Cerita Imah: Dapat Rp2 Juta dari Prabowo Meski Hunian di Rel Senen Dibongkar, Harap Bisa Hidup Layak
Budi Sam Law Malau March 27, 2026 11:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Bagi Imah (45), peristiwa pada Kamis (26/3/2026) terasa seperti mimpi yang nyata sekaligus membingungkan.

Di tengah hiruk-pikuk bantaran rel Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, sosok Presiden Prabowo Subianto tiba-tiba hadir di depan matanya.

Kunjungan mendadak itu menyisakan amplop berisi Rp2 juta di tangan, namun juga menyisakan puing di tempatnya bernaung.

Baca juga: Pemkot Depok Pastikan Pembongkaran Bangunan Liar di Situ 7 Lancar

Imah, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari memulung botol bekas, mengaku tak menyangka akan bertemu orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Menjelang pukul 18.00 WIB, suasana berubah riuh saat bantuan tunai mulai dibagikan kepada tiap kepala keluarga (KK).

Amplop Berisi Rp 2 Juta

"Ya, kemarin Pak Prabowo ke sini. Saya juga nggak tahu, tiba-tiba ada di sana, terus jam 6 kurang bagi-bagi rezeki," kenang Imah saat ditemui Wartakotalive.com, Jumat (27/3/2026).

Bagi wanita yang kerap hanya mengantongi Rp35 ribu hasil memulung selama dua minggu ini, uang Rp2 juta adalah angka yang sangat besar.

Namun, pemberian itu menyisakan tanda tanya.

Tanpa pesan khusus maupun penjelasan peruntukan, uang tersebut diserahkan langsung oleh ajudan presiden.

"Rp2 juta satu keluarga. Nggak ada omongan buat apa, semua orang juga jadi teka-teki dikasih mendadak begitu," tuturnya jujur.

Bantuan Tunai Jadi Modal Ngontrak

Ironisnya, kegembiraan menerima bantuan itu hanya bertahan sekejap.

Beberapa jam setelah kunjungan presiden, instruksi pembongkaran bangunan di bantaran rel turun.

Kini, rumah semi-permanen yang ia huni selama dua tahun terakhir telah rata dengan tanah.

Imah yang biasanya tidur di bawah atap terpal kini harus memutar otak.

Baca juga: Prabowo Instruksikan KAI Data Warga dan Siapkan Hunian Layak Bagi Warga Bantaran Rel

Uang bantuan dari presiden yang sedianya bisa digunakan untuk modal hidup, kini terpaksa dialihkan untuk mencari tempat bernaung.

"Ngontrak dulu dari uang itu, tapi ke depannya harus nyari lagi. Yang penting sekarang jangan kehujanan, jangan kepanasan," kata Imah lemas.

Mimpi Rusun yang Dekat dengan Kali

Meski kini harus mengungsi, Imah tidak menutup diri terhadap rencana relokasi ke Rumah Susun (Rusun).

Baginya, hidup layak adalah impian, namun urusan perut tetap menjadi prioritas utama.

Ia bersedia pindah asalkan lokasinya tidak menjauhkan dirinya dari tumpukan botol bekas dan aliran kali tempatnya mencari rezeki.

"Kalau dikasih rusun saya happy, tapi jangan jauh. Saya nyari duitnya di sini," ujarnya memberi syarat pada nasib.

Baca juga: Warga Bantaran Rel Kereta Api Keluhkan Tidak Dapat Perhatian, Minta Pramono Bangun Pagar

Kisah Imah adalah potret nyata ironi di jantung ibu kota.

Di satu sisi, ada kehangatan bantuan dari sang pemimpin negara.

Namun di sisi lain, ada kerasnya kebijakan penertiban yang memaksa warga kecil kembali 'berjudi' dengan ketidakpastian esok hari.

Kini, Imah hanya bisa berharap, Rp2 juta itu cukup kuat untuk menyambung napasnya hingga ia menemukan dinding tembok yang lebih kokoh untuk bersandar.

Di balik angka Rp2 juta, ada cerita tentang manusia yang hanya ingin hidup lebih layak, tanpa harus kehilangan pijakan untuk mencari nafkah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.