Houthi Ikut Perang, Serang Israel dan Picu Ancaman Lonjakan Harga Minyak Global
Muhammad Hadi March 29, 2026 02:03 AM

Houthi Ikut Perang, Serang Israel dan Picu Ancaman Lonjakan Harga Minyak Global

SERAMBINEWS.COM- Kelompok Houthi di Yaman resmi ikut terlibat dalam konflik regional yang semakin memanas dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel.

Aksi ini terjadi di tengah perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang kini berpotensi meluas dan berdampak besar terhadap ekonomi global.

Serangan tersebut diklaim langsung oleh kelompok Houthi melalui siaran di televisi Al-Masirah, yang menyebut mereka menembakkan rentetan rudal balistik ke target militer sensitif di Israel selatan.

Kelompok yang didukung Iran ini sebelumnya telah memberi sinyal akan bergabung dalam konflik hanya beberapa jam sebelum serangan dilakukan.

Baca juga: Trump Kesal ke Sekutu, NATO Disebut Tak Lakukan Apa pun Hadapi Iran

Mereka menyatakan akan terus melanjutkan operasi militer hingga apa yang disebut sebagai “agresi terhadap semua front perlawanan” dihentikan.

Tidak hanya menyerang Israel, Houthi juga mengancam akan kembali menargetkan jalur perdagangan global di Laut Merah.

Ancaman terbesar adalah kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur vital yang dilalui sekitar 10 persen distribusi minyak dunia.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa sangat besar bagi rantai pasok energi global.

Situasi semakin rumit karena sebelumnya telah terjadi ketegangan di Selat Hormuz, yang juga merupakan titik penting distribusi energi internasional.

Baca juga: Donald Trump Mau Ganti Nama Selat Hormuz Menjadi ‘Selat Amerika’ atau ‘Selat Trump’, Apa Alasannya?

Penutupan atau gangguan di dua jalur ini sekaligus dapat menyebabkan krisis pasokan minyak dalam skala besar.

Sebagai alternatif, beberapa negara seperti Arab Saudi meningkatkan kapasitas ekspor melalui pelabuhan Yanbu guna menghindari jalur konflik.

Namun, jika ancaman Houthi terhadap Bab al-Mandeb benar-benar terjadi, kapal tanker minyak bisa terpaksa menghindari Terusan Suez.

Hal ini akan memaksa kapal mengambil rute lebih panjang melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang tentu meningkatkan biaya dan waktu distribusi.

Para analis memperkirakan gangguan ini bisa mengurangi pasokan minyak global hingga jutaan barel per hari.

Baca juga: VIDEO - Kesal Minim Dukungan, Trump Ejek Kapal Induk Inggris: “Seperti Mainan”

Harga minyak dunia pun berpotensi melonjak dari kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel menjadi sekitar 150 dolar AS per barel.

Dampaknya akan langsung dirasakan oleh banyak negara, termasuk Inggris, yang menghadapi risiko kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup.

Pemerintah Inggris sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam dampak, seperti memperpanjang pemotongan pajak bahan bakar dan memberikan bantuan bagi rumah tangga.

Baca juga: Trump Tunda Serangan ke Aset Energi Iran, Beri Waktu Baru hingga 6 April 2026

Namun, tekanan ekonomi diperkirakan tetap akan meningkat jika konflik terus berlanjut dan jalur energi terganggu.

Situasi ini menunjukkan bahwa keterlibatan Houthi tidak hanya berdampak pada konflik militer, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global secara luas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.