TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR-Mendukung tindak lanjut pemulihan hutan di kawasan Danau Toba, khususnya di Kabupaten Samosir, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Drs Rapidin Simbolon MM, turut serta melakukan penanaman pohon di Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Sabtu (28/3/2026).
Penanaman pohon tersebut digelar oleh JPIC Keuskupan Agung Medan (Kapusin Medan) yang diinisiasi Ketua Umum Sekber Gokesu, Pastor Walden Sitanggang OFM Cap, bersama Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Tano Batak, Jhantoni Tarihoran, serta lembaga adat Oppu Raja Ulosan Sinaga.
Kegiatan ini juga dihadiri Kapolres Samosir AKBP Rina Sri Nirwana Tarigan, S.I.K., pegiat lingkungan Wilmar Simanjorang, Pastor Guido Situmorang, pemuda Katolik, Ketua AMAN Tano Batak Jhantoni Tarihoran serta warga setempat.
Rapidin mengapresiasi Keuskupan Agung Medan, khususnya Pastor Walden, yang menginisiasi penanaman pohon sebagai tindak lanjut dari perjuangan penutupan PT TPL.
“Terima kasih Keuskupan Agung Medan yang telah memberikan hati,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Rapidin menyumbangkan dana pribadi sebesar Rp50 juta untuk mendukung pemulihan kawasan hutan agar kembali berfungsi sebagai daerah tangkapan air Danau Toba.
“Sebagai dukungan saya, akan saya sumbangkan Rp50 juta. Tidak seberapa, tapi ini bagian dari kegigihan untuk mengembalikan fungsi hutan,” katanya.
Ke depan, Rapidin menyebut akan mengupayakan tambahan bibit pohon melalui komunikasi dengan Ketua Komisi B DPRD Sumut, Sorta Ertaty Siahaan.
Ia juga memastikan DPD PDI Perjuangan Sumut dalam waktu dekat akan kembali turun ke lokasi untuk melakukan penanaman berbagai jenis pohon.
“Kami akan datang lagi untuk menanam. Saya yakin bisa mendatangkan bibit dari Aek Nauli dengan berbagai jenis pohon,” ujarnya.
Rapidin turut mengapresiasi AMAN Tano Batak yang dinilai konsisten mendampingi masyarakat adat dalam memperjuangkan hak serta menjaga tanah adat.
“Saya tahu persis pengabdian mereka luar biasa. Tepuk tangan untuk AMAN,” ucapnya.
Ia mengaku bangga dengan kegiatan tersebut dan menyebutnya akan menjadi catatan penting dalam pembahasannya di Komisi XIII DPR RI maupun kementerian terkait.
“Mari kita berjuang bersama, membebaskan ‘penderitaan’ pohon-pohon di sini, agar kembali merdeka dan burung-burung kembali ke habitatnya,” katanya.
Sementara itu, Pastor Walden Sitanggang menegaskan bahwa penanaman pohon ini penting dilakukan karena kawasan tersebut sebelumnya mengalami konflik lingkungan, namun kini memasuki tahap pemulihan.
Ia menyebut, berdasarkan peta dari Kementerian Kehutanan, kawasan tersebut sudah dalam kondisi gundul.
“Misi kami bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanamkan nilai keadilan dan keutuhan ciptaan. Tidak ada perdamaian tanpa keadilan, tanpa keutuhan ciptaan, dan tanpa kepastian hidup bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanaman dilakukan bersama lembaga adat yang diakui pemerintah, yakni Oppu Raja Ulosan Sinaga.
Pastor Walden juga mengapresiasi peran Rapidin Simbolon yang sejak awal menerima dan mendukung perjuangan mereka, termasuk saat menyampaikan aspirasi ke Komisi XIII DPR RI.
Ketua AMAN Tano Batak, Jhantoni Tarihoran, mengatakan penanaman pohon bagi masyarakat adat bukan sekadar program konservasi, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan yang diwariskan leluhur.
“Ini adalah komitmen menjaga tanah dan sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Rapidin atas dukungan yang selama ini diberikan, termasuk saat mendampingi mereka di tingkat pusat.
Kapolres Samosir AKBP Rina Sri Nirwana Tarigan menyatakan komitmennya mendukung upaya pemulihan lingkungan di kawasan Danau Toba.
“Saya sudah jatuh cinta dengan tempat ini, dengan kebudayaannya dan masyarakatnya. Artinya saya harus melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Ia mengaku baru pertama kali terlibat langsung dalam kegiatan lingkungan di wilayah tersebut, namun memiliki kepedulian terhadap kondisi hutan dan Danau Toba yang dinilai mengalami penurunan kualitas.
“Saya sudah tiga bulan di sini. Air Danau Toba mulai surut, ikan red devil mendominasi, ikan endemik terganggu, dan hutan juga rusak,” katanya.
Menurutnya, secara kasat mata kawasan Partungko Naginjang tampak hijau dari luar, namun kondisi di dalam hutan sudah mengalami kerusakan.
“Oleh karena itu, saya mendukung kegiatan ini sepenuh hati. Dari sisi penegakan hukum, saya tegaskan komitmen untuk mendukung pemulihan Danau Toba,” ujarnya.
Terkait penebangan hutan, ia menegaskan tidak akan mentolerir pelanggaran dan meminta dukungan masyarakat dalam upaya penegakan hukum.(Jun-tribun-medan.com).