BANJARMASINPOST.CO.ID - Artis Vincent Verhaag merasakan perubahan drastis dalam kehidupannya setelah menikahi Jessica Iskandar.
Kini, kebiasaan lamanya perlahan ditinggalkan demi keluarga dan Jessica Iskandar.
Vincent mengaku pernah melalui masa kerap menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Namun, sejak resmi meminang Jessica Iskandar pada Oktober 2021 lalu, transformasi hidup Vincent berubah drastis.
Kini, pria berdarah Belanda itu telah menjelma menjadi bapak tiga anak.
Dari pernikahannya dengan Jedar, Vincent dikaruniai dua putra, Don Azaiah Jan Verhaag dan si bungsu Hagia Sophia, serta menjadi ayah sambung bagi El Barack Alexander.
Vincent pun menceritakan bagaimana prioritas hidupnya berputar 180 derajat demi keluarga kecilnya itu.
Baca juga: Potret Kompak Irish Bella bareng 2 Anak Sambung, Putri Bungsu Haldy Sabri Dipeluk Erat
Meski statusnya kini sudah menjadi kepala rumah tangga, Vincent mengaku masih kerap "nongkrong". Bedanya, kini suasana dan topik pembicaraannya kini sudah jauh berbeda dari masa lajangnya dulu.
"Masih nongkrong, cuman nongkrongnya berbeda. Nongkrongnya bareng ama mama-mama," kata Vincent Verhaag ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Tak lagi membahas dunia hiburan malam, Vincent kini justru fasih membicarakan kebutuhan perlengkapan bayi dengan sesama orang tua.
"Bukan di klub, tapi di ya tempat-tempat kayak ginilah ya kan, hobi-hobi cantik bahas 'Kamu pakai popok apa? Oh aku pakai popok ini. Oh kamu pakai susu formula apa? Oh aku ini. Ih lucu baju ceweknya' kayak gitu sih," sambungnya.
Bukan tidak bisa kembali ke gaya hidup lama, namun Vincent dan Jedar mengaku enggan untuk pulang pagi. Bukan karena tidak ada waktu, melainkan karena mereka membayangkan betapa beratnya mengurus tiga anak dalam kondisi kurang tidur.
"Sebenarnya bisa-bisa aja, cuma aku udah di tahap sama istri juga udah di tahap besoknya itu kalau bangun kalau kurang fit kurang tidur terus harus ngeladenin tiga anak tuh oh my god itu kayak kepala mau pecah," jelas Vincent.
Ia pun menggambarkan betapa riuhnya pagi hari di kediaman mereka yang tak mungkin dihadapi dengan kondisi badan yang tidak fit.
"Mama mama, Papa Papa, Mam ini udah beres belum yang. 'Ah my God'. Jadi kita ah udahlah belum. Kan fase," tambahnya lagi.
Bagi Vincent, keputusannya untuk membatasi aktivitas keluar malam adalah bentuk komitmen karena anak-anaknya saat ini membutuhkan perhatian penuh.
"Mungkin ini mungkin di fase stay home ngurusin anak-anak. Anak-anak udah mulai gede dikit, stay home mama papa keluar dulu. Kita mau minum cantik dulu. Jadi ada fase-fasenya," ucap bintang film Emmy itu.
Sebagai ayah, ia juga berprinsip untuk tidak membeda-bedakan kasih sayang dan fasilitas bagi ketiga buah hatinya. Ia ingin semua anaknya merasakan kehadiran orang tua secara utuh di masa pertumbuhan mereka.
"Apa yang El kemarin dapet, itu yang akan juga didapatkan oleh adik-adiknya juga. Jadi nggak ada yang anak pertama beruntung atau anak yang tengah begini, no. All my children the same," pungkasnya.
Pernah merasa pasangan berubah setelah menikah? Ia yang dulunya lembut kini jadi mudah marah, atau ia yang dulu penuh perhatian kini terasa dingin.
Perubahan ini kerap membuat sebagian orang bertanya-tanya, apakah benar orang berubah setelah menikah, atau justru pernikahan yang menyibak sisi lain dari dirinya?
Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog menjelaskan, perubahan yang terjadi setelah menikah sebenarnya bukan semata-mata karena seseorang benar-benar berubah, melainkan karena konteks hubungan dan peran yang dijalani juga ikut bergeser.
Fokus hubungan yang berubah setelah menikah
Menurut Ayu, dinamika hubungan ketika pacaran dan setelah menikah sangatlah berbeda.
Saat masih pacaran, fokus hubungan cenderung berada pada hal-hal yang menyenangkan dan emosional.
“Sebab, konteks dan perannya itu berubah. Kalau masih pacaran, hubungannya mungkin fokusnya ke sisi yang senangnya saja ya. Memang ada sisi emosionalnya, tapi mungkin senangnya yang lebih dominan,” kata Ayu kepada Kompas.com, Selasa (4/11/2025).
Selama berpacaran, pasangan biasanya masih berusaha menampilkan sisi terbaik masing-masing.
Hubungan pun sering diwarnai oleh momen-momen romantis yang minim tekanan atau tanggung jawab besar.
Namun, kondisi tersebut berubah ketika dua individu mulai hidup bersama dalam ikatan pernikahan.
Tanggung jawab baru setelah menikah
Pernikahan membawa konsekuensi baru yang tidak ringan. Ayu menilai, setelah menikah seseorang akan berhadapan dengan berbagai tanggung jawab dan tantangan yang jauh lebih realistis.
“Ketika sudah menikah, muncul tanggung jawab baru yang lebih realistis. Misalnya, mengelola rumah tangga, pembagian peran domestik,” ujarnya.
Ia menambahkan, hal-hal yang tidak pernah muncul saat pacaran kini menjadi bagian dari keseharian pasangan suami istri.
Mulai dari urusan finansial, hubungan dengan keluarga besar, hingga pembagian tugas rumah tangga. Semua hal tersebut menuntut komunikasi, kompromi, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.
“Belum lagi hubungan dengan keluarga besar, finansial, dan sebagainya. Jadinya banyak hal yang harus diurus dibandingkan waktu masih pacaran,” tambah Ayu.
Sisi lain pasangan baru terlihat setelah menikah
Banyak orang baru benar-benar mengenal pasangannya setelah menikah. Perubahan sikap tersebut membuat banyak orang beranggapan bahwa pasangannya adalah sosok yang berbeda.
Hal ini, lanjut Ayu, bukan karena pasangan berubah, melainkan karena situasi baru dalam pernikahan memunculkan sisi-sisi lain dari kepribadian yang sebelumnya belum terlihat.
“Di titik ini banyak orang baru melihat sisi lain dari pasangannya. Gimana mereka bereaksi ketika adanya konflik, cara mereka membuat keputusan, dan seberapa fleksibel pasangan ini menyesuaikan diri,” jelas Ayu.
Dalam kondisi penuh tekanan dan tanggung jawab, seseorang mungkin menunjukkan reaksi atau pola perilaku yang berbeda dari masa pacaran.
Misalnya, seseorang yang dulu tampak sabar bisa menjadi lebih tegas ketika harus mengatur keuangan, atau pasangan yang dulu selalu menurut kini lebih sering berdebat karena ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Bukan berubah, tapi terlihat lebih nyata
Ayu menekankan, perubahan yang sering dianggap terjadi setelah menikah sejatinya merupakan hasil dari dinamika baru yang muncul dalam kehidupan pernikahan.
“Bukan orangnya yang berubah, tapi situasi inilah yang membuka sisi-sisi baru yang mungkin saja dulu belum pernah terlihat ketika masih pacaran, dan baru terlihat setelah menikah,” jelasnya.
Pernikahan menjadi wadah yang membuat seseorang berhadapan dengan realitas kehidupan bersama.
Dari sinilah muncul pemahaman yang lebih dalam tentang siapa pasangan kita sebenarnya, bukan versi ideal yang tampak saat masih pacaran, melainkan versi nyata yang menghadapi kehidupan sehari-hari.
Kematangan emosional jadi kunci
Perubahan dalam pernikahan adalah hal wajar. Ayu mengungkap, hal terpenting adalah bagaimana pasangan saling memahami dan menyesuaikan diri dengan peran baru yang mereka jalani.
Dengan komunikasi yang terbuka, empati, dan kematangan emosional, pasangan dapat melewati masa transisi dari pacaran ke kehidupan pernikahan dengan lebih sehat dan realistis.
(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)