Lipsus: BMKG Ingatkan Kemarau Panjang di Sumsel Tahun 2026, Datang Lebih Cepat dan Kering
Odi Aria March 27, 2026 03:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprediksi kemarau tahun ini datang lebih cepat dari jadwal normal dan lebih kering dari kemarau sebelumnya.

Selain itu diperkirakan kemarau tahun ini lebih lama mencapai 5 bulan dengan durasi yang berbeda-beda di tiap wilayah.

Berdasarkan analisis terbaru menggunakan Zona Musim (ZOM) periode tahun 1991–2020, kemarau di Sumsel diperkirakan mulai terjadi pada Mei hingga Juni 2026.

Awal musim kemarau paling dini diprediksi terjadi pada awal Mei, khususnya di wilayah OKI bagian selatan.

Sekitar 29 persen wilayah mulai memasuki kemarau pada akhir Mei, sementara mayoritas wilayah atau 64 persen lainnya baru akan mengalami awal kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tidak terjadi secara seragam, awal musim kemarau di Sumsel tahun ini cenderung maju dibandingkan normalnya.

"Musim kemarau datang lebih cepat dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat dari biasanya," kata Kepala BMKG Sumsel Dr Wandayantolis, Rabu (25/3/2026).

BMKG merinci musim kemarau ini curah hujan lebih kering atau hujan lebih sedikit sehingga meningkatkan potensi kekeringan serta risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

Sementara itu puncak musim kemarau diprediksi Juli–Agustus dengan mayoritas normal. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, sebagian besar wilayah mengalami puncak kemarau yang relatif sama.

Namun, terdapat beberapa pengecualjan seperti Palembang bagian barat, Musi Banyuasin selatan, Banyuasin barat, PALI timur, Muara Enim utara, Ogan Ilir utara dan OKI barat, sebagian besar OKU Timur diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal sekitar satu bulan.

Sebaliknya, Pagar Alam dan Lahat diperkirakan mengalami puncak kemarau lebih lambat, bahkan mundur lebih dari satu bulan dari kondisi normal.

"Variasi ini menunjukkan adanya perbedaan spasial yang cukup tinggi antar wilayah di Sumatera Selatan," tambah Wandayantolis.

Diperkirakan, durasi musim kemarau di Sumsel berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian atau sekitar 2 hingga 5 bulan.

Wilayah Sumsel bagian tengah, terutama Sebagian besar Empat Lawang, sebagian kecil Lahat selatan mengalami durasi kemarau terpanjang yakni 13 hingga 15 dasarian atau 4-5 bulan kemarau.

Sementara itu, durasi kemarau terpendek diperkirakan terjadi di Musi Rawas Utara dan Lubuk Linggau serta OKU Selatan bagian barat dan Lahat bagian selatan.

"Prakiraan kemarau yang cenderung lebih kering dan datang lebih cepat, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi selama periode puncak kemarau," tutup Wandayantolis.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD OKU melalui Manager Posdalop, Gunalfi mengatakan, kemungkinan kemarau tahun 2026 ini lebih panjang.

Ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya ada indikasinya menguatnya indeks El-Nino dan lainya.

Kemarau dibagi beberapa zona, dan untuk hasil observasi dari instansi terkait kemungkinan kemarau akan mulai di bulan 4 di sebagian wilayah Indonesia dan zona yang lain kemungkinan akan menyesuaikan di bulan Mei, dan Juni dan kemungkinan kemarau tahun 2026 akan terjadi cukup panjang kemungkinan sampai bulan Oktober 2026.

Kalaksa BPBD OKU menyarankan kepada seluruh stake holder dan masyarakat untuk dapat memanfaatkan cuaca saat ini untuk dijadikan langkah upaya mitigasi bencana hidro meteorology type kering. Ia mencontohkan membuat embung-embung dan kantong-kantong air lainya dengan memanfaatkan curah hujan pada saat ini.

Pihak BPBD OKU juga minta  bantuan kepada stake holder terkait untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi berkenaan dengan ketahanan pangan, perkebunan dan pertanian.

Lebih lanjut Kalaksa BPBD OKU menjelaskan, berdasarkan analisa bibit Siklon Tropisn Narelle berkembang dari bibit siklon tropis 96P yang mencapai intensitas siklon tropis.

Siklon tropis narelle mulai memasuki wilayah monitoring TCWC Jakarta pada 21 Maret 2026 pukul 01.00 WIB.

Intensitas Siklon Tropis Narelle menurun menjadi kategori low sebagai Ex-Siklon Tropis Narelle pada 22 Maret 2026 pukul 10.00 WIB.

Tetapi Siklon Tropis Narelle ini tidak berdampak langsung terhadap cuaca di wilayah Sumatera Selatan Khususnya Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Namun tetap dihimbau kepada seluruh lapisan masyarakat Kabupaten OKU untuk tetap selalu meningkatkan kewaspasdaan terhadap ancaman/potensi bencana hidro meteorology type basah.

Karena pada saat ini  sedang memasuki puncaknya pergantian musim (panca robah) yang yang dapat menimbulkan dinamika atmofer yang membuat cuaca sangat dinamis.  

Peralihan Hujan ke Kemarau
Sementara BMKG Sumsel memprediksi Kamis (26/3/2026) ini, cuaca di Sumsel masih akan hujan. Potensi hujan diprediksi terjadi di sejumlah wilayah di Sumsel namun tidak termasuk Palembang.

Potensi hujan diprediksi ringan hingga sedang di sejumlah wilayah, terutama pada siang hingga malam hari.

Berdasarkan data BMKG, kondisi cuaca secara umum didominasi berawan pada pagi hari, kemudian berpotensi hujan ringan hingga sedang di beberapa daerah saat siang dan sore.

Potensi hujan itu diprakirakan terjadi di wilayah Banyuasin, Empat Lawang, Lubuk Linggau, Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Ilir, OKI, OKU, OKU Selatan, OKU Timur, dan PALI.

Hujan umumnya terjadi pada siang hingga sore hari, bahkan berlanjut hingga malam di beberapa wilayah.

Sementara itu, Palembang diprakirakan didominasi kondisi berawan sepanjang hari, meski tetap berpotensi hujan ringan pada waktu tertentu.

Suhu udara di Sumsel diperkirakan berkisar antara 14°C hingga 32°C, dengan kelembapan udara cukup tinggi antara 48 persen hingga 100?n kecepatan angin berkisar 9 hingga 24 km/jam.

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada siang dan sore hari, serta mengantisipasi dampak seperti jalan licin dan genangan air.

"Sumsel saat ini masuk musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau sehingga potensi perubahan cuaca ekstrem bisa terjadi misal panas siang hari dan mendadak hujan bahkan disertai petir sore hingga malam hari," kata Kepala Stasiun Klimatologi SMB II, Siswanto. 

Kapolda Instruksikan Siaga Karhutla

KAPOLDA Sumsel Irjen Pol Shandi Nugroho menyoroti potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebagai ancaman pasca libur lebaran.
Hal itu ia sampaikan saat memimpin apel sekaligus halal bihalal bersama jajaran di Halaman Mapolda Sumsel, Rabu (25/3/2026).

Di hadapan jajarannya Kapolda mengingatkan potensi terjadinya karhutla berdasarkan data dan prediksi BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal dan cenderung lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya, dengan puncak terjadi pada Juli hingga Agustus.

"Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan titik panas yang dapat berkembang menjadi kebakaran," ujar Shandi.

Ia menginstruksikan seluruh jajaran untuk segera memperkuat langkah mitigasi, diantaranya, sinergi lintas instansi, pemetaan wilayah rawan, edukasi kepada masyarakat, dan pencegahan praktik pembakaran lahan.

"Karhutla tidak bisa ditangani secara sektoral. Kita harus bergerak bersama dan lakukan pencegahan sejak dini," katanya.

Di samping itu Shandi menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh personel dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan Ramadhan, Idul Fitri, hingga Hari Raya Nyepi.

"Keberhasilan ini adalah hasil kerjasama yang kuat antara Polri, TNI, Pemerintah Daerah, ASN, dan elemen masyarakat," katanya.

Meskipun telah memasuki masa kerja normal, Operasi Ketupat 2026 belum resmi berakhir hari ini dan masih berlangsung hingga pukul 24.00 WIB.

"Seluruh personel diminta tetap siaga penuh, khususnya dalam memantau dinamika arus balik dan situasi kamtibmas di wilayah Sumatera Selatan," tutupnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.