TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita Irwan Husna (41) korban kebakaran rumah di Kelurahan Huangoboto, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Kebakaran melanda dua rumah di Kelurahan Huangoboto, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Selasa (24/3/2026).
Isi rumah hangus dilalap api tak tersisa, pasca kebakaran korban tinggal di rumah kerabat.
TG: Saat kebakaran terjadi, posisi Bapak di mana?
IH: Saya lagi di tempat kerja, di bengkel las, jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Jadi begitu ada kejadian, saya tidak terlalu jauh dari lokasi.
TG: Bagaimana Bapak pertama kali mengetahui kebakaran itu?
IH: Pas saya keluar dari tempat kerja, saya lihat sudah ada kebakaran di sekitar rumah. Asap sudah terlihat dan orang-orang mulai panik.
TG: Apa yang Bapak lihat saat tiba di lokasi rumah?
IH: Waktu saya sampai, sudah dua rumah terbakar. Api sudah besar dan cepat sekali merambat, jadi saya tidak tahu pasti sumbernya dari mana.
TG: Apa tindakan pertama yang Bapak lakukan saat itu?
IH: Saya langsung lari masuk ke rumah, karena saya tahu ada orang tua dan anak saya di dalam. Saya langsung dobrak pintu supaya bisa cepat masuk.
TG: Apakah Bapak menolong sendiri atau dibantu warga?
IH: Saya dibantu tetangga dan saudara di sebelah. Mereka juga ikut bantu saat saya dobrak pintu dan evakuasi. Tapi bukan saya pertama kali yang masuk sudah ada tetangga.
TG: Siapa saja yang berada di dalam rumah saat kejadian?
IH: Di dalam itu ada orang tua saya dan anak saya yang kedua. Mereka ada di dalam saat api sudah mulai membesar.
TG: Di mana posisi istri dan anak pertama saat itu?
IH: Istri saya lagi ke Ampana Sulawesi Tengah urus ijazah, sama anak pertama. Jadi di rumah cuma kami bertiga.
TG: Bagaimana proses penyelamatan keluarga saat itu?
IH: Alhamdulillah bisa cepat dikeluarkan. Walaupun kondisi sudah panik, tapi kami fokus selamatkan orang dulu.
TG: Apa yang Bapak rasakan saat kejadian berlangsung?
IH: Sangat panik, karena yang saya pikirkan cuma orang tua dan anak. Saya tidak pikirkan yang lain.
Ibu saya saat ini sedang salat, saya masuk ketemu juga dengan tetangga yang menyelamatkan ibu saya pas di tengah rumah.
Tapi yang saya pikirkan lagi anak saya yang tidur di kamar ke tiga. Karena saat saya tinggal kerja saya minta anak saya untuk tidur.
TG: Kapan bapak mengetahui anak bapak ternyata selamat:
IH: Nah, saat itu saya mau paksa masuk ke kamar ke tiga tapi situasi tidak memungkinkan, api sudah besar terpaksa saya keluar saya memutar lewat belakang cari-cari anak saya dan ternyata anak saya sudah keluar sebelum kebakaran dia di rumah tetangga main sama temannya.
Setelah kebakaran saya baru tahu saat saua keluar ikut jendela karena memang biasa saya kalau keluar saya kunci dari dalam. Anak saya ikut juga dan sudah main sama temannya.
TG: Setelah semua berhasil diselamatkan, apa yang Bapak rasakan?
IH: Saya langsung merasa lega. Walaupun rumah sudah terbakar, yang penting keluarga saya selamat.
TG: Apakah ada barang berharga yang sempat diselamatkan?
IH: Tidak ada sama sekali. Bahkan pakaian pun tidak sempat diambil karena api sudah besar.
TG: Kenapa tidak sempat menyelamatkan barang?
IH: Karena apinya cepat sekali membesar, ditambah angin. Kalau dipaksakan ambil barang, bisa berisiko.
TG: Bagaimana kondisi rumah setelah kebakaran?
IH: Sudah habis terbakar, tidak ada yang tersisa. Semua sudah hangus.
TG: Bagaimana kondisi orang tua setelah kejadian?
IH: Orang tua juga masih drop karena panik dan trauma saat kejadian itu.
TG: Bagaimana kondisi Bapak sendiri saat ini?
IH: Masih syok juga, tapi saya bersyukur karena keluarga selamat semua.
TG: Saat ini Bapak dan keluarga tinggal di mana?
IH: Sementara tinggal di rumah saudara, di samping lokasi kejadian.
TG: Apa rencana Bapak setelah kejadian ini?
IH: Rencananya mau bersihkan sisa-sisa kebakaran, siapa tahu masih ada yang bisa diambil.
TG: Apakah sudah mulai pembersihan?
IH: Belum, masih menunggu arahan karena takut belum ada pemeriksaan dari pihak kepolisian.
TG: Apakah ada rencana membongkar sisa bangunan?
IH: Ada rencana ke arah sana, tapi masih menunggu kepastian dari pihak terkait.
TG: Menurut Bapak, masih ada barang yang bisa diselamatkan sekarang?
IH: Sepertinya sudah tidak ada lagi, karena semuanya sudah terbakar.
TG: Apakah sudah ada bantuan dari pemerintah sampai saat ini?
IH: Sampai sekarang belum ada bantuan langsung, baru ada yang datang melihat kondisi.
TG: Apakah ada pihak lain yang sudah datang ke lokasi?
IH: Ada informasi dari pihak wali kota yang sempat datang melihat situasi di sini.
TG: Apa pekerjaan Bapak sehari-hari?
IH: Saya bekerja di perbengkelan las untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
TG: Berapa jumlah anak yang Bapak miliki?
IH: Dua anak, yang pertama SMP kelas dua dan yang kedua masih SD kelas dua.
TG: Siapa nama orang tua yang ikut menjadi korban?
IH: Ibu saya, Asma Musa, umurnya sekitar 60 tahun.
TG: Apa harapan Bapak setelah musibah ini?
IH: Harapannya ada bantuan dari pemerintah, minimal pakaian dan kebutuhan dasar.
TG: Kenapa bantuan itu sangat dibutuhkan saat ini?
IH: Karena kami sudah tidak punya apa-apa lagi, semua habis terbakar. Bakan baju yang saya pakai sekarang hanya diberikan teman.
TG: Apa yang paling Bapak syukuri dari kejadian ini?
IH: Saya sangat bersyukur karena anak dan orang tua saya selamat, itu yang paling penting bagi saya.(*/Jefri)