Sosok Suwarno, 31 Tahun Mengabdi di Pendopo Bondowoso, Layani Bupati hingga Presiden
Titis Jati Permata March 27, 2026 04:04 PM

 

SURYA.co.id, BONDOWOSO - Suwarno, abdi dalem terlama di Pendopo Kabupaten Bondowoso, telah mengabdi sejak 1995 sebagai petugas perlengkapan pimpinan. 

Selama 31 tahun, ia melayani lima bupati berbeda dengan penuh integritas, menjadikan pengabdian di Pendopo Ki Ronggo sebagai cara sederhana namun nyata untuk ikut membangun Bondowoso.

Awali Karir di Bagian Perlengkapan

​Saat pertama kali menjadi tenaga sukwan pada 1990 di Bagian Umum Pemkab Bondowoso, Suwarno tidak langsung bertugas di pendopo. 

Ia mengawali karier sebagai tim perlengkapan yang berlokasi di Gedung Olahraga (Gelora).

Baca juga: Mudik Lebaran Sembari Berwisata Alam di Teduh Glamping dan Kawah Wurung Bondowoso

​Setelah perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK), pengelolaan Gelora beralih ke Dinas Pariwisata dan Olahraga. Akhirnya, Suwarno pun ditugaskan ke Pendopo Bupati.

​"Masuk pendopo sekitar tahun 1995," kenangnya saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Jumat (27/3/2026).

Tugas Layani Bupati

​Pertama kali dipindahkan, Suwarno mendapat tugas melayani Bupati Agus Sarosa. 

Hampir selama dua periode, ia melayani orang nomor satu di Bondowoso tersebut. 

Tugasnya terus berlanjut hingga masa jabatan Bupati Mashoed, Bupati Amin Said Husni, Bupati Salwa Arifin, dan saat ini Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid.

​"Awalnya saya driver pikap, sekarang diberi tanggung jawab untuk semua kegiatan di pendopo," ujar pria kelahiran 25 November 1969 tersebut.

Karakter dan Gaya Kepemimpinan Berbeda

​Baginya, setiap pemimpin memiliki karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda. 

Ia mencontohkan masa awal bekerja; Bupati Agus Sarosa dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin. 

Hal itu menular kepada dirinya dan petugas lain kala itu.

​"Beliau sangat disiplin, sehingga karakter saya pun ikut terbentuk," ungkap pria yang telah diangkat menjadi PNS pada 1997 ini.

Tak Penah Manfaatkan Posisi

​Meski sangat dekat dengan pimpinan daerah, Suwarno tak pernah memanfaatkan posisinya untuk keuntungan pribadi.

Menurutnya, integritas adalah hal mutlak yang harus dijaga. Karena itulah, ia tidak pernah meminta bantuan khusus atau mengajukan pindah tempat tugas. 

Baginya, disapa atau berbincang sejenak dengan bupati sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

​"Saya tidak mau dipindah, di sini saja mengabdi sampai menunggu purna tugas pada 2027 nanti," urainya.

Jadi Tumpuan untuk Bertanya

​Suwarno seperti hafal di luar kepala setiap sudut Pendopo Bondowoso. 

Tak hanya ruangan, berbagai cerita tentang tempat ini pun sering kali membuat tamu menjadikannya tumpuan untuk bertanya.

Termasuk mengenai "ritual" setiap pergantian pimpinan. 

Sebelum bupati baru menempati pendopo, biasanya ada tradisi berbeda-beda, mulai dari pembacaan Sholawat Burdah hingga pengajian selama 41 hari.

​"Saya tidak tahu filosofi mendalamnya, tapi kami menyiapkan semua kebutuhan doa tersebut," ungkapnya.

Bertemu Presiden RI Tanpa Berdesakan

​Bekerja sebagai abdi dalem juga memberinya privilege tersendiri, yakni bisa bertemu Presiden RI tanpa harus berdesak-desakan. 

Sebut saja saat mendiang Gus Dur dan Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Bondowoso. 

Suwarno menyiapkan segala kebutuhan di kamar di Pendopo Bondowoso.

​Ia mengaku pengalaman tersebut adalah kebanggaan yang tak ternilai, meski harus dibayar dengan rasa khawatir sepanjang malam.

"Takut ada yang kurang," kenangnya sembari tersenyum malu karena tak sempat berfoto dengan presiden kala itu.

Waktu Bersama Keluarga Berkurang

​Berbicara mengenai duka, Suwarno mengakui waktu bersama keluarga menjadi berkurang. 

Meski begitu, istri dan kedua anaknya tidak pernah protes dan selalu mendukung, bahkan jika ia harus bertugas mendadak di tengah malam.

​Dua tahun lagi, Suwarno akan memasuki masa purna tugas.

Baginya, melayani pimpinan adalah cara sederhana namun nyata untuk ikut membangun Bondowoso.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.