Kuba Terancam? Trump Lempar Sinyal Keras soal Target Berikutnya
SERAMBINEWS.COM- Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menyebut Kuba sebagai target berikutnya dalam kebijakan luar negerinya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri forum investasi di Miami, ketika ia membahas operasi militer Amerika di Venezuela dan Iran.
Dilansir melalui GB News (29/3/2026), dalam pidatonya, Trump sempat mengatakan bahwa “Kuba adalah berikutnya”, sebelum mencoba menarik ucapannya dengan meminta media mengabaikan pernyataan tersebut.
Namun, ia kembali menegaskan pernyataan itu di hadapan para peserta forum, yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan intervensi baru Amerika Serikat di kawasan Karibia.
Baca juga: Trump Kesal ke Sekutu, NATO Disebut Tak Lakukan Apa pun Hadapi Iran
Trump juga menjelaskan pendekatan “perdamaian melalui kekuatan” yang menjadi dasar kebijakannya.
Ia mengakui bahwa meskipun sebelumnya berjanji untuk menghindari penggunaan kekuatan militer, dalam kondisi tertentu langkah tersebut tetap akan digunakan.
Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat saat ini semakin tegas dan agresif.
Sebelumnya, Trump juga pernah mengisyaratkan kemungkinan “pengambilalihan” Kuba, baik secara damai maupun tidak.
Hal ini terjadi di tengah kondisi ekonomi Kuba yang sedang mengalami tekanan berat.
Baca juga: Trump Tunda Serangan ke Aset Energi Iran, Beri Waktu Baru hingga 6 April 2026
Krisis ekonomi tersebut dipicu oleh gangguan pasokan minyak serta sanksi yang semakin memperburuk kondisi dalam negeri.
Setelah perubahan kekuasaan di Venezuela, pasokan energi ke Kuba juga semakin terganggu, memperparah krisis yang ada.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel bahkan mengakui bahwa pemerintahnya tengah melakukan pembicaraan dengan Washington untuk menghindari potensi konflik militer.
Di sisi lain, Trump juga menggunakan forum tersebut untuk mengkritik sekutu NATO yang dinilainya kurang memberikan dukungan dalam berbagai konflik internasional.
Ia mempertanyakan komitmen Amerika Serikat terhadap aliansi tersebut jika tidak ada dukungan timbal balik dari negara-negara anggotanya.
Selain itu, Trump juga menyinggung ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi pusat perhatian dunia karena perannya dalam pasokan energi global.
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump semakin tidak terduga.
Dengan konflik global yang sudah memanas, wacana keterlibatan terhadap Kuba berpotensi memperluas ketegangan dan memicu ketidakstabilan baru di kawasan internasional.
Baca juga: Iran Sindir Trump “Negosiasi dengan Diri Sendiri”, Serangan ke Pangkalan AS Makin Memanas