TRIBUNTRENDS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai “hadiah” bagi negaranya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam rapat kabinet yang digelar pada Kamis (26/3/2026).
Dalam laporan yang dikutip dari CNBC, Jumat (27/3/2026), langkah itu disebut sebagai sinyal positif dari Teheran.
Trump menilai tindakan tersebut mencerminkan adanya itikad di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.
Ia menjelaskan bahwa awalnya Iran hanya berencana memberikan izin kepada delapan kapal untuk melintas.
Rencana itu disebut sebagai bentuk awal keseriusan Iran dalam menunjukkan sikap terbuka.
Baca juga: Negosiasi Buntu, Iran Ajukan 5 Syarat, Amerika 15 Syarat, 2 Pihak Tak Terima, Kapan Perang Berakhir?
“Mereka mengatakan, ‘untuk menunjukkan bahwa kami nyata dan solid, kami akan membiarkan Anda mendapatkan delapan kapal minyak’,” ujar Trump.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan adanya perubahan keputusan dari pihak Iran.
Trump menyebut Iran kemudian menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan sebelumnya.
“Mereka berkata, ‘kami akan mengirim dua kapal lagi’, sehingga total menjadi 10 kapal,” lanjutnya.
Trump mengaku awalnya tidak terlalu memikirkan “hadiah” tersebut hingga melihat laporan media.
Ia kemudian menyimpulkan, “Saya kira kita berurusan dengan pihak yang tepat.”
Namun demikian, belum ada konfirmasi independen yang memastikan kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari kesepakatan yang dimaksud Trump.
Data perusahaan intelijen maritim menunjukkan sejumlah kapal tanker minyak dan gas memang melintas di kawasan Teluk sejak awal pekan.
Sebagian di antaranya diketahui menuju negara-negara seperti China, Thailand, Singapura, dan India, sementara tujuan lainnya belum dapat dipastikan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau hampir seperempat distribusi minyak dunia melalui jalur laut, melintasi kawasan ini.
Sejak konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung hampir empat pekan, Iran diketahui memperlambat arus pelayaran di selat tersebut, sehingga memicu kekhawatiran pasokan energi, terutama di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam proposal yang dilaporkan media Iran, Teheran bahkan mengajukan syarat agar memiliki kedaulatan atas Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.
Baca juga: Kapal dari 5 Negara Diizinkan Melintas dengan Aman di Selat Hormuz, Punya Hubungan Baik dengan Iran
Trump mengeklaim bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung “sangat substansial”, meskipun Teheran membantah adanya negosiasi langsung.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan terdapat berbagai pihak yang mencoba berperan dalam mendorong penyelesaian damai.
Ia juga mengonfirmasi bahwa AS telah menyusun kerangka perdamaian berisi 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator.
Sebelum mengungkap detail “hadiah” tersebut, Trump bahkan sempat meminta persetujuan Witkoff. “Steve, boleh saya ungkapkan hadiahnya?” kata Trump, seraya mengakui kekhawatiran bahwa pernyataan itu dapat memengaruhi proses diplomasi.
Pengetatan akses di Selat Hormuz sejak awal konflik turut mendorong kenaikan harga energi. Rata-rata harga bensin di Amerika Serikat dilaporkan mencapai sekitar 3,98 dollar AS per galon, naik sekitar 1 dollar AS dibandingkan sebelum perang.
Meski demikian, Trump menilai dampaknya tidak separah yang diperkirakan. “Saya pikir harga minyak akan naik lebih tinggi dan pasar saham akan turun lebih dalam. Itu tidak separah yang saya kira,” ujarnya.
Di sisi lain, Trump mengakui risiko keamanan di Selat Hormuz masih tinggi. Ia menyoroti potensi serangan terhadap kapal yang melintas sebagai tantangan utama.
“Kalau 99 persen berhasil, 1 persen tetap tidak bisa diterima. Karena satu persen itu bisa berarti satu rudal menghantam kapal bernilai miliaran dollar AS,” kata dia.
(TribunTrends/Kompas)