Jumlah Kebakaran di Tanjungpinang Tiga Bulan Sejak Januari 2026 Tembus 131 Kasus, Karhutla Terbanyak
Septyan Mulia Rohman March 29, 2026 07:37 PM

TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Sebanyak 131 kasus kebakaran terjadi di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Data kebakaran itu didapatkan dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tanjungpinang.

Jumlah kebakaran tersebut terjadi sejak Januari hingga Maret 2026.

Kebakaran didominasi hutan dan lahan (karhutla) sementara kebakaran gedung hanya sedikit saja. 

Kepala Dinas Damkar Tanjungpinang, Juliadi Halomoan menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan penghitungan luas lahan yang terbakar selama tiga bulan terakhir.

“Kami sedang hitung luas lahan yang terbakar," kata Juliadi, Minggu (29/3/2026).

Kondisi musim kemarau yang disertai keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemadaman.

Tak hanya itu, sejumlah hidran yang tidak berfungsi turut memperparah kondisi di lapangan.

“Mau tak mau, kami harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh, yaitu Sungai Pulai,” akunya. 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Damkar berharap sekitar 25 unit hidran dapat kembali difungsikan melalui koordinasi dengan pihak PDAM.

Selain itu, pihaknya juga berencana membuat sumur bor serta tandon air di sejumlah titik rawan kebakaran.

“Kondisi kemarau saat ini, seperti di Sungai Kawal yang kering, kita perlu menyiapkan alternatif sumber air seperti sumur bor dan tandon di lokasi rawan karhutla,” bebernya. 

Saat ini, Damkar Tanjungpinang memiliki enam unit armada pemadam dengan rincian dua unit berkapasitas 6 ton, serta empat unit berkapasitas 3 hingga 4 ton.

Ditambah satu unit armada rescue. Namun, dari sisi personel masih tergolong kurang.

“Idealnya satu pos itu 18 orang, sementara total anggota kita saat ini hanya 60 orang. Masih kurang sekitar 12 sampai 15 personel,” kata dia.

Sebagian besar kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas masyarakat, seperti membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah tanpa pengawasan.

“Ditambah kondisi angin, api kecil bisa cepat membesar,” katanya.

Adapun wilayah yang kerap terjadi kebakaran lahan di antaranya Dompak, Senggarang, dan Tanjungpinang Timur, dengan frekuensi kejadian bisa mencapai dua kali dalam setahun.

Dia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami mengimbau agar tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan," ucapnya. 

Kondisi rumput kering sangat mudah terbakar. Jika terjadi kebakaran, segera laporkan ke petugas pemadam untuk tindaklanjuti.

Seorang warga Tanjungpinang, Abu mengaku kondisi Karhutla saat ini sudah cukup memprihatinkan. 

"Hampir setiap hari terjadi kebakaran di Tanjungpinang dan Bintan. Maunya pelaku pembakaran diberi hukuman agar jadi efek jera," kata Abu.

Dia menyampaikan, kebakaran hutan di Tanjungpinang pada umumnya sengaja di bakar orang yang tidak bertanggungjawab.

"Ini PR buat penegak hukum untuk mengatasi dan ungkap kebiasaan masyarakat membakar hutan di Pulau Bintan," pesannya.  (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.