CEO Perusahaan Teknologi Sebut Ada 2 Tipe Orang yang Sukses di Era AI
Facundo Chrysnha Pradipha March 27, 2026 03:17 AM


TRIBUNNEWS.COM - Dari Generasi Z hingga baby boomer, para pekerja di berbagai industri tengah mencari cara untuk mempersiapkan karier mereka di masa depan, seiring kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengubah pasar tenaga kerja.

Dilansir Fortune, CEO perusahaan teknologi Palantir, Alex Karp, menawarkan pandangan sederhana tentang siapa yang akan unggul di era ini.

Palantir Technologies Inc. adalah perusahaan publik asal Amerika Serikat yang mengembangkan platform integrasi dan analitik data untuk membantu lembaga pemerintah, militer, dan perusahaan dalam menggabungkan serta menganalisis data dari berbagai sumber.

“Pada dasarnya ada dua cara untuk mengetahui bahwa Anda memiliki masa depan,” kata miliarder berusia 58 tahun itu dalam podcast TBPN yang dipublikasikan 13 Maret 2026.

“Pertama, Anda memiliki pelatihan kejuruan. Kedua, Anda neurodivergen.”

Kategori pertama yang disebut Karp mencerminkan konsensus yang semakin menguat: profesi dengan keterampilan teknis spesifik, seperti teknisi listrik hingga tukang ledeng, lebih sulit diotomatisasi dan justru semakin dibutuhkan, terutama seiring pembangunan pusat data besar-besaran dan kekurangan tenaga kerja di AS.

Kategori kedua bersifat lebih personal.

Karp telah lama terbuka tentang pengalamannya hidup dengan disleksia, yakni gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, dan pemrosesan informasi.

Secara lebih luas, neurodivergensi mencakup kondisi seperti ADHD dan autisme.

Menurut Karp, perbedaan kognitif ini justru bisa menjadi keunggulan di era AI, bukan karena diagnosisnya, melainkan karena pola pikir yang dihasilkan.

Ia menilai kesuksesan akan berpihak pada individu yang mampu berpikir berbeda, berani mengambil risiko, serta memiliki kreativitas tinggi dalam melihat dan membangun sesuatu yang unik.

Baca juga: 10 Pekerjaan Ini Terancam Digantikan AI di 2030, Apakah Kariermu Termasuk?

Menurut studi Gartner, sekitar seperlima organisasi penjualan di perusahaan Fortune 500 diperkirakan akan aktif merekrut talenta neurodivergen pada 2027 untuk meningkatkan kinerja bisnis.

Di tengah peringatannya bahwa AI akan menghapus banyak pekerjaan, Palantir justru berinvestasi pada talenta neurodivergen dan lulusan sekolah menengah atas.

Meski bukan persyaratan, perusahaan tersebut melihat kandidat neurodivergen sebagai keunggulan strategis.

Palantir bahkan menawarkan “Program Fellowship Neurodivergen” untuk merekrut individu dengan cara berpikir yang berbeda dari jalur konvensional.

“Individu neurodivergen akan memainkan peran yang tidak proporsional dalam membentuk masa depan Amerika dan Barat,” demikian tertulis dalam deskripsi program tersebut.

“Mereka melihat melampaui ideologi yang bersifat performatif dan mampu menemukan keindahan di dunia yang dapat diungkapkan melalui teknologi dan seni.”

Pendekatan ini mencerminkan skeptisisme Karp terhadap jalur karier tradisional.

Meski memiliki tiga gelar, termasuk JD dari Stanford dan PhD filsafat dari Universitas Goethe di Jerman, Karp secara terbuka mengkritik keterbatasan pendidikan tinggi dalam ekonomi berbasis AI.

“AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora,” ujar Karp dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, awal tahun ini.

“Jika Anda belajar di sekolah elit dan mengambil filsafat, saya contohkan diri saya sendiri, sebaiknya Anda memiliki keterampilan lain yang lebih mudah dipasarkan.”

Palantir juga meluncurkan Program Beasiswa Meritokrasi yang ditujukan bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Di tengah menurunnya peluang kerja entry-level bagi Generasi Z, sebagian anak muda mulai meragukan bahwa gelar sarjana saja cukup untuk menjamin kesuksesan.

Namun, tidak semua pemimpin teknologi sepakat dengan pandangan tersebut.

Jaime Teevan, kepala ilmuwan Microsoft, menilai pendidikan tinggi, khususnya ilmu humaniora, justru tetap relevan di era AI.

Ia menekankan pentingnya keterampilan metakognitif seperti fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan keberanian menantang ide.

“Keterampilan ini membutuhkan proses yang tidak mudah dan pemikiran mendalam. Dalam hal ini, pendidikan humaniora tradisional tetap penting,” ujarnya kepada The Wall Street Journal.

Berbeda dengan Karp, Daniela Amodei, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan semakin penting di era AI.

“Hal-hal yang membuat kita manusia justru akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya,” katanya kepada ABC News.

Menurutnya, perusahaan kini mencari individu dengan kemampuan komunikasi yang baik, empati tinggi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk membantu orang lain.

Pekerjaan yang Rentan dan Aman dari AI

Mengutip advisory.com, dalam studi terbaru dari GovAI dan Brookings Institution, peneliti menganalisis lebih dari 350 jenis pekerjaan berdasarkan tingkat paparan terhadap AI dan kemampuan adaptasi pekerjanya.

Paparan AI merujuk pada sejauh mana tugas dalam suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien oleh AI.

Hasilnya, sekitar 37,1 juta pekerja di AS berada dalam kategori paparan AI tertinggi, termasuk penulis, layanan pelanggan, dan penerjemah.

Namun, sekitar 26,5 juta di antaranya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, sehingga berpeluang beralih ke pekerjaan lain jika terdampak.

Pekerja yang lebih mudah beradaptasi umumnya memiliki pendidikan lebih tinggi, pengalaman beragam, berusia di bawah 55 tahun, serta tinggal di wilayah dengan pasar kerja yang kuat.

Carol Chouinard dari Optum Advisory menilai bahwa pendidikan tinggi membantu individu lebih siap untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan baru.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak diatasi dengan kebijakan yang tepat.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pekerja administrasi dan perkantoran memiliki tingkat paparan AI tertinggi dengan kemampuan adaptasi terendah.

Sebanyak 86 persen dari kelompok ini adalah perempuan, yang berarti mereka berisiko terdampak secara tidak proporsional.

“Kelompok ini sangat rentan karena memiliki kontrol terbatas terhadap penggunaan AI dan peluang mobilitas kerja yang rendah,” kata profesor Universitas Virginia, Allison Elias.

Ia menekankan pentingnya pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) untuk menghadapi perubahan ini.

Di sektor kesehatan, sebagian besar pekerjaan masih relatif aman dari dampak AI.

Profesi seperti teknolog bedah, perawat, dokter, serta teknisi laboratorium memiliki risiko rendah.

Namun, beberapa peran seperti pekerja sosial kesehatan, teknisi farmasi, dan tenaga administrasi medis dinilai lebih rentan terhadap otomatisasi.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.