TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di Kabupaten Batang Hari setelah Hari Raya Idulfitri tahun ini, Jumat (27/3/2026).
Stabilitas harga tersebut dinilai memberi angin segar bagi masyarakat yang menggantungkan ekonomi pada sektor perkebunan sawit.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Batang Hari, Lembang Harahap, mengatakan harga sawit di tingkat petani saat ini berada diharga Rp3.200 hingga Rp3.300 per kilogram.
"Untuk harga di tingkat RAM sekitar Rp3.500, sedangkan di pabrik mencapai Rp3.700 sampai Rp3.800," katanya.
Ia menjelaskan, tren harga tersebut relatif stabil jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan global maupun domestik terhadap komoditas berbasis kelapa sawit.
Selain itu, ia juga menyebut dinamika global yang turut memberi dampak terhadap harga komoditas, situasi geopolitik internasional ikut memengaruhi pasar.
"Permintaan bahan baku berbasis sawit saat ini semakin meningkat. Situasi global juga kemungkinan berpengaruh, sehingga harga menjadi cukup baik bagi petani," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan pemerintah pusat terus mendorong pemanfaatan sawit secara lebih luas, salah satunya melalui program biodiesel seperti B30 hingga B50.
Menurutnya, kebijakan tersebut turut memperkuat permintaan dan menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Ia juga menilai kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus meningkatkan produktivitas kebun sawit, baik yang dikelola masyarakat maupun perusahaan.
Ia berharap harga sawit tidak mengalami fluktuasi tajam ke depan. Untuk itu, pihaknya bersama sektor usaha akan terus melakukan koordinasi secara berkala.
"Kami berharap harga tetap stabil, sehingga masyarakat Batang Hari yang sangat bergantung pada sawit bisa terus mendapatkan kepastian pendapatan," jelasnya.
Sebagai langkah ke depan, pemerintah daerah juga mendorong diversifikasi usaha di sektor perkebunan sawit. Di antaranya melalui integrasi tanaman pangan di lahan sawit, khususnya pada masa tanaman belum menghasilkan.
Ia menjelaskan, pada usia sawit 0 hingga 3 tahun, lahan masih dapat dimanfaatkan untuk sistem tumpang sari.
"Bisa ditanam padi gogo, jagung hibrida, maupun umbi-umbian. Ini diharapkan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat," tuturnya.
Menurutnya hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di masa mendatang. (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)
Baca juga: Harga TBS Sawit Jambi H+3 Lebaran, Selisih di Tingkat Petani dan Pabrik
Baca juga: Selat Hormuz Diblokade Iran, Prabowo Perintahkan Bahlil Berburu Pasokan Minyak Global