Houthi Turun Gelanggang, Setelah Selat Hormuz, Selat Bab al-Mandab Terancam Diblokade
TRIBUNNEWS.COM - Kelompok Houthi Yaman menunjukkan gelagat untuk ikut turun gelanggang, terlibat langsung dalam pertempuran Iran melawan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Kelompok yang didukung Iran itu mengatakan pada hari Kamis (26 Maret) bahwa mereka sepenuhnya siap untuk memasuki perang bersama Iran begitu keadaan berubah.
"Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi," kata seorang pemimpin Houthi kepada Reuters.
Baca juga: Tiga Syarat AS ke Iran Kalau Teheran Tak Mau Dibombardir: Putus Dukungan Buat Hamas-Hizbullah-Houthi
Kelompok tersebut telah mengancam akan membuka front perang baru, memblokir jalur perdagangan global utama lainnya - Selat Bab al-Mandab, atau Gerbang Air Mata.
Ancaman ini dilontarkan ketika Iran terus memblokade Selat Hormuz, jalur utama lain perdagangan komoditas dunia, yang menyebabkan harga minyak dunia naik.
Berbicara kepada Reuters, seorang pemimpin Houthi yang tidak disebutkan namanya mengumumkan kalau kelompok tersebut "siap secara militer sepenuhnya dengan semua opsi".
Pernyataan tersebut menunjukkan kalau kelompok Houthi sedang melakukan pembicaraan langsung dengan Teheran.
"Hingga saat ini Iran berkinerja baik dan mengalahkan musuh setiap hari, dan pertempuran berjalan sesuai keinginannya," tambah pemimpin itu.
"Jika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan ini, maka kita dapat mengevaluasinya." Evaluasi tersebut, menurut laporan, akan berarti satu hal: front baru, kali ini di sepanjang Laut Merah.
Kelompok Houthi bermarkas di Yaman, tepat di sebelah Selat Bab al-Mandab — jalur sempit selebar 20 mil tempat Laut Merah bertemu dengan Teluk Aden.
Tidak berlebihan jika menyebutnya sebagai salah satu jalur air terpenting di planet ini.
Kira-kira barang komoditas senilai 1 triliun dolar melewati jalur ini setiap tahun, menghubungkan Eropa dan Asia.
Perusahaan pelayaran tidak memiliki alternatif yang baik.
Selama perang Israel-Hamas, serangan Houthi di sepanjang jalur tersebut menyebabkan gangguan serius terhadap perdagangan global — cukup untuk memaksa pengalihan rute besar-besaran dan menaikkan biaya pengiriman di seluruh dunia.
Kali ini, taruhannya lebih tinggi.
Dengan situasi di Selat Hormuz yang sudah praktis tertutup, Arab Saudi — eksportir minyak terbesar di dunia — telah mengalihkan pengirimannya melalui Laut Merah.
Tindakan Houthi di sana tidak hanya akan mengguncang pasar.
Itu bisa mencekik salah satu jalur terakhir yang tersisa bagi minyak Teluk untuk mencapai seluruh dunia.
AS dan Israel, yang tengah dalam tekanan sekutu dan negara-negara di dunia untuk mengakhiri perang, dilaporkan menyiapkan alternatif serangan lainnya ke Yaman dengan dalih menyasar Houthi.