SURYA.co.id, SURABAYA — Pemkot Surabaya berencana membangun peternakan ayam potong skala besar pada 2026.
Di bawah pengelolaan anak perusahaan BUMD milik Pemkot, peternakan ini ditargetkan mampu memproduksi sekitar 30 ribu ayam potong setiap masa panen.
Program ini direncanakan untuk memenuhi cadangan pasokan pangan di Kota Surabaya. Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemkot Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan, selama ini Surabaya merupakan kota besar dengan jumlah konsumen yang tinggi, namun bukan daerah produsen pangan.
Karena itu, melalui anak perusahaan BUMD, Pemkot Surabaya mencoba membangun peternakan ayam sendiri agar memiliki cadangan pasokan dan kemandirian pangan.
"Selama ini Surabaya sebagai kota besar, konsumennya banyak, tapi bukan produsen,” kata Vykka di Surabaya.
Peternakan ayam tersebut akan dikelola oleh anak perusahaan BUMD Pemkot Surabaya, yakni Surya Kreasi Pangan (SKP), yang merupakan anak perusahaan dari PT Yekape Surabaya.
Baca juga: Permintaan Daging Naik, RPH Surabaya Pastikan Stok Sapi Aman hingga Lebaran 2026
Perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang distribusi pangan itu nantinya juga berperan dalam penyediaan komoditas pangan.
Vykka mengakui, selama ini Surabaya lebih berperan sebagai kota konsumen dibanding produsen bahan pangan. Padahal, kota besar tetap perlu memiliki cadangan pasokan sendiri untuk menjaga stabilitas pangan.
Rencananya, peternakan ayam potong tersebut akan memiliki kapasitas sekitar 30 ribu ekor ayam dengan masa panen sekitar tiga bulan sekali.
Meski cukup besar, produksi tersebut belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Surabaya.
Namun, dengan adanya cadangan pasokan, program ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga ayam di pasaran.
Baca juga: Mahasiswa Untag Surabaya Hadirkan Inovasi IoT untuk Peternakan Ayam Petelur
“Memang tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, tapi paling tidak kita punya cadangan dan bisa suplai sendiri,” ujarnya.
Peternakan ayam rencananya akan dibangun di lahan aset milik Yayasan Kas Pembangunan Surabaya yang berada di wilayah Bobok, Menganti, Kabupaten Gresik.
Total lahan aset yang tersedia di kawasan tersebut sekitar 60 hektare
Dari total lahan tersebut, peternakan ayam tahap awal hanya membutuhkan sekitar 5 hingga 10 hektare. Lahan itu selama ini merupakan aset idle yang belum dimanfaatkan secara optimal. “Daripada jadi lahan menganggur, kita optimalkan,” ujarnya.
Peternakan ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Saat ini, proses perizinan dan pembangunan fasilitas sedang dipersiapkan. Ke depan, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi peternakan terintegrasi, tidak hanya ayam, tetapi juga peternakan sapi.
Untuk pembangunan peternakan ayam, kebutuhan investasi diperkirakan sekitar Rp7 miliar hingga Rp10 miliar. Investasi tersebut termasuk penggunaan teknologi modern seperti sistem Internet of Things (IoT) untuk pengelolaan peternakan.
Pendanaan berasal dari internal perusahaan dan penyertaan modal dari induk perusahaan, sehingga tidak bergantung pada APBD. "Targetnya operasional pertengahan 2026. Nanti ke depan konsepnya peternakan terintegrasi, tidak hanya ayam, tapi bisa sapi juga,” katanya.
Selain menyiapkan peternakan, pada 2025, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga telah meresmikan Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) di kawasan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, Kamis (21/8/2025).
RPHU Jeruk ini merupakan rumah pemotongan hewan unggas pertama yang dimiliki oleh PT Rumah Potong Hewan (RPH) Perseroda.
Kapasitas RPHU ini cukup besar. Setiap harinya mampu melakukan pemotongan unggas hingga 5.000 ekor per hari. Biaya pemotongannya pun juga cukup murah, yakni Rp1000 per kilogram.