Filosofi Janur dan Maaf dalam Tradisi Lebaran Ketupat, Warisan Wali Songo yang Tak Lekang Zaman
Sinta Darmastri March 28, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Bagi masyarakat di tanah Jawa, gema takbir Idul Fitri bukanlah akhir dari perayaan. Sepekan setelah hari kemenangan berlalu, tepatnya pada 8 Syawal, sebuah tradisi unik kembali menghangatkan suasana. Itulah Lebaran Ketupat, sebuah momen yang pada tahun 2026 ini jatuh tepat pada tanggal 28 Maret.

Di saat sisa-sisa suasana silaturahmi masih terasa, masyarakat kembali berkumpul, saling mengunjungi kerabat, hingga menggelar perhelatan syukuran yang sarat akan makna kebersamaan.

Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Akar sejarah Lebaran Ketupat bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Tradisi ini merupakan warisan luhur dari era Wali Songo, khususnya berkat strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga atau Raden Sahid.

Pada masa Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah, Sunan Kalijaga dengan cerdik memadukan ajaran Islam ke dalam struktur budaya lokal. Beliau menyisipkan nilai-nilai spiritual ke dalam tradisi slametan yang sudah akrab di telinga masyarakat Nusantara kala itu. Alhasil, ketupat terpilih menjadi simbol pemersatu yang merangkul aspek religi sekaligus sosial.

Baca juga: Bukit Sidoguro Jadi Magnet Grebeg Syawal 2026, Tradisi Ketupat Kini Dorong Wisata Rowo Jombor

Simbolisme Suci di Balik Janur

Istilah kupatan bukan sekadar soal makan bersama. Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus rapat oleh anyaman janur kuning mengandung filosofi mendalam tentang penyucian diri. Padatnya isi ketupat menggambarkan kondisi manusia yang kembali fitrah atau suci setelah ditempa selama sebulan penuh di madrasah Ramadan.

Berdasarkan studi dalam Jurnal Sociopolitico bertajuk “Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat bagi Masyarakat Jawa”, ada tiga pilar utama yang menyokong tradisi ini:

  1. Jembatan Maaf yang Tulus

Ketupat adalah perlambang permohonan ampun. Dalam tradisi Jawa, menyuguhkan dan menyantap ketupat bersama tamu adalah simbol bahwa pintu maaf telah dibuka lebar. Segala khilaf dan ganjalan di hati dianggap luruh bersama hidangan tersebut.

2. Manifestasi Kebersihan Jiwa

Momen makan ketupat adalah pengingat visual bahwa seseorang telah "lulus" dan bebas dari noda dosa pasca-puasa. Ini adalah dorongan moral agar setiap Muslim senantiasa menjaga kebersihan hati dengan saling mengasihi.

3. Perekat Tali Silaturahmi

Lebaran Ketupat memperpanjang napas komunikasi sosial. Warga tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi tawa dan doa dalam syukuran sederhana bersama tetangga sekitar.

Baca juga: Grebeg Syawalan Bukit Sidoguro Bayat Dibanjiri Warga, Berebut Ketupat Total 1 Ton Lebih

Menjaga Nyala Tradisi di Era Modern

Meski zaman terus bergulir menuju modernitas, Lebaran Ketupat tetap berdiri kokoh sebagai identitas budaya Jawa. Ia bukan sekadar seremoni sejarah dari masa Wali Songo, melainkan ruang bagi kita untuk meneguhkan kembali nilai kesederhanaan.

Dalam hangatnya suasana Syawal 2026 ini, Lebaran Ketupat hadir untuk membisikkan pesan abadi: bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang merayakan hari raya, tetapi tentang seberapa kuat kita menjaga hati tetap bersih dan seberapa erat kita menggenggam tangan sesama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.