53,4 Persen Anak Usia Sekolah di Perkotaan Mengalami Miopia, Kenali Tanda-tandanya Sejak Dini
Adi Suhendi March 28, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Miopia atau rabun jauh pada usia anak sekolah di Indonesia meningkat tajam.

Data menunjukkan, lebih dari separuh atau 53,4 persen anak di wilayah perkotaan seperti Jakarta mengalami miopia.

Jika tidak ditangani sejak dini, miopia berpotensi berkembang menjadi lebih parah dan meningkatkan risiko gangguan penglihatan serius di masa depan.

Dokter spesialis mata RS Mata Nasional Cicendo Bandung, Susanti mengatakan, miopia pada anak sering berkembang tanpa disadari dan kemudian berdampak pada aktivitas belajar.

Miopia pada anak ditandai dengan kesulitan melihat objek jauh dengan jelas, sering menyipitkan mata, duduk terlalu dekat dengan layar atau papan tulis, serta keluhan seperti sakit kepala atau mata mudah lelah.

Baca juga: Dua Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Anak Terkena Rabun Jauh

“Kondisi ini  bisa dipicu oleh faktor antara lain riwayat keluarga, kebiasaan melihat pada jarak dekat dalam waktu lama, jarak baca yang terlalu dekat, serta kurangnya waktu beraktivitas di luar ruang,” kata Susanti di Jakarta, ditulis Sabtu (28/3/2026).

Ditambahkan dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals & Clinics Tri Rahayu bahwa semakin dini kondisi miopia muncul, semakin besar pula risiko menjadi miopia tinggi yang memicu komplikasi seperti kerusakan retina hingga kebutaan.

Karena itu, deteksi dan penanganan sejak awal menjadi langkah penting, terutama dengan mengenali gejala serta faktor risiko yang kerap muncul dalam keseharian anak.

Baca juga: Memahami Efek Penggunaan Gadget terhadap Kesehatan Mata Anak, Banyak yang Rabun Jauh di Usia Muda

“Upaya memperlambat progresivitas miopia sangat diperlukan untuk mencegah risiko komplikasi tersebut,” ujar Dr Tri Rahayu.

Sejumlah fasilitas layanan kesehatan kini menyediakan ruang edukasi untuk membantu orang tua memahami miopia pada anak, termasuk mengenali gejala dan faktor risiko sejak dini.

Salah satunya adalah Essilor Stellest Corner, yang hadir di beberapa rumah sakit termasuk RS mata Nasional Cicendo.

Ruang ini membantu orang tua memperoleh informasi terkait manajemen miopia, sekaligus mendukung tenaga medis dalam membimbing keluarga mengenai langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini.

Berbagai pendekatan digunakan untuk mengelola dan membantu memperlambat perkembangan miopia.

Ada kacamata, lensa kontak, terapi obat seperti atropin hingga perkembangan teknologi optik, termasuk desain lensa khusus seperti HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) juga tersedia untuk membantu mengendalikan perkembangan miopia, meskipun efektivitasnya dapat berbeda pada setiap anak.

Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga perlu dipertimbangkan bersama tenaga medis.

Kombinasi deteksi dini, perubahan kebiasaan visual sehari-hari, dan pemantauan rutin tetap menjadi kunci untuk mengurangi risiko gangguan penglihatan akibat miopia pada anak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.