Iran Hancurkan Pesawat Komando Amerika Serikat di Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi
Feryanto Hadi March 29, 2026 09:15 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM--  Iran berhasil menghancuRkan pesawat Boeing E-3 Sentry dan sejumlah tanker terbang dalam serangan ke Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi pada Jumat (27/3/2026) 

Selain membuat belasan prajurit Amerika terluka, The Wall Street Journal dan Bloomberg melaporkan bahwa serangan tersebut membuat satu unit Boeing E-3 Sentry dan tiga KC-135 stratotanker AS hancur

 Pada 21 Februari, ada enam Boeing E-3 Sentry dan 13 Boeing KC-135 di Pangkalan Pangeran Sultan pada 21 Februari 2026. 

Kala itu, menurut analis citra satelit William Goodhind, AS menempatkan total 29 pesawat bersayap lebar di sana.

Dilansir dari Kompas.id, foto yang beredar di media sosial menunjukkan puing E-3 Sentry milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan Arab Saudi selepas serangan Iran pada 27 Maret 2026. Media Inggris, The Telegraph, dan media khusus pertahanan, Air & Space Forces, memverifikasi gambar itu.

 Dalam laporan Air & Space Forces, salah satu E-3 Sentry di pangkalan itu bernomor ekor 81-0005.

Nomor ekornya menunjukkan pesawat itu mulai beroperasi pada 1981.

”Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa pentingnya pesawat-pesawat pengatur pertempuran ini untuk segala hal,” kata Heather Penney, mantan pilot F-16 yang kini menjadi Direktur Kajian pada Mitchell Institute for Aerospace Studies.

E-3, kata Penney, adalah salah satu sistem peringatan dan intai di udara (AWACS). Pilot jet tempur membutuhkan AWACS untuk memberi gambaran palagan perang yang dihadapinya. ”Mereka seperti dalang, kami (pilot jet tempur) pionnya,” katanya.

 E-3 adalah otak terbang operasi udara Amerika.

Kubah radarnya yang berputar melacak ancaman dari permukaan hingga stratosfer hingga hampir 400 kilometer. E-3 mengoordinasikan setiap pesawat tempur, tanker, pengebom, dan pesawat intelijen di medan perang.

Kehilangan satu AWACS berarti kehilangan simpul komando yang tidak dapat diganti dengan harga berapa pun dan dalam jangka waktu berapa lama pun.

E-3 menggunakan badan B-707, pesawat jarak jauh dari Boeing. Selain AS, E-3 dipakai juga antara lain oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Arab Saudi, dan Chile.

Ciri khas E-3 adalah kubah radar (rotodome) di bagian atas pesawat. Dipasang dekat bagian belakang pesawat. Kecuali rotodome, tak ada yang membedakan E-3 dengan B-707 versi komersial.

Ketegangan memanas

Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan pada pekan kelima konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat.

Pernyataan keras dari Teheran yang menyebut kawasan tersebut berpotensi menjadi “kuburan bagi tentara Amerika” mempertegas eskalasi konflik yang kini tidak lagi sekadar retorika, melainkan telah menjelma dalam rangkaian aksi militer saling balas.

Ancaman tersebut disampaikan juru bicara Markas Pusat Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Sabtu (28/3/2026). 

Dalam pernyataannya, ia secara langsung menyasar Presiden Donald Trump dan jajaran militer Washington, menegaskan bahwa keberadaan pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah akan menghadapi konsekuensi besar.

Menurut Zolfaghari, dinamika konflik yang berkembang menunjukkan bahwa dominasi militer Amerika Serikat tidak lagi menjadi faktor penentu di kawasan yang sarat konflik tersebut.

Ia bahkan menyatakan bahwa pasukan Amerika tidak akan memiliki pilihan selain “menyerah kepada kehendak rakyat” jika konfrontasi terus berlanjut.

Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan militer yang dilancarkan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Tel Aviv mengeluarkan ancaman untuk memperluas operasi militernya terhadap Teheran, menandai peningkatan signifikan dalam konflik yang selama ini berlangsung secara bayangan.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke sebuah pangkalan militer di Arab Saudi.

Serangan itu dilaporkan melukai lebih dari selusin personel militer Amerika Serikat serta menyebabkan kerusakan pada sejumlah pesawat militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar.

Insiden ini menjadi salah satu serangan paling langsung terhadap kepentingan militer Amerika di kawasan sejak konflik meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah memanasnya situasi, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang kontras dengan ancaman dari Teheran.

Ia menilai Iran berada dalam posisi tertekan dan membuka peluang terjadinya negosiasi antara kedua negara.

Trump menyebut bahwa Iran saat ini tengah “dihancurkan” oleh tekanan yang ada, sekaligus mengklaim bahwa proses perundingan sedang berlangsung. Ia juga menegaskan superioritas militer Amerika Serikat sebagai faktor utama dalam dinamika konflik tersebut.

Pernyataan yang saling bertolak belakang dari kedua pihak memperlihatkan jurang persepsi yang semakin lebar.

Di satu sisi, Iran menampilkan narasi perlawanan dan ketahanan, sementara di sisi lain Amerika Serikat menegaskan posisi dominan sekaligus membuka ruang diplomasi.

Situasi ini menempatkan Timur Tengah dalam posisi yang semakin rentan terhadap konflik berskala lebih luas.

Dengan keterlibatan aktor-aktor utama seperti Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta wilayah strategis seperti Arab Saudi, potensi meluasnya konflik ke negara-negara lain di kawasan menjadi ancaman nyata.

Pengamat menilai, tanpa adanya langkah deeskalasi yang konkret, konflik ini berisiko berkembang menjadi konfrontasi regional yang lebih besar, dengan dampak tidak hanya pada stabilitas keamanan, tetapi juga terhadap ekonomi global, terutama pasokan energi dari kawasan tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, dunia internasional dihadapkan pada pilihan sulit antara mendorong jalur diplomasi atau bersiap menghadapi konsekuensi dari konflik terbuka yang semakin tak terkendali.

Marinir AS dikerahkan

Bayang-bayang sepatu lars infanteri di atas tanah Iran kini bukan lagi sekadar retorika jauh.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah 3.500 pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-31 resmi mendarat di kawasan tersebut, Jumat (27/3/2026).

Dilansir dari laman aljazeera.com, pengerahan pasukan ini membawa pesan dingin dari Gedung Putih bahwa Amerika Serikat siap melangkah lebih jauh dari sekadar serangan udara.

Baca juga: Panglima AL IRGC Iran Tewas di Selat Hormuz, Rudal Teheran Sasar Abu Dhabi, Sersan Muda Israel Tewas

Bahkan Pentagon mengaku telah menyiapkan bahwa tentara militer AS siap bertempur di darat selama berminggu-minggu.

Kapal serbu amfibi USS Tripoli telah membuang sauh, membawa serta jet tempur serang dan aset taktis yang siap dikerahkan kapan saja.

Kedatangan mereka hanyalah gelombang pertama, karena ribuan prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 dilaporkan tengah bersiap menyusul ke medan lagayang kian membara, di tanah dan laut Iran.

Sementaara Iran mengaku sudah bersiap menyambut genderang perang tentara AS.

Menurut pejabat pertahanan Iran, pihaknya sudah menyiapkan tanah Iran sebagai kuburan tentara AS yang bahkan jenazahnya tidak mungkin di bawa kembali.

Antara 'Malapetaka' dan Meja Perundingan

Di balik pergerakan armada tempur ini, terdapat kontradiksi yang membingungkan dunia.

Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam akan "melepaskan malapetaka" (unleash cataclysm) jika Iran terus memblokir koridor maritim vital di Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana gangguan kecil saja dapat memicu kiamat ekonomi global.

Baca juga: Trump dan Starmer Rapat Darurat Bahas Selat Hormuz Tengah Malam, Hantam Ancaman Iran Mata Ganti Mata

Namun, di saat yang sama, Trump mengeklaim bahwa negosiasi sedang berlangsung dengan Iran untuk mengakhiri konflik.

"Iran harus menerima kekalahan," ancam Trump.

Ia memberikan pilihan pahit pada Iran, yakni antara menyerah pada tuntutan AS atau menghadapi kekuatan penuh militer Amerika.

Skenario Operasi Darat: Bukan Invasi Biasa

Laporan mendalam dari Washington Post mengungkap bahwa Pentagon tidak lagi hanya bermain di langit.

Para pejabat militer AS kini telah menyusun rencana operasi darat selama berminggu-minggu di dalam wilayah Iran.

Operasi ini disebut "tidak akan sampai pada invasi skala penuh" seperti perang Irak, melainkan serangan presisi oleh pasukan khusus dan infanteri konvensional untuk menguasai situs-situs militer serta fasilitas nuklir.

Nasib rencana ini kini berada sepenuhnya di tangan Trump, apakah ia akan menyetujui seluruh skenario, sebagian, atau justru membatalkannya di menit terakhir demi diplomasi.

Sisi Kemanusiaan: Prajurit yang Menanti Perintah

Di balik peta strategi dan koordinat target, ada ribuan nyawa yang kini berada di garis depan.

Bagi para marinir yang baru tiba, kepastian adalah kemewahan.

Di atas kapal-kapal perang yang panas, mereka menanti perintah yang bisa mengubah peta sejarah dunia dalam semalam.

Ketegangan ini bermula sejak Operasi Epic Fury dilancarkan pada akhir Februari lalu, yang telah menewaskan tokoh-tokoh kunci Iran dan memicu serangan balasan drone yang melukai ratusan tentara AS.

Hingga kini, lebih dari 300 tentara AS menderita cedera otak traumatis (TBI), sebuah fakta yang menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar dalam konflik ini.


 
 

  
 
 
  
 
 
 
\

 
  
 
 
  
 
\

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.