TRIBUNTRENDS.COM - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintah dalam mengupayakan kelancaran perjalanan dua kapal tanker milik Pertamina yang hingga kini masih bersandar di Teluk Arab.
Dukungan ini diberikan agar kedua kapal tersebut dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
PDIP menilai, hubungan baik yang selama ini terjalin dengan Pemerintah Iran bisa menjadi jalur strategis dalam mendukung langkah diplomasi Indonesia.
Harapannya, upaya tersebut mampu menjamin keamanan dua kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) itu saat melintasi jalur perairan yang tengah menjadi sorotan dunia.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyampaikan hal ini saat menjawab pertanyaan awak media terkait kemungkinan peran partainya dalam membantu lobi ke Pemerintah Iran.
Baca juga: Indonesia Dapat Izin Iran, 2 Kapal Tanker Pertamina Siap Lintasi Selat Hormuz, Pemerintah Amankan
“Tentu saja ini berkaitan dengan kepentingan Bangsa dan Negara. Jangan sampai terjadi krisis akibat (kelangkaan) energi,” ucap Hasto di kompleks Makam Bung Karno, Kota Blitar, Jawa Timur, Minggu (29/3/2026).
Kehadiran Hasto di Blitar sendiri dalam rangka mendampingi Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang melakukan ziarah ke makam ayahnya, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan bahwa meskipun PDIP saat ini tidak berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, partainya tetap mengedepankan kepentingan nasional.
“PDIP meskipun fungsinya sebagai penyeimbang tapi terkait dengan kepentingan Bangsa dan kepentingan masyarakat kami berikan uluran tangan terbaik dalam membantu persoalan tersebut,” ujar dia.
Keduanya belum dapat melanjutkan perjalanan menuju Indonesia karena situasi di Selat Hormuz dinilai belum cukup aman.
Ketegangan di kawasan tersebut dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional.
Meski demikian, kabar positif datang dari Pemerintah Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mawengkang, menyatakan bahwa pihak Iran telah memberikan respons yang baik terkait jaminan keamanan bagi kedua kapal tersebut.
"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran, yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," tutur Yvonne.
Baca juga: Iran Belum Izinkan Kapal Tanker Pertamina Lewat Selat Hormuz, Kecewa ke Indonesia, Ini 4 Penyebabnya
Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut berdampak pada aktivitas pelayaran internasional, termasuk bagi Indonesia.
Dua kapal milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Arab karena belum dapat melintasi jalur strategis Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia pun bergerak cepat menjalin komunikasi dengan Iran untuk mencari solusi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mawengkang, menyampaikan bahwa Indonesia bersama pemerintah Iran tengah membahas aspek teknis dan operasional terkait kapal yang masih tertahan.
Ia mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua negara menunjukkan respons positif dari pihak Iran.
“Yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” kata Yvonne, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Harapan Baru dari Iran, Kapal Pertamina Siap Tembus Selat Hormuz, Kemlu: Lakukan Koordinasi Intensif
Lebih lanjut, Yvonne menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar RI di Teheran terus melakukan koordinasi intensif sejak awal kejadian.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan perkembangan status kapal dapat segera menemukan titik terang.
“Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Tehran sejak awal terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait di Iran,” imbuhnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran telah menetapkan sejumlah persyaratan bagi kapal-kapal asing yang ingin melintasi Selat Hormuz.
Ketentuan tersebut disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri Iran kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan berlaku bagi kapal yang dianggap tidak bermusuhan (non-hostile).
Adapun dua syarat utama yang ditekankan adalah:
Kapal harus menyatakan penolakan terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran
Tidak terlibat dalam bentuk partisipasi apa pun dalam serangan tersebut
Persyaratan ini dinilai cukup ketat mengingat posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.
Diketahui, dua kapal milik Pertamina yang masih berada di Teluk Arab adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Keduanya belum dapat melanjutkan pelayaran karena harus menunggu kejelasan terkait pemenuhan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak Iran.
Baca juga: Beda Nasib! Kapal Malaysia Diizinkan Iran Lewat Selat Hormuz, Kapal Pertamina Masih Terkatung-katung
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana ketegangan geopolitik dapat berdampak langsung pada sektor energi dan logistik global. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, terutama untuk distribusi minyak.
Karena itu, setiap kebijakan yang diberlakukan di kawasan tersebut memiliki implikasi luas, termasuk bagi negara-negara yang bergantung pada distribusi energi melalui jalur tersebut.
Dengan adanya komunikasi intensif antara Indonesia dan Iran, diharapkan solusi teknis dapat segera disepakati agar kapal-kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.
Pemerintah Indonesia pun terus memantau perkembangan situasi guna memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di tengah dinamika global yang kompleks.
(TribunTrends/Kompas/Kompas)