjalanan jauh, padahal di setiap pos pelayanan sudah disiapkan tempat transit, rest area, cek kesehatan gratis, dan berbagai pelayanan pendukung lainnya,” ujarnya.
Pemantauan arus balik hingga kini masih dilakukan karena pergerakan kendaraan diperkirakan belum sepenuhnya selesai.
Polisi juga mengingatkan bahwa kecelakaan kerap terjadi justru saat kondisi jalan terlihat lancar dan pengemudi merasa aman.
“Meskipun dirinya berhati-hati, belum tentu pengguna jalan lain juga berhati-hati,” tandasnya.
(Tribunkalteng/Iqbal)