Di balik penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Roma, terungkap bahwa sebuah diskusi krusial di Surabaya menjadi motor penggerak utama terpilihnya momentum bersejarah ini.
Dalam acara "Afternoon Talk" yang disiarkan langsung dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Takhta Suci, terungkap kronologi penting yang terjadi sebelum penandatanganan MoU pada 25 Maret 2026.
Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Agustinus Didik Tri Budi Utomo menuturkan bahwa pertemuan di Surabaya pada pertengahan Februari adalah saat di mana rencana besar ini mulai dikonkretkan.
Mgr. Didik yang merupakan Uskup Surabaya menceritakan bahwa pada 15 Februari, inisiator Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Putut Prabantoro dan Mayong S. Laksono, mendatangi dirinya di Surabaya.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendorong realisasi penggunaan Bahasa Indonesia di media resmi Vatikan yang sebelumnya sempat terhambat.
"Pada 15 Februari, Mas Putut dan Mas Mayong datang menemui saya di Surabaya. Mereka menceritakan sejarah panjang perjuangan ini dan mendorong agar segera diwujudkan," ujar Mgr. Didik.
Baca juga: Wartawan Katolik Jadi Inisiator Penggunaan Bahasa Indonesia di Vatikan, Simbol Pengakuan Identitas
Dalam pertemuan tersebut hadirpula sejumlah wartawan Katolik di Surabaya. Pertemuan di Surabaya tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi sesi pengambilan keputusan teknis.
Di sanalah Mgr. Didik memeriksa jadwal kegembalaannya dan menentukan tanggal penandatanganan.
"Saya lihat kalender, dan satu-satunya minggu yang kosong adalah minggu ini. Saya langsung memilih tanggal 25 Maret karena bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita. Bagi saya, itu adalah momentum yang sangat pas," tambah Uskup Surabaya tersebut.
Pertemuan di Surabaya tersebut kemudian menjadi bahan bakar bagi KBRI Takhta Suci untuk "menginjak pedal gas" dalam berdiplomasi dengan Dikasteri Komunikasi Vatikan. Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, menyebutkan bahwa koordinasi antara KWI, PWKI, dan KBRI menjadi semakin intensif pasca-diskusi di Surabaya tersebut.
"Saya hanya berfungsi membuka pintu dan menjadi jembatan. Namun, kerja keras kawan-kawan PWKI dan kesediaan KWI-lah yang membuat hal ini menjadi nyata," kata Trias Kuncahyono.
Putut Prabantoro menambahkan bahwa urgensi membawa Bahasa Indonesia ke Vatikan sangat tinggi, mengingat Indonesia adalah salah satu negara "pemasok" misionaris (rohaniwan-rohaniwati) terbesar di dunia.
"Jaringan misionaris kita ada di lebih dari 70 negara. Kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News adalah bentuk pengakuan sekaligus kebutuhan komunikasi bagi warta Gereja universal ke tanah air dan wilayah serumpun seperti Malaysia, Singapura, dan Timor Leste," papar Putut.
Baca juga: Vatikan Resmi Gunakan Bahasa Indonesia di Vatican News, Jadi Bahasa Resmi ke 57
Dengan resminya Bahasa Indonesia di Vatican News, masyarakat Indonesia kini dapat mengakses informasi mengenai aktivitas Paus, katekese, dan kebijakan kemanusiaan Takhta Suci secara langsung dalam bahasa ibu. Hal ini dianggap sebagai jembatan diplomasi yang sangat efektif, mengingat pengaruh Vatikan yang mencakup hubungan diplomatik dengan 185 negara.
Penandatanganan MoU ini sendiri dilakukan oleh Mgr. Didik mewakili KWI dan Paolo Ruffini, Prefek Dikasteri Komunikasi Takhta Suci, tepat pada hari raya Kabar Sukacita, sebagaimana yang telah direncanakan dalam diskusi di Surabaya tersebut.
Prestasi ini menjadi kado indah bagi peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci Vatikan, sekaligus memperkuat posisi tawar budaya dan bahasa Indonesia di kancah internasional.