Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro Klaten Hadirkan Kirab Ketupat, Kuatkan Daya Tarik Wisata Rowo Jombor
Yoseph Hary W March 26, 2026 11:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNTRENDS.COM, KLATEN – Grebeg Syawal 1447 H di Bukit Sidoguro pada Sabtu (28/3/2026) tidak hanya menghadirkan tradisi kirab ketupat, tetapi juga menguatkan daya tarik wisata kawasan Rowo Jombor, Kecamatan Bayat, Klaten. 

Diprediksi sejak pagi kawasan perbukitan yang menghadap langsung ke Rowo Jombor itu mulai dipenuhi pengunjung. 

Biasanya mereka datang berkelompok, sebagian membawa anak-anak, menikmati suasana terbuka dengan latar perairan yang luas.

Dalam perencanaan Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten, di area utama panitia menyiapkan panggung kesenian. Tarian selamat datang dan alunan musik tradisional mengisi waktu sebelum kirab dimulai.

Momentum ini menjadi penggerak aktivitas wisata.

Tidak hanya menyaksikan tradisi, pengunjung juga memanfaatkan waktu untuk berkeliling, berfoto, hingga menikmati kuliner di sekitar lokasi.

Pemilihan Bukit Sidoguro sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan.

“Untuk meningkatkan daya tarik wisata di daerah Rowo Jombor maka dipilihlah Bukit Sidoguro sebagai alternatif pelaksanaan acara," jelas Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudporapar Klaten Dwi Murwanti saat dihubungi TribunSolo.com lewat aplikasi pesan singkat Whatsapp, Kamis (26/3/2026).

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan bahwa tradisi serupa juga digelar di wilayah Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten. 

“Dalam catatan sosiologis masyarakat Jimbung, Klaten, observasi acara ini dulunya sering dilakukan di Alun-alun Desa Jimbung," imbuhnya. 

Melihat potensi pemikat wisatawan, Pemkab kemudian mendorong adanya kegiatan senada, namun dengan pendekatan berbeda.

Tradisi yang sebelumnya identik dengan ruang desa, kini berpadu dengan lanskap wisata Bukit Sidoguro terbuka dan lebih luas serta mudah diakses.

Di sisi lain, prosesi utama tetap dipertahankan.

Sebanyak 18 gunungan ketupat akan dikirab menuju lokasi acara, sebelum akhirnya diperebutkan warga.

“18 gunungan, dari Pemkab, BUMD dan perusahaan swasta yang ada di Kabupaten Klaten," terangnya. 

Bagi masyarakat, momen ini bukan sekadar hiburan. Tradisi kupatan tetap menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah Idulfitri.

“Tradisi Kupat Syawalan adalah sebagai wujud syukur masyarakat setelah sebulan berpuasa, sekaligus wujud perayaan Idulfitri," tegasnya. 

Dengan perpaduan budaya dan wisata, Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro kini menjelma sebagai agenda yang tidak hanya dinantikan warga lokal, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.