Daftar Mobil Listrik yang Beredar di Indonesia, Ini Ragam Jenisnya
Array A Argus March 28, 2026 01:10 PM

TRIBUN-MEDAN.COM,- Keberadaan mobil listrik kembali menjadi sorotan nasional setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana besar untuk mengganti seluruh kendaraan di Indonesia dengan kendaraan berbasis tenaga listrik.

Gagasan ini tidak hanya mencakup kendaraan roda dua dan roda empat, tetapi juga diperluas hingga truk dan traktor.

Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendorong transisi energi dan mempercepat penggunaan kendaraan ramah lingkungan di seluruh sektor transportasi.

Baca juga: Harta Kekayaan Letjen TNI Bambang Trisnohadi, Kepala Staf Teritorial TNI yang Baru

Ilustrasi Pengendara Mobil listrik yang sedang melakukan pengecasan kendaraan listrik pada salah satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Ilustrasi Pengendara Mobil listrik yang sedang melakukan pengecasan kendaraan listrik pada salah satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). (Tribun Medan/HO)

Jika melihat ke belakang, perjalanan mobil listrik di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan 2010-an.

Pada masa itu, sejumlah model premium mulai hadir melalui jalur impor, seperti Tesla yang masuk sekitar tahun 2014, Mitsubishi Outlander PHEV, serta BMW i3s yang sempat tampil di pameran GIIAS 2019.

Meski masih terbatas dan berharga tinggi, kehadiran model-model tersebut menjadi tonggak awal pengenalan teknologi kendaraan listrik kepada masyarakat.

Baca juga: Nasib Dokter Richard Lee, Masa Penahanannya di Rutan Akan Diperpanjang

Memasuki periode 2020–2022, perkembangan mobil listrik semakin terasa.

Beberapa produsen mulai menghadirkan SUV dan city car listrik yang lebih terjangkau, antara lain Hyundai Kona Electric, Wuling Air EV, dan MG ZS EV.

Di periode ini pula mulai bermunculan model plug-in hybrid (PHEV) dari sejumlah merek premium.

Kehadiran pilihan yang lebih variatif membuat pasar kendaraan listrik perlahan terbentuk dan menarik minat pengguna baru.

Baca juga: Roy Suryo Lega Keputusan dr Tifa di Kasus Ijazah Jokowi, Soroti Isu Tudingan Dana Rp 50 Miliar

Pada tahun 2023–2024, pertumbuhan mobil listrik di Indonesia mencapai fase ledakan volume.

Deretan mobil listrik baru masuk pasar dengan harga lebih bersaing, seperti Wuling Binguo EV, Neta V dan Neta V-II, Wuling Cloud EV, hingga berbagai model lain yang sudah dirakit secara lokal (CKD).

Produksi dalam negeri ini menjadi salah satu faktor yang memperluas adopsi, karena harga jual dapat ditekan dan lebih sesuai dengan daya beli masyarakat.

Baca juga: Daftar 7 Negara di ASEAN Terapkan WFH Termasuk Indonesia dan Vietnam Antisipasi Krisis Energi Global

SPKLU PLN Siap Layani Pengendara Mobil Listrik di Sumut Selama Libur Idul Adha 1446 H
SPKLU PLN Siap Layani Pengendara Mobil Listrik di Sumut Selama Libur Idul Adha 1446 H (Tribun Medan/HO)

Secara keseluruhan, jenis mobil listrik yang beredar di Indonesia kini semakin beragam.

Tidak hanya city car kecil, tetapi juga SUV, hatchback, sedan mewah, hingga kendaraan komersial. Mayoritas model tersebut mulai ramai hadir sejak 2019 dan terus tumbuh pesat hingga 2024.

Variasi ini memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat, baik dari sisi fungsi maupun harga.

Dengan besarnya dukungan pemerintah dan pertumbuhan pasar yang signifikan dalam satu dekade terakhir, masa depan kendaraan listrik di Indonesia tampak semakin cerah.

Baca juga: Libur Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Cek Penjelasan Berikut Ini

Rencana untuk mengganti seluruh kendaraan dengan tenaga listrik tentu menjadi tantangan besar, namun perkembangan teknologi, produksi lokal, dan kesadaran masyarakat yang meningkat membuat langkah tersebut semakin mungkin diwujudkan.

Mobil listrik bukan lagi sekadar tren, melainkan bagian dari transformasi energi nasional yang sedang berjalan.

Jenis Mobil Listrik yang Beredar di Indonesia

Saat ini, berbagai jenis mobil listrik sudah beredar di Indonesia, mulai dari city car kecil, SUV, hingga sedan dan minibus.

Baca juga: Bus Jemaah Umrah WNI Terbakar di Jalur Mekkah-Madinah, Berawal Pecah Ban, 24 Penumpang Selamat

Kebanyakan masuk secara bertahap sejak pertengahan‑2010‑an, lalu semakin bertambah pesat sejak 2019 hingga 2024.

Berikut jabaran jenis mobil listrik yang sudah beredar dan kapan mulai masuk Indonesia, berdasarkan perkembangan yang tercatat di media lokal.

1. Mobil listrik murni (full‑BEV) perkotaan

Contoh utama:

  • Wuling Air EV
    City car listrik murni ini mulai diperkenalkan secara resmi di Indonesia sekitar 2022–2023 dan cepat menjadi salah satu model listrik paling populer di kota‑kota besar karena desain mungil, harga relatif terjangkau, dan cocok untuk jarak dekat.

  • Seres E1
    Mobil listrik mikro ini dikenal sebagai salah satu BEV termurah di Indonesia, masuk dan mulai dipasarkan sekitar 2023–2024, umumnya untuk penggunaan di dalam kota atau komersial ringan.

  • Neta V / Neta V‑II
    Merek Neta Auto Indonesia memasarkan Neta V sebagai crossover SUV listrik sekitar 2022–2023, lalu menghadirkan versi Neta V‑II yang sudah dirakit lokal (CKD) pada 2024, dengan harga sekitar Rp299 juta.

Baca juga: Tampang Samin Tan Resmi DItahan Kejagung, Kasus Korupsi Pertambangan di Kalteng


2. SUV listrik murni

Contoh utama:

  • Hyundai Kona Electric
    Hyundai memasarkan Kona Electric sebagai SUV listrik murni di Indonesia, yang resmi diluncurkan dan mulai dijual sekitar 2019–2020. Mobil ini menjadi salah satu pionir SUV listrik resmi dengan jangkauan yang cukup jauh untuk standar awal BEV di Indonesia.

  • Hyundai Ioniq 5
    SUV listrik mewah berbasis platform E‑GMP mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar 2021–2022, lalu mulai dirakit lokal di pabrik Hyundai di Cikarang mulai 2023–2024, sehingga termasuk mobil listrik “buatan Indonesia” meski memakai teknologi global.

  • MG ZS EV
    MG Motors menghadirkan SUV listrik ZS EV sekitar 2020–2021, sebagai salah satu SUV listrik pertama dari merek volume yang cukup terjangkau dan menawarkan daya jelajah yang kompetitif untuk pasar menengah.


3. Hatchback dan city car murni lain

Contoh:

  • Wuling Binguo EV
    Produk hatchback listrik Wuling ini diumumkan dan mulai dijual resmi di Indonesia sekitar 2023, dengan produksi rakitan CKD di Cikarang mulai akhir 2023, sehingga termasuk mobil listrik pertama yang diproduksi di Indonesia oleh merek Wuling.

  • Wuling Cloud EV
    Medium hatchback listrik ini diluncurkan Mei 2024 dan mulai dirakit di pabrik Wuling di Cikarang pada bulan yang sama, menandai masuknya hatchback listrik menengah dengan jangkauan sekitar 460 km untuk pasar Indonesia.


4. Mobil listrik mewah dan premium

Contoh:

  • BMW i3 / i3s
    Menurut catatan GIIAS 2019, BMW i3s resmi diperkenalkan sebagai mobil listrik murni di Indonesia pada 2019, menjadi salah satu pionir mobil listrik mewah yang dijual resmi di Tanah Air.

  • Mercedes‑Benz EQE / EQS
    Merek Mercedes‑Benz mulai menawarkan sedan listrik mewah seperti EQE dan EQS di Indonesia sekitar 2022–2023, sebagai bagian dari strategi elektrifikasi global yang diadopsi di pasar Indonesia.

  • Lexus UX 300e
    Lexus memasuki segmen listrik di Indonesia lewat UX 300e, yang mulai dipasarkan sekitar 2021–2022 sebagai SUV listrik mewah dengan fokus pada kenyamanan dan inovasi teknologi.


5. Mobil listrik komersial dan minibus

Contoh:

  • DFSK Gelora Electric (E‑BV / E‑MB)
    DFSK menghadirkan Gelora Electric E‑BV (minibus) dan E‑MB (bagasi tertutup) sekitar 2022–2023, dengan harga mulai sekitar Rp350–399 juta, sehingga menjadi salah satu pilihan kendaraan listrik untuk bisnis logistik dan transportasi jarak dekat.

  • Hyundai Ioniq 5 (versi komersial)
    Selain untuk konsumen umum, beberapa Ioniq 5 juga dipakai sebagai armada taksi atau shuttle listrik, yang mulai terlihat di jalanan kota besar sekitar 2021–2024.


6. Mobil plug‑in hybrid (PHEV) dan hybrid listrik

Selain full‑BEV, beberapa jenis mobil “listrik” yang sudah beredar adalah PHEV dan hybrid dengan mesin bensin plus motor listrik.

Contoh utama:

  • Nissan Kicks e‑POWER
    Merek Nissan memperkenalkan Kicks e‑POWER di Indonesia sekitar 2019–2020, sebagai crossover hybrid yang menggunakan mesin bensin sebagai generator listrik, bukan untuk menggerakkan roda secara langsung.

  • BMW X3 / X5 xDrive45e PHEV
    BMW menawarkan beberapa model PHEV seperti X3 xDrive45e dan X5 xDrive45e, yang mulai dijual di Indonesia sekitar 2020–2021, dengan kapasitas baterai dan jangkauan EV yang cukup untuk perjalanan harian.

  • Mitsubishi Outlander PHEV
    Mitsubishi menghadirkan Outlander PHEV di Indonesia sekitar 2014–2015, lalu terus diperbarui. Mobil ini menjadi salah satu SUV plug‑in hybrid pertama yang tersedia secara resmi di Indonesia.

Untung dan Rugi Menggunakan Mobil Listrik

Menggunakan mobil listrik menawarkan sejumlah keuntungan besar, terutama dari sisi biaya operasional, lingkungan, dan kenyamanan berkendara.

Namun di sisi lain, ada pula sejumlah kerugian yang perlu dipertimbangkan, khususnya terkait harga beli, infrastruktur pengisian, dan risiko jual kembali.

Berikut penjelasan lengkapnya, seperti dilansir dari berbagai sumber termasuk Tribunnews.com dan Kompas.com.

Keuntungan menggunakan mobil listrik

Salah satu keuntungan utama mobil listrik adalah hemat biaya bahan bakar dan operasional.

Menurut analisis Kompas dan laporan terkait kendaraan listrik, energi listrik jauh lebih murah dibanding bahan bakar minyak (BBM) per kilometer tempuh.

Dengan 1 kWh listrik, mobil listrik umumnya bisa menempuh sekitar 7 kilometer, sehingga total biaya operasionalnya lebih rendah dibanding mobil konvensional bahkan LCGC.

Selain itu, biaya perawatan mobil listrik lebih murah dan lebih sederhana.

Sistem penggerak listrik memiliki komponen jauh lebih sedikit dibanding mesin pembakaran dalam, sehingga tidak memerlukan pergantian oli, busi, filter udara, atau beberapa komponen lain yang sering rusak pada mobil BBM.

Karena gesekan dan panas lebih rendah, keausan komponen juga cenderung lebih lambat.

Dari segi lingkungan, mobil listrik jauh lebih ramah polusi.

Mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung saat berjalan, sehingga membantu mengurangi polusi udara dan kontribusi terhadap perubahan iklim.

Ini sejalan dengan upaya pemerintah dan dunia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon di sektor transportasi.

Mobil listrik juga menawarkan kenyamanan berkendara yang lebih tinggi.

Karena tenaga listrik menghasilkan torsi instan, akselerasi mobil listrik terasa lebih cepat dan responsif dibanding mobil konvensional.

Suaranya juga lebih sunyi sehingga perjalanan terasa lebih tenang dan tidak banyak getaran.

Selain itu, banyak mobil listrik kini dilengkapi fitur keselamatan dan teknologi canggih seperti sistem pengendalian elektronik, sistem keamanan tambahan, dan fitur bantuan pengemudi.

Secara kebijakan dan regulasi, pemilik mobil listrik mendapat beberapa insentif.

Di Indonesia, mobil listrik dikenakan pajak kendaraan bermotor (PKB) yang lebih rendah, sekitar 0,1 persen dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), sehingga pajak tahunannya bisa jauh lebih murah dibanding mobil berbahan bakar bensin.

Di beberapa kota, mobil listrik juga terbebas dari aturan ganjil‑genap atau mendapat prioritas tertentu di jalur tertentu.

Kerugian atau kekurangan mobil listrik

Di sisi lain, harga mobil listrik masih jauh lebih tinggi dibanding mobil BBM sejenis.

Data Kompas dan beberapa media lain menunjukkan bahwa harga rata‑rata mobil listrik bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah lebih mahal dibanding mobil konvensional.

Perbedaan ini membuat biaya kepemilikan total (Total Cost of Ownership/TCO) dalam beberapa tahun masih lebih tinggi dibanding mobil BBM, meskipun biaya operasionalnya lebih murah.

Infrastruktur pengisian daya masih terbatas menjadi salah satu kendala utama.

Di Indonesia, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih kalah jauh dibanding SPBU, sehingga perjalanan jauh atau keluar kota bisa jadi lebih rumit.

Risiko mobil kehabisan daya di tengah kemacetan atau di daerah minim SPKLU adalah salah satu alasan mengapa banyak konsumen masih enggan beralih ke mobil listrik.

Selain itu, waktu pengisian baterai lebih lama dibanding mengisi bensin.

Menggunakan wall charger rumahan, pengisian penuh bisa memakan waktu beberapa jam, sementara fast charging di stasiun umum memang lebih cepat, tetapi tidak semua area memiliki fasilitas tersebut.

Jika mobil sering dipakai intensif, waktu tunggu ini bisa mengganggu mobilitas pengguna.

Batasi jarak tempuh (range) juga menjadi kekurangan tersendiri.

Meskipun teknologi baterai terus berkembang, mayoritas mobil listrik di Indonesia masih memiliki jangkauan yang lebih pendek dibanding mobil BBM, apalagi jika digunakan dalam kondisi cuaca ekstrem atau banyak AC yang hidup.

Jika harus menempuh perjalanan jarak jauh, konsumen harus memastikan rute dan posisi SPKLU di sepanjang jalan.

Nilai jual kembali mobil listrik juga cenderung lebih rendah dan turun lebih cepat.

Karena teknologi dan skema insentif bisa berubah, generasi mobil listrik yang lebih baru bisa jauh lebih murah dan canggih, sehingga mobil lama cepat terlihat ketinggalan zaman.

Hal ini membuat mobil listrik kurang ideal bagi konsumen yang membeli mobil sebagai aset investasi jangka panjang.

Terakhir, ketahanan dan perawatan baterai menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Baterai mobil listrik memiliki siklus hidup tertentu dan bisa menurun kapasitasnya seiring waktu, sehingga perlu penggantian atau perbaikan yang biayanya relatif mahal.

Asuransi dan pemeliharaan baterai juga belum tentu semurah dan semudah perawatan mesin konvensional.(ray/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.