Tanpa Nama dan Spanduk, Albizar Beri Jasa Servis Jam di Tengah Kemajuan Teknologi
Pangkan Banama Putra Bangel March 29, 2026 01:05 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Di balik etalase kecil berisi jam tangan, Albizar (40) duduk tenang di bawah lapak sederhana tanpa nama di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Yos Sudarso, Minggu (29/3/2026).

Selain rutin setiap Minggu pagi, ia juga membuka lapak di kawasan Kereng Bangkirai.

Tanpa spanduk maupun promosi, ia tetap setia menunggu pelanggan yang datang membawa jam untuk diperbaiki.

Baca juga: Berawal dari Pesanan Teman, Kini Fuadi Punya Puluhan Produk Benang Bintik Khas Kalteng

Baca juga: Update Daftar Korban Kebakaran Tongkang di Tanah Mas Kotim, Satu Orang Meninggal Dunia

Baca juga: Jadwal TV Gratis Tornado FC Vs PSS Sleman, Super Elja Pertahankan Puncak Klasemen Timur

Setiap Minggu pagi, Albizar membuka lapaknya di lokasi tersebut.

Selain itu, ia juga sesekali berjualan di pasar malam dan beberapa titik lain di kota Palangka Raya.

Usaha servis jam tersebut telah ia jalani sejak 2014.

Berbekal kemampuan otodidak, Albizar membuka jasa perbaikan mulai dari ganti baterai, tali, hingga perbaikan mesin jam.

“Ini usaha sendiri, belajar sendiri juga,” ujarnya.

Untuk perbaikan ringan seperti ganti baterai, prosesnya bisa ditunggu. Namun, untuk kerusakan yang lebih berat, pengerjaan bisa memakan waktu hingga seharian.

Meski telah lebih dari satu dekade menjalani usaha, Albizar mengaku kondisi saat ini tidak sebaik saat awal merintis.

Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi tantangan tersendiri.

“Kebanyakan sekarang kalau rusak, orang langsung beli baru,” ujarnya.

Ia menilai kemudahan belanja online membuat masyarakat lebih memilih mengganti jam dibanding memperbaikinya. Dampaknya pun terasa pada pendapatan. 

Dalam sehari, penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jumlah pelanggan yang datang.

Harga servis yang ditawarkan relatif terjangkau.

Untuk ganti baterai, misalnya, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp65 ribu tergantung jenisnya.

Sementara untuk penggantian tali jam berkisar Rp25 ribu hingga Rp45 ribu.

Albizar menyebut, sebagian besar pelanggan datang untuk perbaikan ringan seperti ganti baterai.

Rata-rata jam yang diservis merupakan jam dengan harga di bawah Rp200 ribu.

Meski begitu, ia juga pernah menerima servis jam dengan harga hingga jutaan rupiah.

Namun, menurutnya, tidak sedikit pelanggan yang terkejut dengan biaya perbaikan.

“Mereka kira servis di sini lebih murah, padahal tetap menyesuaikan tingkat kerusakan. Kadang malah kaget,” ujarnya.

Berbeda dengan pelaku usaha lain, Albizar tidak memiliki nama usaha, nomor telepon yang dapat dihubungi, maupun media promosi.

Ia mengandalkan pelanggan yang datang langsung atau informasi dari mulut ke mulut.

“Kalau di sini-sini saja biasanya orang sudah tahu,” katanya.

Ia pun memilih menetap di titik yang sama agar pelanggan tidak kesulitan mencarinya.

“Kalau pindah-pindah takutnya pelanggan hilang,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap bertahan menjalankan usahanya di tengah perubahan zaman.

Ia mengaku tidak memiliki strategi khusus selain terus bekerja dan melayani pelanggan yang datang.

“Dijalani saja,” ucapnya.

Ke depan, Albizar berharap usahanya bisa berkembang lebih baik.

Ia ingin memiliki tempat usaha sendiri agar lebih nyaman dalam bekerja sekaligus lebih mudah dijangkau pelanggan.

“Pengennya punya toko sendiri, semoga ke depan lebih banyak yang datang,” ujarnya.

Di tengah gempuran belanja online, lapak sederhana tanpa nama yang rutin hadir setiap Minggu pagi di CFD itu menjadi gambaran bagaimana usaha kecil tetap bertahan dengan mengandalkan keterampilan dan kepercayaan pelanggan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.