TRIBUNNEWS.COM - Di balik semangkuk soto yang sederhana, terdapat proses panjang yang menentukan kualitas rasa.
Hal ini sangat dijaga oleh Soto Winong Mas Bagong, yang menghadirkan cita rasa khas dengan pendekatan tradisional.
Salah satu ciri paling menonjol dari soto di tempat ini adalah cara penyajiannya yang selalu panas.
Tidak menggunakan kompor gas, soto dipanaskan dengan arang, memberikan sensasi rasa yang lebih autentik.
“Yang membedakan, soto kami selalu disajikan panas dan dipanaskan pakai arang. Jadi rasanya lebih khas,” ujar Efraim Andhanny Chrisanto Soeyoedi, saat diwawancarai Tribunnews di Soto Winong Mas Bagong, Sabtu (28/3/2026).
Dari segi rasa, soto di sini dikenal memiliki karakter “berbumbu tapi tetap segar.”
Perpaduan ini menjadi daya tarik utama bagi pelanggan.
Bumbu yang digunakan sebenarnya mirip dengan soto Solo pada umumnya, seperti bawang, merica, dan ketumbar. Namun, kualitas bahan menjadi pembeda.
Untuk soto daging, digunakan daging sapi asli serta kaldu dari kaki sapi yang direbus sekitar satu jam.
Sementara soto ayam menggunakan ayam kampung asli, yang menghasilkan rasa lebih gurih.
“Kami pastikan semua bahan asli, baik daging sapi maupun ayam kampung. Itu yang membuat rasa lebih mantap,” jelasnya.
Baca juga: Kuliner Tradisional Masih Diminati, Semar Mendem Laris di CFD Solo
Menariknya, racikan bumbu untuk soto sapi dan soto ayam dibuat berbeda. Hal ini dilakukan untuk menciptakan karakter rasa yang unik di masing-masing menu.
Proses memasak juga dilakukan dengan standar yang ketat. Semua bumbu ditimbang dengan ukuran pasti untuk menjaga konsistensi rasa setiap hari.
“Takaran bumbu selalu kami timbang supaya rasanya tidak berubah. Jadi pelanggan bisa merasakan kualitas yang sama setiap datang,” katanya.
Menu andalan yang paling diminati adalah soto daging sapi. Meski demikian, soto ayam juga tetap memiliki pelanggan setia.
Dengan harga sekitar Rp7 ribu, warung ini berusaha menjangkau semua kalangan.
“Kami ingin semua orang bisa menikmati soto dengan harga terjangkau, tapi tetap berkualitas,” ungkap Efraim.
Alih-alih fokus pada inovasi menu, ia memilih menjaga kualitas rasa sebagai kekuatan utama. Baginya, kesederhanaan justru menjadi nilai lebih.
Di tengah kesibukan warung, sejumlah pembeli tampak menikmati hidangan mereka tanpa banyak komentar berlebihan. Salah satunya Bagus (31), yang mengaku sudah beberapa kali datang.
Ia mengaku merasakan langsung perpaduan rasa dan suasana yang ditawarkan.
Bagus menyebut, kuah soto yang disajikan memiliki cita rasa gurih dan segar, dengan bumbu yang terasa pas di lidah.
“Kuahnya enak, gurih tapi tidak terlalu berat. Dagingnya juga empuk, porsinya pas,” ujar Bagus.
Menurutnya, yang membuat pengalaman makan semakin berkesan bukan hanya dari rasa, tetapi juga suasana pedesaan yang jarang ditemui di kota.
“Makannya jadi lebih santai. Anginnya sejuk, suasananya tenang. Beda dengan makan di tempat biasa,” katanya.
Ia pun mengaku tertarik untuk kembali berkunjung, bahkan merekomendasikan Soto Winong Mas Bagong kepada teman-temannya.
Dengan perpaduan rasa yang konsisten dan suasana yang khas, warung ini menawarkan lebih dari sekadar makan, melainkan pengalaman yang membuat pelanggan ingin kembali.
(Tribunnews.com/Falza)